Wamentrans Sampaikan Empat Amanat Presiden Prabowo Terkait Program Transmigran

Tahun ini, total peserta program transmigrasi mencapai 1.394 orang, yang terdiri dari transmigrasi lokal dan antarwilayah.

Diterbitkan 02 November 2025, 08:09 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi menyampaikan empat amanat Presiden Prabowo Subianto terkait arah kebijakan baru program transmigrasi di Indonesia. Hal itu ia sampaikan dalam acara Pelatihan Calon Transmigran Penduduk Setempat (TPS) Angkatan IV dan V Tahun 2025, yang diikuti 75 peserta dari daerah Poso dan Sidrap di BBPPMT Yogyakarta, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (1/11/2025).

Dalam kesempatan tersebut, Viva Yoga menegaskan bahwa program transmigrasi di era pemerintahan Presiden Prabowo tidak hanya sekadar perpindahan penduduk melainkan strategi besar untuk memperkuat keutuhan NKRI, mengentaskan kemiskinan, menumbuhkan semangat kebangkitan nasional, dan menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.

“Kementerian Transmigrasi melakukan perpindahan penduduk ke daerah yang longgar, salah satunya adalah dalam menjaga integrasi nasional,” ujar Viva.

Tahun ini, total peserta program transmigrasi mencapai 1.394 orang, yang terdiri dari transmigrasi lokal dan antarwilayah. Mereka berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat, Banten, Lampung, dan DKI Jakarta. Menariknya, Lampung yang dahulu dikenal sebagai daerah tujuan transmigrasi, kini justru menjadi salah satu daerah pengirim calon transmigran. Hal tersebut merupakan perubahan yang baik dan menunjukkan adanya dinamika sosial yang luar biasa.

Empat Amanat Presiden Prabowo

Amanat yang pertama, Presiden Prabowo menegaskan akan pentingnya program transmigrasi yang merupakan salah satu upaya dalam menjaga keutuhan NKRI. Dengan memindahkan penduduk ke wilayah yang jarang penghuninya, negara memastikan tidak ada wilayah atau lahan kosong yang berpotensi akan disalahgunakan oleh pihak lain.

“Karena dengan berpindahnya penduduk dari yang padat ke daerah yang longgar, akan menempati tanah-tanah yang kosong, ruang-ruang yang sepi, agar tidak ada penetrasi, tidak ada intervensi dari buah yang bisa mengambil alih tanah dan air Indonesia. Jadi Kementerian Transmigrasi melakukan perpindahan penduduk ke daerah yang longgar, salah satunya adalah dalam menjaga integrasi nasional,” jelas Viva.

Dia menekankan bahwa perpindahan penduduk dalam program transmigrasi ini, akan terjadi proses akulturasi budaya, asimilasi perbedaan suku, agama, ras, budaya bisa berdekat, bahkan bisa ada akulturasi, ada hal-hal yang baru dari perbatuan budaya-budaya yang ada sehingga orang juga tidak asing lagi.

Amanat Presiden Prabowo yang kedua, yaitu program transmigrasi bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan. Dalam hal ini, setiap keluarga transmigran nantinya akan memperoleh lahan seluas satu hingga dua hektar untuk digarap dan dikelola menjadi sumber ekonomi produktif. Karena dengan memulihkan lahan kepada calon-calon transmigrasi, satu hingga dua hektar, merupakan bagian dari reforma agraria.

Melalui program transmigrasi ini, negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan rakyatnya mengalami peningkatan hasil serta pendapatan.

“Diharapkan Bapak-Ibu menjadikan tanah bukan sekedar tempat hidup, tempat pemukiman, tapi menjadikan tanah sebagai sumber ekonomi untuk perubahan hasil. Apalagi kita banyak jatuh, jatuh hidup selama satu tahun, satu tahun setengah, masih ada, maksimal satu setengah tahun,” Jelas Viva.

Amanat yang ketiga, Viva mengatakan banyak kawasan transmigrasi yang sekarang tumbuh menjadi lumbung pangan nasional, khususnya sentra produksi beras. Situasi ini menunjukkan bahwa transmigrasi berperan penting dalam mendorong kebangkitan ekonomi masyarakat di berbagai daerah.

“saya mendapatkan sebuah kenyataan bahwa sebagian besar kawasan transmigrasi itu menjadi lumbung pangan nasional, khususnya sentral produksi beras. Jadi Kementerian Transmigrasi harus berkontribusi untuk membangun suasana kebangkitan,” kata Viva.

Amanat yang keempat Presiden Prabowo menekankan pentingnya menjadikan transmigrasi sebagai pemicu munculnya pusat-pusat ekonomi yang baru. Karena ketika ada orang bersedia, otomatis akan ada gerakan ekonomi, yang membuat daerah-daerah yang sepi dan kosong, itu akan berkembang. Berkembang menjadi sebuah daerah baru yang produktif.

“Sekarang ini dari pemerintahan Presiden Soekarno sampai Presiden Bapak, program transmigrasi telah melahirkan desa penduduk sebanyak 1.567 desa, 466 kecamatan, 116 kabupaten kota, dan tiga provinsi, Yaitu Provinsi Kalimantan Utara, Sulawesi Barat, dan Provinsi Papua Selatan,” ungkap Viva.

Ia menegaskan, daerah yang dahulu sepi, berkat keberadaan warga transmigran kini berkembang menjadi kawasan produktif.

Lima Anggota TNI Ikut Serta dalam Program Transmigrasi

Dalam rangkaian pelatihan calon transmigrasi kali ini juga diikuti oleh lima anggota TNI aktif, termasuk Danramil Poso. Hal ini disebut Viva sebagai salah satu bentuk semangat baru dalam menjaga kebersamaan dan keamanan di kawasan transmigrasi.

“Hari ini ada lima anggota TNI aktif, termasuk Danramil Poso, yang ikut menjadi peserta calon transmigran. Kami apresiasi dan cukup terkejut,” kata Viva.

Menurutnya, keikutsertaan anggota TNI tersebut dapat memperkuat solidaritas antara transmigran dan masyarakat lokal sekaligus menjaga wilayah NKRI.

Transmigrasi untuk Pemerataan dan Kemandirian

Kementerian Transmigrasi dalam periode 2025-2029 akan menargetkan 154 kawasan transmigrasi. Kawasan ini nantinya bukan hanya berfokus pada pembangunan pemukiman baru, melainkan juga memberdayakan masyarakat lokal agar tumbuh bersama.

“Melalui program transmigrasi, selain untuk pemerataan pembangunan dan distribusi penduduk, juga mendorong distribusi ekonomi, peningkatan pendapatan masyarakat, serta menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan transmigrasi,” jelas Viva.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6