Dedikasi Terakhir Anggit, Mahasiswa IPB yang Gugur di Tanah Papua

Anggit Bimo Wicaksana, mahasiswa IPB, gugur saat menjadi bagian dalam menjalankan tugas Ekspedisi Patriot.

Diterbitkan 23 Oktober 2025, 05:52 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Suasana duka menyambut kedatangan almarhum Anggit Bimo Wicaksono di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (22/10/2025). Pesawat yang membawanya dari Fakfak, Provinsi Papua Barat mendarat pukul 08.50 WIB, didampingi oleh Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara untuk diantar ke rumah duka di kawasan Bintaro.

Anggit Bimo Wicaksana, mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), gugur saat menjadi bagian dalam menjalankan tugas Ekspedisi Patriot, salah satu program yang digagas oleh Kementerian Transmigrasi.

Wakil Rektor 3, Bidang Riset, Inovasi, dan Pengembangan Agromaritim, Ernan Rustiadi menyampaikan bahwa almarhum merupakan bagian dari 228 mahasiswa dan alumni IPB yang terlibat dalam program nasional tersebut.

“Saudara Anggit adalah salah seorang yang terpanggil, beliau anak Jakarta dari Bintaro dan sangat bersemangat untuk terpanggil untuk ikut melaksanakan tugas di Kabupaten Fakfak, Papua Barat jadi sudah 2 bulan di sana,” ujar Ernan saat menunggu kedatangan almarhum Anggit di Bandara Halim Perdanakusuma, Rabu (22/10/2025).

Anggit menjabat sebagai koordinator kelompok riset yang terdiri dari empat orang. Ernan juga menjelaskan kronologi kecelakaan yang dialami oleh Anggit saat melaksanakan tugas. Anggit mengalami kecelakaan sepeda motor bersama satu orang teman laki-laki dalam kondisi cuaca hujan.

“Jadi satu grup itu empat orang dan saudara Anggit itu adalah koordinatornya dan mungkin karena cuaca, dua orang perempuan diminta untuk tinggal di tempat, yang bersangkutan bersama seorang teman laki-lakinya akhirnya yang bertugas lah berkunjung. Tetapi tampaknya cuaca hujan dan mengalami kecelakaan. begitu ceritanya,” terang Hernan.

Dalam keteranganya, diketahui anggit sedang mengendarai motor bersama rekannya, Andra. Keduanya berada di satu tikungan ketika kendaraan yang mereka gunakan mendadak tergelincir akibat rem mendadak. Saat itu, motor yang mereka kendarai terpeleset, Anggit bersama rekannya terpental ke dua arah yang berbeda. Setelah terpental, dari arah berlawanan melintas truk pengangkut sawit yang diduga terlibat dalam insiden tersebut.

“Jadi Anggit itu yang pegang kendaraan, boncengan lalu yang Andra namanya ya Andra itu dua-duanya kelihatannya ada di satu tikungan. Katanya terus terpeleset, rem mendadak, terpeleset dan terpental ke dua arah yang berbeda tapi Anggit ke kanan terus yang dibonceng terlempar ke kiri. Setelah terlempar ke kanan, katanya ada truk sawit dari arah berlawanan,” Jelas Erenan.

Andra, rekan Anggit yang ikut dalam insiden tersebut selamat dan kini menjadi saksi utama dalam penyelidikan kepolisian.

Selanjutnya, Ernan juga menjelaskan bahwa seluruh peserta program Ekspedisi Patriot, termasuk almarhum Anggit telah terdaftar dalam asuransi yang disediakan oleh pihak penyelenggara. Saat ini, proses administrasi asuransi masih berjalan, mengingat kegiatan tersebut merupakan bagian dari tugas negara dibawah tanggung jawab Kementerian Transmigrasi.

Wakil Rektor 3 IPB itu mengapresiasi penanganan seluruh proses pemulangan jenazah yang dilakukan langsung oleh Kementerian Transmigrasi. Iftitah Sulaiman, turun tangan dalam proses penjemputan dan pemulangan jenazah almarhum Anggit.

“Pak Mentri luar biasa kemarin memutuskan untuk terbang langsung ke Sorong, ke Fakfak untuk menjemput langsung. Karena beliau merasa ini tanggung jawab negara, dan ditangani sepenuhnya sampai saat ini oleh Kementerian Transmigrasi. Dan tadi malam beliau tiba sekitar pukul 22.00 WIB dan dini hari langsung kembali lagi membawa jenazah,” tuturnya.

Anggit merupakan mahasiswa tingkat akhir IPB, Program Studi Manajemen Sumberdaya Lahan, sedang menyusun tugas akhir skripsi dan akan melakukan sidang kelulusan sepulangnya dari tugas ekspedisi. Namun takdir berkata lain.

Sementara itu, Ernan menyampaikan bahwa pihak kampus akan segera berkoordinasi dengan rektor untuk menentukan bentuk penghormatan yang layak diberikan kepada almarhum Anggit Bimo Wicaksana. Ernan menilai, Anggit merupakan sosok mahasiswa berprestasi yang penuh dedikasi, baik dalam kegiatan akademik maupun kemahasiswaan.

“Insha Allah kami akan memberikan yang penghormatan terbaik karena kami menganggap, karena kami mendengar dia adalah ketua kelompok dan dia selalu paling depan dan merasa paling bertanggung jawab terhadap tugas-tugasnya,” tutup dia.

Reporter magang: Fatimah Azzahra

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6