Pakar Kesehatan Jelaskan Bahaya Air Hujan Mengandung Mikroplastik di Jakarta: Jantung Hingga Stroke

Hujan yang mengguyur wilayah Jakarta ternyata mengandung partikel mikroplastik. Temuan ini disampaikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Diterbitkan 22 Oktober 2025, 13:11 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta- Hujan yang mengguyur wilayah Jakarta ternyata mengandung partikel mikroplastik. Temuan ini disampaikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Pakar Kesehatan Masyarakat, dr. Ngabila Salama menegaskan, keberadaan mikroplastik dalam hujan dapat berdampak serius terhadap kesehatan. Tak hanya efek jangka pendek, paparan mikroplastik juga membawa risiko jangka panjang yang tak bisa diabaikan.

Dalam jangka pendek, mikroplastik yang terhirup bisa menyebabkan iritasi saluran pernapasan.

"Gejalanya bisa berupa batuk, sesak napas, hingga peradangan pada paru-paru akibat stres oksidatif," jelas Ngabila kepada Liputan6.com, Rabu (22/10/2025).

Tak hanya itu, mikroplastik yang tertelan melalui makanan atau minuman juga bisa mengganggu sistem pencernaan, memicu iritasi pada usus, hingga mengganggu keseimbangan flora usus.

Ancaman lainnya adalah potensi gangguan hormon. Mikroplastik dapat membawa zat kimia tambahan atau polutan lingkungan yang dapat masuk ke dalam tubuh dan memengaruhi sistem hormon, meski secara sementara.

"Bisa menyebabkan gangguan hormon sementara atau penyerapan racun pembawa plastik juga," ucap Ngabila.

Dampak Jangka Panjang

Tak hanya berdampak langsung, mikroplastik yang tersebar di lingkungan, termasuk dalam hujan menyimpan bahaya jangka panjang bagi tubuh manusia. Paparan terus-menerus bisa merusak jaringan dan organ vital.

Dalam sejumlah studi, mikroplastik yang ditemukan dalam jaringan manusia memicu inflamasi kronis dan merusak sel-sel sehat.

Ngabila menjelaskan bahwa ancaman ini tidak berhenti di sana. Penelitian terbaru menunjukkan adanya kemungkinan hubungan antara mikroplastik dalam plak arteri dengan peningkatan risiko serangan jantung dan stroke.

"Studi terkini menunjukkan kemungkinan hubungan antara keberadaan mikroplastik dalam plak arteri dan peningkatan risiko serangan jantung atau stroke," jelas Ngabila.

Mikroplastik juga membawa risiko gangguan hormon dan reproduksi. Zat kimia seperti BPA dan ftalat yang menempel pada mikroplastik dapat mengganggu sistem hormonal, menurunkan kesuburan, menghambat perkembangan janin, bahkan menyebabkan berat lahir rendah.

Dampak yang lebih serius juga mencakup potensi genotoksisitas, kerusakan pada DNA dan aktivitas gen yang bisa meningkatkan risiko kanker. Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa partikel mikroplastik dapat menimbulkan stres oksidatif dan mutasi genetik.

Ngabila juga menyebut kemungkinan gangguan metabolik dan imunologis, termasuk pada anak dan janin.

“Mikroplastik dapat menembus aliran darah ibu dan ditemukan di plasenta. Ini menimbulkan kekhawatiran akan dampak jangka panjang terhadap perkembangan anak,” jelasnya.

Asal Muasal Mikroplastik pada Hujan di Jakarta

Peneliti BRIN Muhammad Reza Cordova melakukan penelitian terhadap hujan di Jakarta sejak 2022. Hasil penelitian menunjukkan adanya mikroplastik dalam setiap sampel air hujan, yang terbentuk dari degradasi limbah plastik melayang di udara akibat aktivitas manusia.

"Mikroplastik ini berasal dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan dan ban, sisa pembakaran sampah plastik, serta degradasi plastik di ruang terbuka," kata Peneliti BRIN Muhammad Reza Cordova.

Dia memaparkan mikroplastik yang ditemukan umumnya berbentuk serat sintetis dan fragmen kecil plastik, terutama polimer seperti poliester, nilon, polietilena, polipropilena, hingga polibutadiena dari ban kendaraan.

Rata-rata, lanjut dia, peneliti menemukan sekitar 15 partikel mikroplastik per meter persegi per hari pada sampel hujan di kawasan pesisir Jakarta.

Menurut Reza, fenomena ini terjadi karena siklus plastik kini telah menjangkau atmosfer. Mikroplastik dapat terangkat ke udara melalui debu jalanan, asap pembakaran, dan aktivitas industri, kemudian terbawa angin dan turun kembali bersama hujan, yang dikenal dengan istilah atmospheric microplastic deposition.

"Siklus plastik tidak berhenti di laut. Ia naik ke langit, berkeliling bersama angin, lalu turun lagi ke bumi lewat hujan," ujarnya.

Reza menilai temuan ini menimbulkan kekhawatiran karena partikel mikroplastik berukuran sangat kecil, bahkan lebih halus dari debu biasa, sehingga dapat terhirup manusia atau masuk ke tubuh melalui air dan makanan.

"Yang beracun bukan air hujannya, tetapi partikel mikroplastik di dalamnya karena mengandung bahan kimia aditif atau menyerap polutan lain," lanjut dia menegaskan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6