Liputan6.com, Jakarta - Siang di Jalan Pos Pengumben, Kebon Jeruk, terasa berbeda sejak sepekan terakhir. Asap kendaraan bercampur debu proyek memenuhi udara, menempel di kaca toko dan dagangan pedagang kaki lima di sepanjang jalan.
Di tengah riuh mesin pemadat tanah dan suara alat berat, Syafrizal (43) berdiri di depan pos keamanan sebuah ruko. "Berisik enggak, tapi debunya lumayan tebal. Apalagi pas siang,” katanya sambil mengibaskan debu di seragamnya, Selasa (14/10/2025).
Advertisement
Syafrizal adalah salah satu dari puluhan warga dan pekerja di kawasan itu yang kini harus berdamai dengan proyek pembangunan saluran air (drainase) yang sedang digarap Pemerintah Kota Jakarta Barat. Tiap sore, ia harus mengatur kendaraan yang berhenti di depan ruko tempatnya berjaga, sementara antrean kendaraan mengular di satu-satunya lajur yang tersisa.
“Kalau pagi enggak terlalu macet karena ramainya ke arah seberang. Tapi kalau sore, apalagi jam pulang kerja, macetnya luar biasa. Apalagi galiannya besar,” ujarnya.
Satu Jalur, Seribu Klakson
Proyek drainase yang tengah dikerjakan itu membentang sekitar 150 meter, mulai dari pertigaan Jalan Pos Pengumben Dalam hingga depan SDN Kelapa Dua 06. Lokasinya berada di sisi jalan dari arah Kebayoran Lama menuju Joglo.
Akibatnya, sebagian badan jalan tertutup alat berat dan tumpukan tanah galian, menyisakan hanya satu lajur bagi kendaraan yang melintas.
Pada jam sibuk sore hari, deru motor, mobil, dan suara klakson saling bersahutan, menciptakan orkestra khas Jakarta yang menandai kesabaran warga kota sedang diuji.
"Anak-anak sekolah juga agak susah nyebrang sekarang. Jadi harus sabar, soalnya kalau enggak, bisa kena cipratan lumpur,” kata seorang pedagang minuman yang berjualan tak jauh dari lokasi proyek.
Antara Macet dan Banjir
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5349914/original/068510600_1757941175-Kemacetan_TB_Simatupang-1.jpg)
Di balik keluhan warga, proyek ini sebenarnya berangkat dari kebutuhan mendesak. Kepala Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Barat, Purwanti Suryandari, menjelaskan bahwa kawasan Pos Pengumben termasuk daerah yang kerap dilanda genangan ketika hujan turun.
“Daerah genangan, sebagian belum ada saluran,” kata Purwanti.
Menurutnya, drainase lama di kawasan tersebut tidak cukup menampung debit air saat hujan deras. Akibatnya, air kerap meluap hingga ke permukaan jalan, menghambat lalu lintas dan mengganggu aktivitas warga.
“Pembangunan ini penting karena banjir di kawasan itu sering dikeluhkan masyarakat melalui aplikasi cepat respons masyarakat (CRM),” ujar Purwanti.
Ia menambahkan, proyek tersebut sudah melalui pembahasan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) serta reses anggota DPRD, dan ditargetkan rampung pada pertengahan Desember 2025. “Baru dimulai. Pelaksanaannya sampai 15 Desember 2025,” ucapnya.
Advertisement
Menunggu Hasil di Tengah Debu
Di sisi lain, bagi warga seperti Syafrizal, proyek drainase ini ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, mereka berharap banjir tak lagi mengganggu ketika musim hujan datang. Namun di sisi lain, rutinitas sehari-hari harus disesuaikan dengan kondisi jalan yang sempit dan berdebu.
“Ya, kita maklum aja lah, namanya juga pembangunan,” ujarnya sambil tersenyum.
Selama beberapa bulan ke depan, Jalan Pos Pengumben akan tetap berisik oleh suara alat berat. Namun di balik hiruk pikuk itu, terselip harapan sederhana, ketika galian tertutup dan debu reda, air hujan tak lagi menggenang, dan warga bisa bernapas lebih lega.
Karena bagi warga kota, pembangunan bukan hanya tentang beton dan pipa, tapi tentang bagaimana setiap proyek bisa mengembalikan kenyamanan hidup yang sempat terganggu.
"Kalau bisa, debunya disiram dulu tiap pagi, biar enggak ngganggu banget," Syafrizal menandaskan.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4041868/original/082487100_1654314707-ganjil_genap.jpg)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2559129/original/026504800_1546249540-vietnam.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8805424/original/032384700_1782904857-Cek_fakta_-_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5490270/original/075910100_1770004204-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-02T104539.335.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8627383/original/048072800_1782622786-153948.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5381031/original/063434200_1760446206-Jepretan_Layar_2025-10-13_pukul_19.39.31.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261500/original/047650500_1781713643-bosnia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263358/original/034169000_1781903942-063_2282397014.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578725/original/075292300_1782537284-063_2283517529.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8860259/original/052842500_1782927734-063_2284210517.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8566533/original/022742400_1782517134-senegal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8857137/original/028052200_1782926603-000_B8XV4GC.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8853200/original/078672700_1782925162-063_2284202015.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261515/original/075937400_1781733992-IMG-20260618-WA0000.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578726/original/087210500_1782537285-063_2283517405.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4937793/original/094395600_1725589798-AP24249749330750.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261539/original/051141200_1781743137-IMG-20260618-WA0008.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264054/original/059677500_1782070488-Spain_s_Mikel_Oyarzabal_celebrates_with_teammate_Lamine_Yamal.jpg)