Banyu Mudal, Fenomena Alam Unik di Tengah Sawah Kota Depok

Banyu mudal merupakan fenomena alam yang terjadi di Kota Depok. Air yang keluar dari perut bumi bercampur minyak dan belerang.

Diterbitkan 07 Oktober 2025, 20:32 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Banyu Mudal atau memiliki arti air meletup atau bergolak, muncul di Kampung Panggulan, Kelurahan Pengasinan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok. Rasa penasaran menyelimuti Liputan6.com, untuk mengetahui lebih dalam tentang Banyu Mudal yang mengeluarkan bau belerang dan minyak.

Liputan6.com mendatangi lokasi Banyu Mudal yang berada tidak jauh dari Jalan Raya Panggulan. Hanya beberapa langkah, dengan mudah menemukan lokasi Banyu Mudal yang berdekatan dengan hamparan sawah dan empang atau kolam ikan.

Terdapat dua kolam besar yang jaraknya tidak berjauhan dari kolam pertama atau biasa disebut kolam laki-laki, dengan kolam kedua untuk perempuan. Jarak antara kedua kolam tersebut hanya dipisahkan jejak jalan setapak dan parit yang berada di hamparan sawah dan kolam ikan.

Madhari warga setempat berusia 57 tahun menceritakan tentang Banyu Mudal yang diketahuinya.

“Banyu Mudal ketahuannya pas tahun 1945, itu dari zaman kolonial Belanda udah ada banyak mudal atau air bergolak lah,” ujar Madhari, Selasa (7/10/2025).

Waktu Madhari beranjak dewasa, masih teringat betul di lokasi Banyu Mudal saat ini, banyak mudal yang dapat ditemukan di area persawahan. Dahulunya, lokasi persawahan banyak ditanami padi yang menjadi lahan pencarian warga.

“Waktu itu banyak di sebelah-sebelahnya kan masih sawah tuh, sawah masih pohon padi, itu anak-anaknya (Banyu Mudal) banyak. Bahkan sampai di parit-parit yang di pinggir masjid itu kalau hujan banyak yang kecil-kecil (letupan air),” terang Madhari sambil mengingat masa lalu.

Madhari sempat menghitung mudal yang diperkirakan mencapai puluhan, baik mudal besar maupun kecil. Hal itu berdasarkan dari penglihatannya apabila pasca hujan dan parit saluran air persawahan.

“Sekarang ada dua (besar), sama yang anak-anaknya ada tuh di empang-empang yang pelihara ikan,” ucap Madhari.

Pria kelahiran 1968 selalu mencium bau belerang yang berasal dari Banyu Mudal. Bahkan, lokasi Banyu Mudal sempat dilakukan penelitian oleh pemerintah.

“Penelitiannya kalau tidak salah sekitar 1975 sampai 1980-an,” kata pria yang bekerja di Kelurahan Pengasinan.

Hasil dari uji pengeboran minyak, didapati kadar minyak Banyu Mudal belum mencapai standar. Adapun usia kadar minyak Banyu Mudal tidak mencukupi 30 tahun sehingga tidak dilanjutkan.

“Kan pernah tahun berapa itu pernah diuji coba untuk pengeboran minyak, cuman standarnya tidak mencukupi 30 tahun, jadinya enggak dilanjut, udah pernah itu,” ungkap pria telah memiliki keluarga.

Di sisi lain, Banyu Mudal memiliki keunikan tersendiri sehingga menarik perhatian masyarakat. Dipercaya, Banyu Mudal mampu menyembuhkan penyakit kulit.

“Nah itu kebanyakan orang-orang yang jauh tuh, terutama yang banyak kan orang-orang mata sipit, itu mandi disitu (Banyu Mudal) karena kan belerang, Jadi yang gatal-gatal bisa sembuh,” kata Madhari.

Banyu Mudal yang dulunya berada di persawahan dan mengundang banyak orang yang datang, sempat dibuatkan penutup untuk warga yang ingin mandi.

“Iya orang-orang jauh aja, mungkin mitos kepercayaan ada kan gitu, kalau orang-orang sekitar atau dekat mah jarang mandi di situ,” terang Madhari.

Madhari masih ingat betul, lokasi Banyu Mudal banyak didatangi warga sudah terjadi sejak 1990 sampai 2000-an. Di lokasi itu terdapat penjaga atau bisa disebut Kuncen untuk mendampingi warga yang ingin mandi.

“Kadang-kadang kan itu dibikin kurungan tuh sama penjaga disitu, namanya Bapak Suid kuncennya lah,” ucap Madhari.

Masyarakat yang ingin mandi di Banyu Mudal, dahulunya kerap membawa kembang dan uang logam sebanyak syarat. Nantinya uang logam yang dibawa, dilempar ke area dalam kolam Banyu Mudal yang berwarna keruh, atau kolam laki-laki.

“Yang di (kolam) laki yang butek, kalau (kolam) perempuan jarang dijamah. Ya kan yang butek itu lebih manjur, karena dia belerangnya, baunya lebih menyengat,” ungkap Madhari.

Ada kejadian unik yang masih diingatnya sampai sekarang tentang Banyu Mudal. Pada sekitar 1970 sampai 1980-an saat terjadi kemarau panjang, lokasi sawah di wilayah Sawangan maupun pengasinan mengalami kekeringan, namun berbeda dengan lokasi di sekitar Banyu Mudal.

“Dulu paman saya bilang, tahun 70 sampai tahun 80-an terjadi kemarau berapa bulan tuh ya. Tapi itu gak pernah surut (Banyu Mudal), kemarau segitu lamanya yang lain-lain udah pada meledak-meledak (retakan tanah) sekeliling-keliling sawahnya, tapi dia tetap ada airnya itu, gak pernah surut,” jelas Madhari.

Madhari bertutur, pernah suata ketika pamannya mencoba menggali lumpur Banyu Mudal yang memiliki kedalaman sekitar dua meter. Saat menggali lumpur, paman Madhari menemukan banyaknya uang logam.

“Paman saya dapat koin zaman kuno dimasukkan dalam kaleng ya, masih uang-uang gobangan, koin yang (tengahnya) bolong itu, dimasukkan dalam kaleng Khong Guan (dikumpulkan) sampai banyak dulu, uang-uang kuno zaman Belanda mungkin,” ujar Madhari.

“Sekarang Banyu Mudal tidak seperti dulu, sekarang udah sepi dikunjungi orang,” kata Madhari.

Madhari menduga, berkurangnya orang yang datang karena seiring perubahan kehidupan dan kepercayaan. Selain itu, lokasi Banyu Mudal sudah tidak terawat karena banyak ditumbuhi tanaman liar dan sudah tidak ada penutup di lokasi Banyu Mudal.

“Karena tempatnya enggak dirapihin yang jaga, karena yang jaga sudah tua, udah enggak ngoret-ngoret tanaman liar di sebelahnya,” pungkas Madhari.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6