Liputan6.com, Jakarta Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, menilai Indonesia perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pertahanan nasional di tengah dinamika geopolitik global yang terus berubah.
Ia menegaskan, peringkat Indonesia sebagai kekuatan militer terkuat di ASEAN dan ke-13 dunia versi Global Firepower bukan alasan untuk berpuas diri.
"Jawabannya tentu bukan soal puas dan tidak puas. Tetapi yang kita perlukan adalah menganalisis kembali, apakah sistem pertahanan dan jalan kita menuju Minimum Essential Force (MEF) sudah on the track,” kata Said dalam keterangan tertulisnya, Senin (6/10/2025).
Advertisement
Sistem Pertahanan Semesta Cocok di Era Modern
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5323476/original/049797600_1755769828-283385bd-1f27-4aa8-83c1-2a4e49a98708.jpeg)
Said menjelaskan, doktrin pertahanan yang diterapkan Presiden Prabowo Subianto tetap berlandaskan sistem pertahanan semesta yang dirumuskan Jenderal A.H. Nasution dalam buku Pokok-Pokok Gerilya. Doktrin tersebut menekankan partisipasi seluruh rakyat dan sumber daya nasional dalam pertahanan negara.
"Sifat dari sistem pertahanan semesta melibatkan seluruh rakyat dan sumber daya nasional. TNI dan Polri adalah kekuatan utama, yang ditopang oleh rakyat terlatih dalam bela negara,” ujar politisi PDI Perjuangan itu.
Menurut Said, sistem ini masih relevan di era modern karena ancaman terhadap negara tidak lagi hanya berbentuk perang konvensional. Tetapi juga perang politik, ekonomi, budaya, hingga siber.
Dalam konteks ini, menurut Said, peran masyarakat profesional dan tenaga ahli harus diintegrasikan dengan kekuatan TNI dan Polri.
"Perang modern tidak hanya di medan tempur, tetapi juga di ranah nonkonvensional. Karena itu, dibutuhkan dukungan rakyat terlatih dan profesional di bidangnya masing-masing," lanjutnya.
Dorong Pemenuhan MEF dan Penguatan Industri PertahananSaid menilai, pemenuhan Minimum Essential Force (MEF) penting untuk memastikan kemampuan dasar pertahanan nasional berjalan optimal. Upaya tersebut, katanya, membutuhkan dukungan dari sisi organisasi, industri pertahanan, anggaran, dan profesionalitas prajurit.
Advertisement
Puji Kinerja Prabowo Sejak Jabat Menhan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5291792/original/074483700_1753194112-IMG_0371.jpeg)
Ia memaparkan, sejak menjabat sebagai Menteri Pertahanan, Presiden Prabowo telah memperluas struktur organisasi militer secara signifikan, termasuk pembentukan enam Kodam baru, 14 Komando Daerah Angkatan Laut, dan tiga Komando Daerah Angkatan Udara.
“Selain itu juga telah dibentuk satu Komando Operasi Udara, enam grup Komando Pasukan Khusus, 20 Brigade Teritorial, satu Brigade Infanteri Marinir, serta satu Resimen Korps Pasukan Gerak Cepat,” jelas Said.
Dari sisi industri, Said mengapresiasi kemajuan industri pertahanan nasional seperti PT PAL, PT Pindad, dan kerja sama pengembangan pesawat tempur generasi 4.5 KAI KF-21 Boramae dengan Korea Selatan. Namun, ia menyoroti lambatnya progres proyek tersebut.
“Industri pertahanan nasional kita sangat diperlukan untuk membangun kemandirian alat pertahanan. Tapi sayangnya, beberapa proyek masih berjalan lambat,” ungkapnya.
Dorong Kenaikan Anggaran Pertahanan dan Profesionalisme Prajurit
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5354005/original/043704300_1758188535-be0aa040-ee52-4be9-a614-1cdb90f95608.jpg)
Sebagai Ketua Banggar DPR, Said menegaskan akan selalu mendukung peningkatan anggaran pertahanan.
Namun, ia mengakui keterbatasan fiskal masih menjadi tantangan dalam mempercepat pencapaian MEF. Menurut data Defend Budget Rank 2025 yang di rilis oleh Global Firepower menempatkan Indonesia di urutan 29, di bawah Singapura di urutan 26.
“Jika dibandingkan dengan kebutuhan anggaran negara-negara maju dengan kekuatan militer canggih, alokasi anggaran pertahanan kita masih rendah,” ujar Said.
“Tentu ini belum ideal mendukung MEF, karena keterbatasan fiskal kita. Kedepan kita perkuat kebutuhan anggaran pertahanan, sejalan dengan upaya penyehatan fiskal,” imbuhnya.
Selain itu, Said menegaskan profesionalitas prajurit TNI menjadi pondasi utama kekuatan pertahanan nasional. Ia menekankan pentingnya netralitas TNI dari politik praktis dan peningkatan kompetensi individu prajurit.
“Profesional TNI juga berarti prajurit TNI mampu memenuhi kecakapan mengemban tugas pertahanan. Secara individual, prajurit TNI memiliki kemampuan tempur terlatih, disiplin, loyal dan setia pada janji sapta marga,” tegasnya.
Advertisement
TNI Tumbuh Gagah Berani
Menutup pernyataannya, Said mengucapkan selamat HUT ke-80 untuk Tentara Nasional Indonesia dan berharap TNI terus menjadi patriot bangsa yang gagah berani.
“Bravo, Dirgahayu TNI ke-80 tahun. Jadilah patriot bangsa gagah berani,” pungkas Said.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261063/original/026293200_1781677316-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-17T130056.370.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8682083/original/077005500_1782732215-dedi_mulyadi_-_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5495122/original/083308700_1770356146-Menteri_Keuangan__Menkeu__Purbaya_Yudhi_Sardewa-6_Februari_2026b.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5537107/original/075541100_1774410122-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-03-25T095300.861.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4922256/original/089491800_1724056933-WhatsApp_Image_2024-08-17_at_10.16.28.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3884479/original/ACg8ocJc_oid6J3VLtCVFHYL6ugvHZoO8rxNNMWPfM8krXX-0Ve03HZakQ%3Ds200.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263744/original/028849200_1781996788-AP26171656106233.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8309790/original/022314100_1782176318-000_B7XQ8ZR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8703035/original/020989500_1782776197-IMG-20260630-WA0006.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7814803/original/065180300_1780632434-raul-jimenez-meksiko-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8513569/original/057945500_1782437405-063_2283345869.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259216/original/078310400_1781491972-AP26165670492100.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8525155/original/017274300_1782455154-AP26176798846634.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8693587/original/054340800_1782757524-063_2283889620.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8692722/original/034513200_1782755867-000_B8PJ7CN.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263380/original/090952300_1781922466-AP26171045705794-Brasil_vs_Haiti.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5415752/original/060786800_1763419826-000_84BP8PA.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263965/original/063636200_1782038065-000_B7RD77E.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8408806/original/015333400_1782292112-WhatsApp_Image_2026-06-24_at_16.06.13.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5453610/original/007869400_1766482737-1a2f8c2a-8c24-4682-9524-a65d9f0750e8.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263859/original/026589000_1782024553-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263754/original/080237200_1782003697-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5735199/original/048787600_1778630516-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259125/original/067528600_1781465647-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7007072/original/067377900_1779778735-1000329743.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8134056/original/000780200_1780986058-SGV_8296.jpg)