Fakta di Balik Aksi Hacker Bjorka: Anak Yatim Piatu, Uang Puluhan Juta Dipakai buat Hidupi Keluarga

WFT alias Bjorka hanya seorang anak muda yang tak lulus SMK, lalu menekuni dunia komputer secara otodidak.

Diterbitkan 03 Oktober 2025, 12:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta WFT (22) atau yang dikenal dengan nama samaran hacker Bjorka ditangkap polisi. Hasil pemeriksaan sementara, dia sudah berselancar di forum dark web sejak lima tahun terakhir atau kisaran tahun 2020.

Kejahatan dilakukannya yakni menjual data-data penting yang diklaim berasal dari berbagai institusi dalam maupun luar negeri.

WFT menyebut dari aksinya itu dia meraup untuk keuntungan menggiurkan. Nilainya mencapai puluhan juta Rupiah. Uang itu dipakainya buat biaya kehidupan sehari-hari.

"Dari hasil tracing, dia gunakan untuk kebutuhan pribadi. Karena kan ternyata dia anak yatim piatu," kata Wakil Direktur Siber Polda Metro Jaya, AKBP Fian Yunus kepada wartawan, Jumat (3/10/2025).

Tidak cuma buat dirinya, WFT juga membagi uang yang dia dapat untuk menghidupi keluarga terdekat.

"Dia anak tunggal, tapi dia menghidupi semua keluarga-keluarga dekatnya," ucap dia.

Keuntungan Pasti Masih Dihitung

Tetapi, polisi belum bisa menghitung pasti uang yang dikantongi WFT. Dia hanya mengaku mendapatkan puluhan juta untuk sekali transaksi penjualan data, tergantung pembeli di dark web.

"Berapa uang yang didapatkan ini juga kita belum bisa mendapatkan fakta secara jelas. Tapi pengakuannya sekali dia menjual data itu kurang lebih nilainya puluhan juta. Jadi tergantung orang-orang yang membeli data yang dia jual, melalui dark forum," ucap dia.

Tak Lulus SMK

WFT bukan seorang sarjana atau ahli di bidang teknologi. Dia hanya seorang anak muda yang tak lulus SMK, lalu menekuni dunia komputer secara otodidak.

"Jadi yang bersangkutan ini bukan ahli it, hanya orang yang tidak lulus SMK. Namun sehari-hari secara otodidak dia selalu mempelajari IT, jadi dia mempelajari segala sesuatunya itu hanya dari IT dan melalui komunitas-komunitas media sosial," kata Fian, kemarin malam.

Dia menerangkan, aktivitas itu semua dijalankan dari rumah. Hari-harinya dihabiskan depan komputer, tanpa pekerjaan tetap.

Mengeruk Ilmu Cuan dari Dark Web

Sejak 2020, WFT mulai mengenal komunitas gelap di internet. Dari sana, pelan-pelan ia belajar cara mencari uang dengan memperdagangkan data pribadi. Di dark web maupun forum, ia menjual data-data yang diklaim berasal dari berbagai institusi dalam maupun luar negeri.

"Ya, sehari-hari dia tidak ada pekerjaan," ucap dia.

Jejak digitalnya pun berpindah-pindah, tapi tetap bisa dilacak. Polisi menemukan aktivitasnya di darkforum.st sejak Desember 2024. Waktu itu ia pakai nama Bjorka, lalu berganti jadi SkyWave, kemudian shinyhunter pada Maret 2025, dan terakhir Oposite6890 pada Agustus 2025. Fian menyebut, WFT bergerak sendirian.

"Baik, investigasi kami sementara dia melakukan perbuatan pidana ini sendiri, jadi bukan bersama dengan rekannya," ucap dia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6