Kecanduan Handphone, Remaja Indonesia Kesepian

Dari total 68 juta anak usia 10–24 tahun di Indonesia, 34 persen di antaranya hidup dalam kesepian akibat terlalu sering menggunakan handphone.

Diterbitkan 01 Oktober 2025, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta- Siti, seorang ibu rumah tangga di Bekasi, mengaku hatinya makin sering terasa kosong melihat perubahan drastis anak sulungnya, Fira (15). Dulu, Fira dikenal sebagai anak ceria, senang bermain sepeda keliling kompleks, aktif di pengajian remaja masjid, dan kerap mengobrol panjang dengan orang tuanya selepas sekolah.

Namun semuanya berubah sejak Fira mulai aktif bermain media sosial dan game online di handphonenya, terutama sejak pandemi Covid-19.

“Awalnya saya pikir itu wajar, karena belajar online. Tapi setelah sekolah sudah tatap muka, dia tetap saja nunduk terus di layar. Kalau ditegur, marah. Dia mulai susah tidur, makannya nggak teratur, dan bahkan jarang mandi,” ujar Siti.

Yang lebih membuatnya khawatir, Fira mulai menarik diri dari lingkungan sekitar. Dia enggan bersosialisasi, jarang ikut kegiatan sekolah, dan tak punya teman dekat yang nyata. Semuanya hanya teman virtual.

“Pernah saya tanya, ‘Kenapa sih nggak main ke rumah teman?’ Dia jawab, ‘Buat apa? Mereka juga sibuk main HP.’ Saya sedih dengarnya,” lanjutnya.

Siti menyadari anaknya kesepian, tapi tak tahu cara menolong. Dia pernah coba menyita handphone Fira untuk sementara. Namun justru anaknya menangis, mengurung diri di kamar, dan semakin murung.

“Anak saya kayak hilang di dunia nyata. Fisiknya di rumah, tapi jiwanya entah di mana,” katanya.

Kini, Siti berusaha mendekati anaknya secara perlahan. Dia ikut belajar memahami dunia digital, mengajak bicara tanpa menyalahkan, dan mencoba membangun rutinitas bersama di luar rumah tanpa gadget.

“Yang saya mau cuma satu, anak saya kembali. Bukan yang sibuk scrolling, kalau bisa yang masih bisa tertawa sambil ngobrol di meja makan.”

Fira adalah satu dari jutaan remaja Indonesia yang makin terisolasi karena kecanduan handphone. Di balik hiruk-pikuk dunia digital, banyak remaja merasa kesepian. Mereka punya teman, tapi kehilangan koneksi emosional dengan orang-orang terdekat.

34 Persen Remaja Kesepian

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga atau Kepala BKKBN, Wihaji mengungkap data yang mengkhawatirkan. Dari total 68 juta anak usia 10–24 tahun di Indonesia, 34 persen di antaranya hidup dalam kesepian akibat terlalu sering menggunakan handphone.

Wihaji menggambarkan kondisi miris di banyak keluarga saat ini. Anak tak lagi dekat dengan orang tua. Justru lebih dekat dengan handphone.

"Ada keluarga baru, handphone, ketika anak ngobrol dengan orang tua kadang tidak didengarkan,” katanya dalam acara Young Health Summit 2025 yang diikuti secara daring di Jakarta, Selasa (30/9/2025).

Lebih dari itu, satu dari empat remaja dilaporkan mengalami stres hingga berdampak pada kesehatan mental karena minimnya interaksi sosial. Kebiasaan makan bersama pun kini perlahan hilang. Masing-masing sibuk menatap layar, bukan saling bertukar cerita.

“Hati-hati, sekarang orang tua memegang handphone, handphone juga jadi teman kita makan. Saat makan bareng-bareng dengan keluarga, masing-masing memegang handphone sendiri-sendiri,” ujar dia.

Berdasarkan penelitian, rata-rata pelajar SMA menggunakan handphone selama 7–8 jam per hari. Akibatnya, banyak dari mereka lebih memilih mencari solusi hidup lewat internet daripada berbicara langsung dengan keluarga atau sahabat.

"Hati-hati, teknologi boleh berkembang, tapi jangan sampai teknologi mengatur otak kita,” ucapnya.

Sulit Bangun Relasi dan Komunikasi Buruk

Sosiolog Universitas Nasional (Unas), Sigit Rochadi mengungkapkan kekhawatirannya terhadap meningkatnya jumlah remaja yang kecanduan handphone. Menurutnya, dampak paling mencolok dari fenomena ini adalah timbulnya isolasi sosial yang membuat para remaja kesulitan berinteraksi dan membangun hubungan dengan lingkungan sekitar.

“Mereka menjadi sulit terintegrasi dengan kelompok. Karena terisolasi, mereka kehilangan kemampuan membangun kebersamaan. Akibatnya, komunikasi mereka jadi buruk, mudah emosi, mudah menghardik, karena kenyamanan psikologisnya terganggu,” ujar Sigit kepada Liputan6.com.

Dia menjelaskan bahwa remaja saat ini cenderung menarik diri, meskipun secara fisik mereka berada di tengah keramaian. Fokus pikiran dan emosi mereka lebih tertuju pada gambar dan video yang mereka konsumsi melalui layar handphone.

“Mereka lebih suka menyendiri. Bahkan ketika diajak bicara oleh orang di sekitar, kehadiran itu justru dianggap mengganggu,” tambahnya.

Tak hanya itu, Sigit menyebut kondisi ini bisa berkembang menjadi masalah yang lebih serius. Kecanduan gawai dapat menurunkan tingkat toleransi para remaja terhadap orang lain, termasuk dalam lingkungan keluarga dan pertemanan.

“Karena rendahnya toleransi, mereka jadi sulit bekerja sama, baik dengan teman selevel maupun dengan orang-orang di rumah. Lingkungan sosial dianggap sebagai penghalang kenyamanan pribadi,” tegasnya.

Picu Kekerasan dalam Keluarga

Menurut Sigit, gejolak mental akibat penggunaan gawai berlebihan paling banyak muncul di lingkungan rumah tangga.

"Mayoritas gangguan mental itu terjadi di dalam keluarga. Hubungan antara anggota keluarga menjadi tidak harmonis. Anak-anak sekarang bahkan tak segan melawan orang tua dan mengeluarkan kata-kata kasar," ujar Sigit.

Dia mencontohkan sejumlah kasus ekstrem yang terjadi akibat ketegangan dalam keluarga yang dipicu kecanduan handphone. Salah satunya, seorang anak yang tega membunuh ibunya karena gangguan mental yang dipicu oleh penggunaan ponsel secara berlebihan.

“Pernah ada kasus anak membunuh ibunya. Saat diperiksa polisi, diketahui dia mengalami gangguan mental karena kecanduan HP. Kasus seperti ini nyata, dan belum lama terjadi,” ungkapnya.

Tak hanya antar anak dan orang tua, Sigit juga menyoroti meningkatnya konflik dalam hubungan suami-istri yang juga dipengaruhi oleh penggunaan handphone. Dia menyebut, di kota-kota besar, penyebab tertinggi perceraian bukan lagi faktor ekonomi, melainkan media sosial dan penggunaan handphone yang berlebihan.

“Kalau di kota besar, perceraian tertinggi sekarang bukan karena ekonomi, tapi karena HP. Data-data itu ada. Mungkin di desa masih ekonomi, tapi di kota besar sudah beda,” pungkas Sigit.

Akar Masalah Kecanduan Handphone dan Solusinya

Sosiolog Unas lain, Nia Elvina mengungkap akar persoalan di balik maraknya remaja Indonesia yang merasa kesepian akibat kecanduan handphone. Menurutnya, persoalan ini tak bisa dilepaskan dari nilai-nilai sosial yang kini berkembang di masyarakat.

Berselancar di dunia maya lewat gadget telah dianggap hal yang lumrah, bahkan tak lagi dipertanyakan. Dalam kajian sosiologi, ini dikenal sebagai fenomena taken for granted.

Padahal, kata Nia, peran orang tua semestinya menjadi contoh utama dalam membentuk perilaku sosial anak. Namun kenyataannya, banyak orang tua juga tak bisa melepaskan diri dari layar gadget, hingga waktu bersama anak pun tergeser.

Akibatnya, anak tumbuh dengan pola interaksi yang minim dan meniru kebiasaan orang tuanya, berinteraksi lebih banyak dengan layar ketimbang dengan sesama manusia.

Tak hanya di rumah, sistem pendidikan pun turut memperkuat kecanduan digital ini. Kebijakan yang melegitimasi aktivitas layar sebagai bagian dari e-sport membuat remaja makin terisolasi dari kehidupan sosial nyata.

Nia mencontohkan kebijakan pemerintah China yang justru lebih tegas. Di sana, orang tua bisa dikenai sanksi jika anaknya terbukti mengalami kecanduan gadget.

Dia menegaskan, negara perlu hadir lewat regulasi yang membatasi akses informasi dan hiburan digital untuk remaja, sekaligus meninjau ulang kurikulum pendidikan agar lebih menekankan keseimbangan antara dunia digital dan realitas sosial.

"Jadi saya kira pendekatan yang paling efektif adalah dari negara yang membuat aturan akses terhadap konsumsi informasi atau hiburan dari dunia maya atau gadget," katanya.

Kombinasi kebijakan negara, peran keluarga, dan pendidikan yang tepat diharapkan mampu menyelamatkan generasi muda dari isolasi dan kesepian akibat teknologi.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6