Festival Seni Multatuli Banten, Disebut Gairahkan Perekonomian Lokal

Festival Seni Multatuli (FSM) 2025 di Rangkasbitung bukan hanya ajang perayaan seni dan budaya, tetapi juga membawa berkah ekonomi bagi masyarakat.

Diterbitkan 25 September 2025, 19:38 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • FSM 2025 meningkatkan ekonomi lokal, mengisi hotel dan menguntungkan pedagang.
  • Festival ini memperkuat kebudayaan lokal dan memberi ruang seniman Lebak.
  • FSM lahir untuk semangat pembebasan dan perjuangan, bukan mengultuskan Multatuli.

Liputan6.com, Jakarta Festival Seni Multatuli (FSM) 2025 yang telah digelar pada 19 sampai 21 September 2025 di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, tak hanya memanjakan publik dengan pertunjukan seni dan budaya, tetapi juga ikut menggairahkan roda perekonomian lokal.

Kepala Museum Multatuli, Ubaidillah Muchtar, mengatakan dampak ekonomi selama festival berlangsung sangat terasa.

"Tentu saja ada dampak ekonomi. Hotel-hotel penuh, penginapan terisi, pedagang berjualan selama tiga hari, penyedia peralatan dan makanan juga kebagian rezeki," kata dia dalam keterangannya, Kamis (25/9/2025).

Selain sektor perhotelan, UMKM juga merasakan dampak positif. Meski panitia hanya menyediakan 10 gerai resmi, pedagang di sekitar lokasi festival tetap ramai pembeli.

"Teman-teman UMKM yang jualan kaos, produk, alhamdulillah laku. Laporan dari mereka juga tertib," kata Ubaidillah.

Ia menambahkan, pengelola parkir pun turut diuntungkan. "Pengelola parkir senang karena ada kebijakan penghapusan retribusi dan pajak selama festival dari Bupati Lebak," katanya.

Perkuat Kebudayaan Lokal

Sebelumnya, Anggota Komisi X DPR dari Daerah Pemilihan Banten I, Bonnie Triyana, menegaskan komitmennya untuk terus memajukan kebudayaan di tanah kelahirannya Lebak dan Pandeglang.

Hal itu disampaikan Bonnie pada pembukaan Festival Seni Multatuli (FSM) 2025 yang berlangsung pada 19–21 September 2025 di Alun-alun Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, Jumat (19/9).

 Bonnie kembali mencoba mengingatkan tentang lahirnya Museum Multatuli pada tahun 2018.

Museum ini hadir sebagai respons terhadap kebutuhan ruang untuk menarasikan sejarah Lebak secara kreatif, bukan sekadar pembangunan yang ekstraktif.

"Ketika museum didirikan, saya dan Ibu Iti Octavia Jayabaya serta kawan-kawan sadar butuh magnet agar masyarakat ikut berpartisipasi. Dari situlah lahir Festival Seni Multatuli," kata dia seperti dilansir dari Antara.

"Bukan untuk mengultuskan Multatuli, melainkan mengangkat semangatnya, semangat pembebasan, antipenindasan, dan perjuangan rakyat kecil," tambah Bonnie.

FSM digelar di Museum Multatuli disebutnya sebagai bentuk upaya memberikan ruang kesenian kepada publik.

"Festival Seni Multatuli adalah ajang pertemuan seniman dan kolaborasi yang terjadi di sini bukan hanya memperkuat kebudayaan lokal, tapi juga memberi ruang agar karya dari Lebak bisa menembus panggung nasional, bahkan dunia," tambahnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6