Liputan6.com, Jakarta - Wabah campak di wilayah Sumenep, Jawa Timur, ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB). Tidak hanya menyebabkan ratusan anak demam dan ruam, 17 orang meninggal dunia akibat campak.
Pakar kesehatan yang juga dokter di RSUD Tamansari, dr Ngabila Salama, menduga wabah campak di Sumenep karena cakupan imunisasi di daerah itu tidak tinggi, merata, bermutu.
"Tinggi artinya cakupan imunisasi anak harus 95-100 persen. Ada 15 jenis imunisasi gratis dari pemerintah untuk bayi baru lahir, balita, anak SD, wanita usia subur," katanya saat berbincang dengan Liputan6.com, Rabu (27/8/2025).
Advertisement
Penyebab lainnya anak terkena campak karena vaksin saat balita hingga SD tidak lengkap. Diperparah dengan gizi yang kurang, lingkungan sanitasi rumah tidak bersih, serta ventilasi udara dan cahaya buruk.
Sudah Vaksin Lengkap Bisa Terkena Campak?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5325153/original/005255200_1755930672-campak_gejala.jpg)
Ngabila menambahkan, pada orang yang sudah mendapatkan vaksin lengkap, jarang sekali temuan terjangkit campak. Jika pun ada, karena faktor penyerta lainnya. Seperti imunnya sangat lemah akibat gizi bermasalah atau sanitasi di lingkungan tempat tinggal pasien buruk.
"Jarang sekali yang sudah imunisasi, bisa kena campak. Kalau pun iya, karena imunnya pasti rendah sekali karena gizi buruk atau sanitasi buruk," katanya.
Namun sejauh ini, mengacu data yang dia miliki. Temuan kasus campak di Jakarta dikarenakan anak tersebut belum pernah mendapatkan vaksin sama sekali atau vaksin tidak lengkap.
"Kalau dari data saya di DKI, anak sakit campak semua yang belum imunisasi campak sama sekali atau belum dapat lengkap sampai SD. Jadi baru 1 kali padahal harusnya 4 kali dapatnya," kata dia menjelaskan.
Advertisement
Campak Menular
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3224866/original/056906700_1598937654-20200901-Imunisasi-Campak-Anak-Sekolah-Dasar-DWI-2.jpg)
Ngabila menambahkan, penyakit campak dapat menular melalui udara. Penularannya bisa sampai ke belasan orang.
Itu sebabnya, ketika ada temuan kasus campak maka pasien harus segera diisolasi.
"Ya menular lewat udara, airborne dan droplet makanya harus diisolasi kalau ada yang sakit," katanya.
Tidak Ada Obat Khusus Atasi Campak
Sebelumnya, Komite Ahli Penyakit yang Dapat Dicegah Imunisasi, Prof Anggraini Alam, mengatakan, tidak ada obat khusus untuk mengatasi sakit campak. Umumnya, obat yang diberikan sesuai dengan gejala yang muncul.
"Bilamana demam kita berikan penurun demamnya, istirahatnya, makan minumnya supaya tidak dehidrasi dan obat-obatan lain untuk mengurangi tanda dan gejala yang tidak nyaman," katanya dalam webinar Kemenkes pada Selasa (26/8/2025).
Meski tidak ada obat khusus, untuk meningkatkan imun yang turun akibat virus campak, adalah dengan memberikan vitamin A dosis tinggi.
"Yang Alhamdulillah anak-anak kita, dapat di bulan Februari dan Agustus," ujarnya.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3267613/original/079814300_1602679710-Kejahatan_Siber.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471519/original/070085400_1782374653-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8519902/original/067689300_1782446978-Tugas__41_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262299/original/014349800_1781777647-Tugas__37_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3884479/original/ACg8ocJc_oid6J3VLtCVFHYL6ugvHZoO8rxNNMWPfM8krXX-0Ve03HZakQ%3Ds200.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2823408/original/068549400_1559806709-compako.jpg)


:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8620429/original/007432300_1782610876-000_B8JY7M2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8322679/original/008420700_1782191790-Amine_Gouiri.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8615608/original/002262500_1782601852-063_2283621934.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389880/original/043940700_1782270022-AP26174722689391.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8615223/original/052059800_1782601281-063_2283624238.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8392528/original/081634600_1782272943-000_B83Z88V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8553933/original/032729600_1782499706-uzbek_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8615333/original/040722200_1782601521-000_B8JQ6V9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540213/original/078998400_1774689981-AP26086742238879.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261027/original/025366000_1781675161-AP26168084988387.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261062/original/073105300_1781677236-063_2281989496.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5485457/original/070806700_1769507349-bgs_jkn.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8144207/original/009352100_1780996945-55322489703_f4223effd4_c.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4301837/original/002335600_1674614987-tomek-baginski-EI3lexoBY60-unsplash_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5411293/original/086765200_1763010317-pregnant-woman-with-baby-shoes.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3225987/original/098481400_1599023065-Imunisasi-Campak5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5529198/original/048081600_1773311046-vaksin_campak.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5299507/original/054605100_1753842252-c86f471a-703b-49ed-bf9f-ea0e7d99f788.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5421680/original/029124600_1763956067-Vaksinasi_ibu_hamil.jpg)