Kemenkes Ungkap Penyebab Ribuan Warga Sumenep Kena Campak hingga 17 Orang Meninggal

Kemenkes memaparkan sejumlah faktor mengapa KLB campak terjadi di Sumenep. Menurut Kemenkes, rendahnya cakupan imunisasi menjadi penyebab utama.

Diperbarui 23 Agustus 2025, 12:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta- Sumenep dilanda Kejadian Luar Biasa (KLB) campak. Hingga minggu ke-32 tahun 2025, tercatat 1.944 kasus suspect campak dengan lebih dari separuh (53,3%) penderita adalah balita usia 0-4 tahun.

Lebih memprihatinkan lagi, terdapat 17 anak yang meninggal dunia akibat campak. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat, mayoritas tidak memiliki riwayat imunisasi campak.

“Sebagian besar kasus kematian terjadi pada anak yang tidak pernah diimunisasi. Ini menunjukkan betapa pentingnya imunisasi sebagai perlindungan dasar,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman dalam keterangan tertulis, diterima Sabtu (23/8/2025).

Lima Penyebab KLB Campak di Sumenep

Aji juga memaparkan sejumlah faktor mengapa kasus ini bisa terjadi. Menurut Aji, rendahnya cakupan imunisasi menjadi penyebab utama.

“Kalau anak tidak diimunisasi, mereka tidak punya perlindungan terhadap penyakit berbahaya seperti campak,” ujarnya.

Kedua, terkait ramainya hoaks terkait vaksin yang akhirnya menyebabkan keraguan orang tua. “Ada orang tua yang ragu karena terpengaruh informasi keliru. Ini berisiko besar,” ungkap Aji.

Ketiga, daya tular campak yang sangat tinggi karena virus menyebar melalui udara ketika penderita batuk atau bersin, terutama di lingkungan padat dan rumah dengan ventilasi buruk.

Keempat, faktor gizi dan kerentanan campak menjangkit balita. Mengingat lebih dari separuh kasus di Sumenep menyerang balita.

“Anak dengan gizi buruk atau sakit berat jauh lebih rentan terkena campak dan mengalami komplikasi,” kata Aji.

Kelima, adanya keterlambatan deteksi, sehingga ditemukan banyak orang tua yang membawa anak ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) setelah kondisi parah. Hal ini memperbesar risiko penularan ke orang lain.

Aji menuturkan, bahwa campak bisa saja dicegah apabila semua anak diimunisasi. Dengan begitu kasus seperti ini tidak akan terulang kembali.

Apa Itu Campak?

Campak adalah salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh virus dari famili Paramyxoviridae. Penyakit ini biasanya menyerang anak-anak, namun orang dewasa yang belum pernah terinfeksi atau tidak mendapatkan vaksin juga bisa tertular.

Meskipun sudah ada vaksinasi yang efektif, campak tetap menjadi ancaman kesehatan di berbagai negara, termasuk Indonesia, terutama ketika cakupan imunisasi menurun.

Campak (measles) dikenal sebagai infeksi virus akut yang sangat mudah menular melalui udara, terutama lewat percikan batuk, bersin, atau kontak langsung dengan cairan tubuh penderita. Virus campak masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan dan menyebar ke seluruh tubuh.

Masa inkubasi campak biasanya berlangsung 10–14 hari setelah terpapar virus. Selama masa ini, seseorang belum menunjukkan gejala tetapi sudah bisa menularkan virus ke orang lain.

Gejala Campak

Gejala campak muncul secara bertahap dan biasanya berlangsung selama beberapa hari. Tahap-tahap gejala campak meliputi, gejala awal berupa demam tinggi (bisa mencapai 40°C), batuk kering, hidung meler, mata merah dan sensitif terhadap cahaya (konjungtivitis), dan tubuh lemas dan rewel pada anak-anak.

Kemudian, munculnya bintik boplik. Bintik-bintik putih kecil dengan dasar kemerahan di bagian dalam pipi (tanda khas campak), muncul sekitar 1–2 hari sebelum ruam.

Selanjutnya, ruam kulit (eksantema). Biasanya, ruam ini muncul 3–5 hari setelah gejala awal, berawal dari wajah dan leher, lalu menyebar ke seluruh tubuh. Ruam berlangsung sekitar 5–6 hari, kemudian menghilang secara bertahap.

Dampak dan Komplikasi Campak

Meskipun sering dianggap sebagai penyakit 'biasa', campak bisa menyebabkan komplikasi serius, bahkan kematian, terutama pada anak-anak yang kekurangan gizi atau memiliki sistem imun lemah.

Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi seperti diare berat dan dehidrasi, infeksi telinga (otitis media), pneumonia (komplikasi paling umum dan penyebab utama kematian akibat campak).

Ada juga ensefalitis (radang otak, dapat menyebabkan kejang hingga kerusakan otak permanen), kebutaan, dan ematian, terutama pada balita jika tidak ditangani dengan cepat.

Pencegahan Campak

Cara terbaik untuk mencegah campak adalah melalui vaksinasi. Di Indonesia, vaksin campak diberikan melalui program imunisasi dasar berupa vaksin campak pertama usia 9 bulan.

Lalu booster campak-rubella (MR) di usia 18 bulan dan saat masuk sekolah dasar (kelas 1).

Ada pula vaksin MR (Measles-Rubella) yang telah terbukti aman dan efektif dalam mencegah penyebaran dua penyakit menular ini.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6