5 Fakta Terkait Insiden Tangki Pertalite Diisi Solar di SPBU Kembangan Jakbar

Sejumlah motor mengalami mogok massal setelah mengisi bensin di SPBU 34.116.12 Kembangan, Jakarta Barat (Jakbar) pada Senin 4 Agustus 2025.

Diperbarui 05 Agustus 2025, 16:43 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah motor mengalami mogok massal setelah mengisi bensin di SPBU 34.116.12 Kembangan, Jakarta Barat (Jakbar) pada Senin 4 Agustus 2025.

Rupanya, usut punya usut, ternyata mesin pengisian yang seharusnya berisi Pertalite malah terisi Bio Solar. Manajer SPBU Ramses Sitorus pun mengakui kelalaian anak buahnya.

"Kelalaian dari pengawas. Telah terjadi kesalahan pengisian dari mobil tangki ke tabung BBM Biosolar masuk ke Pertalite harusnya BBM Biosolar masuk ke tangki samping Pertalite," kata Ramses di lokasi.

"Itu kesalahan dari pengawas yang melakukan kegiatan tersebut tidak memindahkan selangnya ke tangki. Solar tercampur Pertalite sehingga motor mogok," sambung dia.

Akibat insiden tersebut, belasan motor langsung mengalami mogok setelah keluar dari pom bensin. Setidaknya, sudah 15 kendaraan. Tidak menutup kemungkinan jumlahnya bertambah.

PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (JBB) pun angkat bicara. Mereka bahkan menjatuhkan sanksi tegas kepada SPBU 34.116.12 Meruya Utara tersebut.

"Sanksi tegas yang diberikan yaitu penghentian kegiatan operasional SPBU tersebut sambil melakukan investigasi. Sanksi tersebut berlaku maksimal selama 1 bulan," kata Susanto Satria, Area Manager Communications, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat dalam keterangannya, Selasa (5/8/2025).

Satria menjelaskan, SPBU tersebut dikelola oleh mitra Pertamina. Pascakejadian, pengelola SPBU langsung melakukan penanganan kepada konsumen terdampak.

Berikut sederet fakta terkait sejumlah motor alami mogok massal usai isi bensin di SPBU Kembangan, Jakbar dihimpun Tim News Liputan6.com:

 

1. Akui Kelalaian Pengawas

Gara-gara kelalaian pengawas SPBU, ratusan motor mogok massal usai isi bensin di SPBU 34.116.12 Kembangan, Jakarta Barat, Senin 4 Agustus 2025.

Usut punya usut, ternyata, mesin pengisian yang seharusnya berisi Pertalite malah terisi Bio Solar. Manajer SPBU, Ramses Sitorus, mengakui kelalaian anak buahnya.

"Kelalaian dari pengawas. Telah terjadi kesalahan pengisian dari mobil tangki ke tabung BBM Biosolar masuk ke Pertalite harusnya BBM Biosolar masuk ke tangki samping Pertalite," kata Ramses di lokasi.

"Itu kesalahan dari pengawas yang melakukan kegiatan tersebut tidak memindahkan selangnya ke tangki. Solar tercampur Pertalite sehingga motor mogok," sambung dia.

 

2. Sejumlah Motor Alami Mogok Massal

Akibat insiden ini, belasan motor langsung mengalami mogok setelah keluar dari pom bensin. Setidaknya, sudah 15 kendaraan. Tidak menutup kemungkinan jumlahnya bertambah.

"Sejauh ini laporan dari saya baru 15. Dan kami akan data lagi barang kali ada customer yang habis dari sini mungkin tidak sadar, motornya masih jalan," ucap Ramses.

Untuk sementara, SPBU langsung menghentikan seluruh penjualan Pertalite begitu kasus pertama muncul.

"Semenjak ada kasus pertama muncul langsung diperintahkan untuk setop penjualan sehingga seluruh Pertalite tidak boleh, tidak ada penjualan. Seluruh Pertalite karena satu Pertalite satu tangki. Seluruh pertalite untuk saat ini sampai proses nanti dari Pertamina," ucap dia.

"Kami sudah lapor pertamina terkait kejadian ini, kami akan bersurat supaya bisa diproses lebih lanjut," sambung dia.

 

3. SPBU Ganti Semua Biaya Kerugian

Menurut data awal, sekitar 8.000 kiloliter Bio Solar sudah terlanjur masuk ke dalam tangki Pertalite yang berisi 20 kiloliter. Pihak kepolisian juga sudah turun tangan melakukan penyelidikan.

"Sudah diperiksa dari pihak kepolisian, pengawas tersebut sedang diproses untuk di-BAP," terang Ramses.

Terkait kejadian ini, pihak korban, SPBU memastikan akan menanggung seluruh biaya kerugian.

"Costumer akibat dari semua ini kami tanggung jawab. Untuk kerugian dari costumer kami tanggung," tandas dia.

Kejadian ini sempat viral di media sosial. Salah satu korban membagikan kondisi bengkel sepeda motor yang terletak di dekat SPBU tersebut.

Belasan motor diduga korban Pertalite tercampur Biosolar itupun mengantre untuk diperbaiki karena tak bisa jalan.

"Bengkel di samping pom bensin ramai gegara beli bensin di sini malah jadi rusak, pada mati," kata perekam video.

 

4. SPBU Diberi Sanksi Tegas Berhenti Beroperasi Sementara

PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (JBB) menjatuhkan sanksi tegas kepada SPBU 34.116.12 Meruya Utara. Hal ini dilakukan setelah ramai sejumlah kendaraan mogok usai mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) di lokasi itu, pada Senin 4 Agustus 2025.

"Sanksi tegas yang diberikan yaitu penghentian kegiatan operasional SPBU tersebut sambil melakukan investigasi. Sanksi tersebut berlaku maksimal selama 1 bulan," kata Area Manager Communications, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat Susanto Satria dalam keterangannya, Selasa (5/8/2025).

Satria menjelaskan, SPBU tersebut dikelola oleh mitra Pertamina. Pascakejadian, pengelola SPBU langsung melakukan penanganan kepada konsumen terdampak.

Keluhan yang diterima itu seperti mesin mogok dan telah diselesaikan melalui perbaikan kendaraan dan kompensasi pengisian Pertamax kepada konsumen.

 

5. Pertamina Patra Niaga Minta Maaf

Pertamina Patra Niaga menegaskan, pihaknya terus melakukan evaluasi dan perbaikan berkelanjutan terhadap sistem distribusi dan pengawasan di seluruh lembaga penyalur BBM.

"Kami mengimbau kepada seluruh mitra SPBU untuk selalu menjalankan prosedur operasional secara disiplin dan memastikan keselamatan serta kualitas produk sampai ke tangan konsumen," terang Susanto Satria.

"Kami memohon maaf atas kejadian tersebut dan kami akan terus memperkuat sistem pengawasan dan kontrol mutu BBM agar kejadian serupa tidak terulang. Kami mengapresiasi masyarakat yang proaktif melaporkan dan terus terbuka terhadap masukan demi pelayanan yang lebih baik," sambungnya.

Dia memastikan, jika pihak Pertamina memberikan pelayanan kepada para pengendara motor yang mengalami trouble untuk melakukan perbaikan di bengkel.

"Pertamina terus memantau situasi dan masyarakat dapat melaporkan melalui Call Center 135 atau email pcc135@pertamina.com," pungkas Susanto Satria.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6