Rela Berenang Demi Akad Nikah, Kisah Penghulu Ahad Nasution Tembus Derasnya Sungai Pasaman

Jembatan gantung satu-satunya yang biasa menghubungkan dusun itu dengan dunia luar telah ambruk semalam, terbawa banjir. Namun tugas tetaplah tugas. Kedatangan Ahad ditunggu banyak orang.

Diperbarui 05 Agustus 2025, 10:52 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Ahad Nasution, penghulu, menyeberangi sungai deras demi tugas pernikahan.
  • Jembatan ambruk akibat banjir, Ahad tetap berdedikasi meski berisiko.
  • Ahad diapresiasi karena pengabdiannya menikahkan warga di daerah terpencil.

Liputan6.com, Jakarta - Hari itu, Sabtu, 2 Agustus 2025, langit masih menyisakan mendung sisa hujan deras semalam. Di pelosok Jorong Batang Kundur, Kecamatan Dua Koto, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, sepasang calon pengantin tengah menanti dengan harap-harap cemas.

Mereka bukan hanya menunggu waktu ijab kabul, tapi juga menanti satu sosok penting: penghulu yang akan menikahkan mereka.

Sementara itu, di seberang sungai yang menjadi satu-satunya akses ke jorong terpencil tersebut, seorang pria paruh baya bersiap menghadapi derasnya arus. Namanya Ahad Nasution, penghulu yang ditugaskan oleh KUA Dua Koto untuk mengesahkan pernikahan Agep Purwandi dan Intan Purnama Sari. Di tengah derasnya arus sungai yang memisahkan ia dan tugasnya, Ahad memilih untuk tidak mundur.

Jembatan gantung satu-satunya yang biasa menghubungkan dusun itu dengan dunia luar telah ambruk semalam, terbawa banjir. Namun tugas tetaplah tugas.

“Karena catin sudah menunggu, sementara ini adalah tugas negara, saya harus tempuh medan yang cukup rawan ini,” ujarnya, Senin (4/8/2025).

Ahad telah menempuh perjalanan sejauh 27 kilometer dari pusat kecamatan, sebagian besar dengan ojek melewati jalan berbatu dan licin. Namun rintangan utama baru datang di tepian sungai. Tanpa ragu, ia melepas pakaiannya, menyimpan dokumen penting dalam plastik tahan air, dan dibantu warga berenang menyeberang arus.

"Untung saya sudah siapkan baju ganti,” ujarnya sambil tersenyum. Setelah tiba di seberang, ojek lain yang telah disiapkan warga membawanya ke lokasi pernikahan.

Di sana, ia disambut hangat oleh tokoh adat setempat, Sumarno, dan keluarga kedua mempelai. Prosesi ijab kabul pun berjalan dengan khidmat, penuh haru dan rasa syukur.

“Alhamdulillah, lancar semua. Saya senang bisa membantu mereka menjalani momen sakral ini,” kata Ahad.

Namun perjalanan belum selesai. Hujan kembali turun saat acara usai pukul 11.30 WIB. Sungai yang ia seberangi pagi tadi kini semakin ganas. Warga pun melarangnya kembali demi keselamatan.

Maka Ahad bermalam di desa itu, tamu kehormatan karena dedikasinya.

 

Soal Tanggung Jawab dan Tugas

Bagi Ahad, semua ini bukan soal pengorbanan. Ini tentang tanggung jawab. Tentang bagaimana negara hadir dalam bentuk paling sederhana dan paling menyentuh, menikahkan warganya, meski harus berenang sekalipun.

“Ini sungguh pengalaman yang berkesan. Semua saya lakukan dengan tulus. Berkait-rakit ke hulu, berenang ke tepian; bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian,” tuturnya.

Apresiasi pun datang dari pusat. Kepala Subdirektorat Bina Kepenghuluan, Afief Mundzir, menyebut Ahad sebagai contoh nyata pengabdian penghulu sebagai pelayan umat.

“Penghulu adalah representasi negara yang hadir dalam momen paling sakral warga. Keteladanan seperti yang ditunjukkan Ahad adalah bukti bahwa pelayanan keagamaan adalah panggilan jiwa, bukan sekadar tugas administratif,” ucap  Afief.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6