5 Fakta Menarik Kwik Kian Gie, Ekonom Nasional, Politisi, Menteri hingga Meninggal di Usia 90 Tahun

Tokoh sekaligus ekonom nasional, Kwik Kian Gie meninggal dunia pada Senin 28 Juli 2025.

Diperbarui 29 Juli 2025, 11:47 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kabar duka menyelimuti tanah air. Tokoh sekaligus ekonom nasional, Kwik Kian Gie meninggal dunia pada Senin 28 Juli 2025.

Kabar meninggalnya mantan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri itu disampaikan oleh mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno melalui akun Instagramnya, @sandiuno, Senin malam 28 Juli 2025.

"Selamat jalan, Pak Kwik Kian Gie. Ekonom, pendidik, nasionalis sejati," tulis Sandiaga Uno seperti dikutip Liputan6.com.

"Mentor yang tak pernah lelah memperjuangkan kebenaran. Yang berdiri tegak di tengah badai, demi kepentingan rakyat dan negeri. Indonesia berduka," ucap Sandiaga Uno.

Lantas, siapakah sebenarnya sosok Kwik Kian Gie? Kwik Kian Gie merupakan seorang pria keturunan Tionghoa yang lahir di Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah pada 11 Januari 1935. Ia merupakan seorang ahli ekonomi sekaligus politikus.

Kwik pernah menjabat sebagai Menteri Koordinator Ekonomi (1999–2000) dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional & Ketua Bappenas (2001–2004). Kwik juga merupakan fungsionaris dan senior PDI-Perjuangan.

Setelah menempuh pendidikan SMA-nya, ia melanjutkan ke Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia selama satu tahun untuk tahap persiapan.

Kemudian, ia pergi ke Rotterdam, Belanda guna melanjutkan studinya di Nederlandsche Economiche Hogeschool. Ia masuk sekolah tersebut tahun 1956 dan lulus di tahun 1963.

Ketertarikannya pada dunia kebijakan publik membuatnya terjun ke politik. Ia bergabung dengan PDI dan menjadi bagian dari Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) sekaligus menjabat Ketua DPP.

Ia juga menjabat sebagai Menteri Koordinator Ekonomi (1999–2000) serta Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas (2001–2004). Atas jasa-jasanya, ia dianugerahi Bintang Mahaputera Adipradana oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Berikut fakta menarik terkait tokoh sekaligus ekonom nasional, Kwik Kian Gie dihimpun Tim News Liputan6.com:

 

1. Meninggal Dunia Usia 90 Tahun

Kabar duka menyelimuti tanah air. Tokoh sekaligus ekonom nasional Kwik Kian Gie meninggal dunia.

Kabar meninggalnya mantan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri itu disampaikan oleh mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno melalui akun Instagramnya, @sandiuno, Senin malam 28 Juli 2025.

"Selamat jalan, Pak Kwik Kian Gie. Ekonom, pendidik, nasionalis sejati," tulis Sandiaga Uno seperti dikutip Liputan6.com.

"Mentor yang tak pernah lelah memperjuangkan kebenaran. Yang berdiri tegak di tengah badai, demi kepentingan rakyat dan negeri. Indonesia berduka," ucap Sandiaga Uno.

 

2. Latar Belakang dan Peduli dengan Pendidikan

Kwik Kian Gie lahir pada 11 Januari 1935 di Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Dari masa mudanya, Kwik dikenal sebagai sosok yang cerdas dan rajin belajar. Kwik berasal dari keluarga Tionghoa. Ia menempuh pendidikan awal di Indonesia.

Setelah menempuh pendidikan SMA-nya, ia melanjutkan ke Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia selama satu tahun untuk tahap persiapan. Kemudian, ia pergi ke Rotterdam, Belanda guna melanjutkan studinya di Nederlandsche Economiche Hogeschool. Ia masuk sekolah tersebut tahun 1956 dan lulus di tahun 1963.

Setelah lulus, Kwik bekerja sebagai asisten atase kebudayaan dan penerangan di Kedubes RI di Den Haag. Ia hanya bertahan selama satu tahun di sana. Di tahun 1964 hingga 1965, dia menjabat sebagai Direktur Nederlands-Indonesische Goederen Associatie.

Namun, asosiasi ini harus bubar jalan. Lima tahun selanjutnya, ia terpilih menjadi Direktur NV Handelsonderneming “IPILO Amsterdam”.

Di tahun 1970, ia kembali ke Indonesia. Ia sempat menjadi pengangguran selama setahun. Tahun 1971, ia memutuskan untuk membuka bisnis yang bekerja sama dengan sesama rekannya seperti Ferry Sonneville dan Dr. Indra Hattari serta rekannya yang lain. Ia mendirikan PT. Indonesian Financing & Investment. Perusahaan ini adalah perusahan non-bank pertama yang ada di Indonesia.

Saat itu, perusahaan ini tergolong ilegal, karena tak memiliki izin dari pemerintah. Keasyikan berbisnis, membuatnya ketagihan. Ia kembali mendirikan perusahaan lain bersama rekan-rekannya seperti PT Altron Panorama Electronic, PT Jasa Dharma Utama, PT Cengkih Zanzibar, dan PT ABN Amro Finance.

Kwik mengaku bila ia hadir di dunia ia bisa bermanfaat bagi orang banyak. Wujud nyata yang ia ingin wujudkan ialah ikut berperan aktif dalam penyelenggaraan negara dan atau pendidikan. Ia tak main-main dengan ucapannya. Di tahun 1954, ia mendirikan SMA Erlangga di Surabaya. Kemudian, di tahun 1968, ia menjadi anggota pengurus Yayasan Trisakti hingga sekarang.

Tahun 1982, ia mendirikan Institut Manejemen Prasetya Mulya yang merupakan sekolah MBA pertama di Indonesia. Lima tahun kemudian, di tahun 1987, ia mendirikan Institut Bisnis dan Informatika Indonesia (IBII) bersama dengan Djoenaedi Joesoef dan Kaharuddin Ongko.

Dalam bidang penyelenggaraan negara, Kwik sempat menjadi staf di KBRI di Den Haag sebagai Asisten Atase Kebudayaan dan Penerangan.

 

3. Kiprah di Dunia Politik

Didunia politik, Kwik bergabung dengan PDI Perjuangan. Kwik duduk di Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) (sekaligus menjadi salah satu Ketua DPP PDI).

Meski kemudian pemerintah menyingkirkan Megawati dari PDI, Kwik tetap konsisten membela dan mendukung putri sang proklamator itu. Menurut Kwik, kemanusiaan Megawati sangat tinggi.

PDI kemudian berganti nama menjadi PDI Perjuangan kemudian mendapat ruang gerak setelah era Soeharto tumbang. Selanjutnya, Kwik melenggang ke Senayan sebagai anggota DPR RI.

Di sana, dia pun dipercaya menjadi Wakil Ketua MPR RI danAnggota Komisi IX DPR RI serta Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional atau Kepala Bapenas. Atas bakti dan sumbangsih kepada bangsa, Kwik dianugerahi Bintang Mahaputra Adipradana RI.

Pada Pemilu Presiden 2019, Kwik menjadi salah satu penasihat ekonomi dari pasangan calon Nomor Urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

 

4. Jejak Karier, Dari Menteri Era Gus Dur hingga Penasihat Ekonomi Tim Kampanye Prabowo

Setelah lulus SMA, Kwik Kian Gie melanjutkan studi di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) di Jakarta.

Pada tahun 1956, dia melanjutkan studinya di Hogeschool Nederlandsche Economische Rotterdam (sekarang Erasmus Universiteit Rotterdam) di Belanda dan lulus pada tahun 1963.

Dari tahun 1953 hingga 1964, Kwik Kian Gie memulai karirnya sebagai Asisten Atase Kebudayaan dan Penerangan di Kedutaan Besar Indonesia di Den Haag.

Dia kemudian menjabat sebagai Direktur Nederlands-Indonesische Goederen Associatie (1964-1965), meskipun perusahaan ini bubar sebelum beroperasi. Lima tahun kemudian, dia menjadi Direktur NV HANDELSONDERNEMING "IPILO Amsterdam".

Kwik Kian Gie kembali ke Indonesia pada tahun 1970. Setelah setahun tidak bekerja, pada tahun 1971, dia bersama Ferry Sonneville dan Indra Hattari mendirikan PT Indonesian Financing & Investment Company, sebuah lembaga keuangan non-bank pertama di Indonesia.

Dia juga terlibat dalam pendirian dan pengelolaan berbagai perusahaan lain bersama rekan-rekannya, termasuk PT Altron Panorama Electronic, PT Jasa Dharma Utama, PT Cengkeh Zanzibar, dan PT ABN Amro Finance.

Sejak tahun 1968, Kwik Kian Gie menjadi anggota dewan pengurus Yayasan Trisakti. Pada tahun 1982, dia bersama Panglaykim mendirikan sekolah MBA pertama di Indonesia, yaitu Institut Manajemen Prasetiya.

Pada tahun 1987, Kwik Kian Gie bersama Djoenaedi Joesoef dan Kaharuddin Ongko mendirikan Institut Bisnis Indonesia (IBI), yang kini dikenal sebagai Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie (Kwik Kian Gie School of Business atau Universitas Kwik Kian Gie).

 

5. Kedekatan dan Penghormatan Terhadap Pluralisme

Sebelum diangkat menjadi Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri, Kwiek memang memiliki kedekatan dengan Gus Dur. Kedekatan ini terjalin melalui diskusi dan pandangan yang sejalan, yang berujung pada pengangkatannya sebagai menteri di era kepemimpinan Gus Dur. Kisah ini diungkapkan Kwik dalam acara Haul Ke-9 Gus Dur di Pesantren Tebuireng, Jombang.

Kwik Kian Gie mengakui bahwa dia mengenal Gus Dur cukup dekat dan sering bertukar pikiran melalui diskusi-diskusi. Kedekatan ini sudah terjalin lama sebelum keduanya aktif di bidang politik. Selain itu, mereka juga memiliki hobi yang sama, yaitu mendengarkan musik orkestra, khususnya simfoni nomor 9 yang sangat disukai Gus Dur.

Dalam perjalanan politiknya, Kwik Kian Gie dan Gus Dur pernah menjadi anggota Badan Pekerja MPR pada tahun 1987. Kwik sering memberikan briefing kepada Gus Dur mengenai hal-hal penting yang didiskusikan dalam rapat, karena Gus Dur tidak selalu hadir di setiap rapat.

Kwik Kian Gie menyaksikan sendiri bagaimana Gus Dur sebagai pejuang pluralis menerima permintaan komunitas Konghucu untuk mengakui Konghucu sebagai agama di Indonesia. Gus Dur menyatakan bahwa jika sekelompok orang meyakini nilai-nilai moralitas yang baik sebagai agama, maka bagi kelompok itu adalah agama.

Selama mendampingi Gus Dur dalam perjalanan ke luar negeri, Kwik merasakan kebesaran Gus Dur. Gus Dur dihormati tidak hanya sebagai seorang presiden, tetapi juga sebagai seorang humanis, universalis, dan pluralis.

Menurut Kwik, tidak pernah ada presiden sebelumnya dan sesudahnya yang memiliki penasihat-penasihat internasional yang secara sungguh-sungguh memberikan nasihatnya.

Kwik Kian Gie mengaku sangat kaget ketika diangkat menjadi Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri oleh Gus Dur. Ia merasa terkejut karena dirinya adalah keturunan Tionghoa yang tidak mengganti nama dan beristri orang Belanda. Pengangkatan ini terjadi setelah pelantikan Megawati sebagai wakil presiden pada tahun 1999.

Setelah acara pelantikan, Kwik dihampiri ajudan Gus Dur dan diminta menuju Wisma Negara di Istana Merdeka. Di sana, Gus Dur menyatakan bahwa dalam membentuk kabinet, ia tidak akan menggunakan hak prerogatifnya secara mutlak, kecuali untuk dua jabatan menteri: Menteri Agama dan Menteri Luar Negeri.

Para ketua partai politik dipersilakan mengajukan usulan nama calon menteri dalam amplop tertutup. Namun, setelah mendengar usulan Wiranto yang tidak mencantumkan Menko Kesejahteraan Rakyat, Gus Dur langsung menggunakan hak prerogatifnya untuk menentukan Wiranto sebagai Menko Polkam dan Kwik Kian Gie sebagai Menko Ekuin.

Kwik Kian Gie menjabat sebagai Menko Ekuin dari tahun 1999 hingga 2000. Menurutnya, Gus Dur memiliki pandangan tentang pentingnya peran negara dalam mewujudkan keadilan ekonomi.

Dilansir merdeka.com, keputusan-keputusan Gus Dur seringkali muncul secara spontan, mencerminkan karakter kepemimpinannya yang unik.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6