Operasi Patuh Jaya 2025 Selesai: Angka Kecelakaan Lalu Lintas Turun, Tilang Manual Naik Tajam

Kakorlantas Polri Irjen Agus Suryonugroho menyebut, operasi patuh jaya 2025 berhasil menurunkan angka kecelakaan lalu lintas hingga 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Diterbitkan 29 Juli 2025, 09:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Operasi Patuh Jaya 2025 sukses menurunkan angka kecelakaan lalu lintas 12%.
  • Program 'Polantas Menyapa' tingkatkan kesadaran masyarakat dan edukasi.
  • Pelanggaran helm SNI naik 20,4%, laka turun 11,29%, korban meninggal turun 20%.

Liputan6.com, Jakarta - Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri telah menuntaskan Operasi Patuh Jaya 2025 yang digelar serentak di seluruh Indonesia pada 14–27 Juli 2025. Kakorlantas Polri Irjen Agus Suryonugroho menyebut, operasi ini berhasil menurunkan angka kecelakaan lalu lintas hingga 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Operasi Patuh tahun ini berjalan baik dan hasilnya cukup menggembirakan. Angka kecelakaan turun, masyarakat semakin sadar, dan program Polantas Menyapa terbukti efektif,” kata Agus dalam keterangannya, Selasa (29/7/2025).

Ia menjelaskan, dalam Operasi Patuh 2025, adanya program 'Polantas Menyapa' menjadi ciri khas dari kegiatan ini. Karena, program tersebut mengedepankan silaturahmi antara polisi lalu lintas dan masyarakat dengan cara menyapa, berinteraksi, dan memberikan edukasi langsung kepada pengguna jalan.

"Pendekatan humanis ini membuat kesadaran masyarakat meningkat, sehingga berdampak pada turunnya kecelakaan," ujarnya.

Ia mengungkapkan, hasil analisis dan evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan pada kegiatan edukasi. Selama Operasi Patuh 2025, kegiatan bimbingan dan penyuluhan meningkat hingga 3.597 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Penyuluhan langsung juga naik 7,6 persen, dan pemasangan himbauan melonjak 48,2 persen. Polantas juga aktif melakukan tatap muka dengan komunitas logistik sebanyak 16.156 kali, serta silaturahmi bersama 7.728 komunitas roda dua dan roda empat.

Kegiatan Preventif

Sementara itu, kegiatan preventif berupa pengaturan, penjagaan, pengawalan, dan patroli justru turun 14,2 persen. Namun, kegiatan represif mengalami kenaikan 17,2 persen, didominasi teguran simpatik sebanyak 729.977 teguran.

"Tilang manual meningkat 82,1 persen menjadi 243.585 pelanggaran, sedangkan tilang elektronik justru menurun. ETLE statis tercatat 67.648 pelanggaran atau turun 20,1 persen, dan ETLE mobile turun 27,7 persen menjadi 60.981 pelanggaran," ungkapnya.

Kemudian, untuk jenis pelanggaran terbanyak adalah tidak menggunakan helm SNI yang naik 20,4 persen menjadi 240.743 kasus.

Lalu, disusul pelanggaran tidak menggunakan sabuk keselamatan yang turun 16 persen, mengemudi melawan arus yang naik 42,2 persen, berkendara di bawah umur naik 66 persen, dan berboncengan lebih dari satu orang naik 16,4 persen.

"Pelanggaran lalu lintas masih didominasi kendaraan roda dua dengan 82,49 persen, sedangkan roda empat hanya 17,51 persen," sebutnya.

 

Data Kecelakaan

Data kecelakaan lalu lintas juga disebutnya menunjukkan perbaikan. Untuk jumlah kasus kecelakaan turun 11,29 persen menjadi 2.884 kasus.

Berikutnya, korban meninggal dunia turun hampir 20 persen menjadi 334 orang, korban luka ringan turun 19,9 persen, sedangkan korban luka berat naik 5,59 persen.

“Keberhasilan ini adalah hasil kerja keras semua pihak, termasuk masyarakat. Kami akan terus menjaga sinergi agar keselamatan berlalu lintas menjadi budaya bersama,” pungkasnya.

 

Reporter: Nur Habibie

Sumber: Merdeka.com

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6