Panglima KOKAM: Kader Pemuda Muhammadiyah adalah Sudirman Muda, Siap Jadi Perisai NKRI

Dzulfikar menyampaikan bahwa kader KOKAM tumbuh sebagai penjaga moralitas bangsa, yang kerap bereaksi terhadap berbagai bentuk kerusakan moral seperti perjudian dan minuman keras.

Diperbarui 20 Juli 2025, 22:29 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • KOKAM disebut "Sudirman Muda" karena semangat membela kemerdekaan.
  • KOKAM tumbuh dari patriotisme, sejarah militansi, dan pendidikan dasar.
  • KOKAM penjaga moral bangsa, setia pada negara, responsif dan adaptif.

Liputan6.com, Jakarta - Panglima Tinggi Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM), Dzulfikar Ahmad Tawalla, menyebut para kader Pemuda Muhammadiyah yang tergabung dalam KOKAM sebagai “Sudirman Muda”. Julukan tersebut merujuk pada semangat perjuangan Jenderal Besar Sudirman dalam membela kemerdekaan Indonesia.

“Pasukan KOKAM adalah Perisai NKRI karena lahir di tengah pergolakan ideologi bangsa,” ujar Dzulfikar dalam Apel Akbar KOKAM di Stadion Tridadi, Sleman, Yogyakarta, Minggu (20/7/2025).

Ia mengungkapkan, KOKAM tumbuh dari semangat patriotisme dan sejarah militansi, dengan pendidikan dasar yang banyak dilaksanakan di barak-barak militer. Bahkan, pembekalan awal KOKAM juga turut dibantu oleh institusi kepolisian.

“Adalah almarhum Jenderal (Pol) Sucipto Judodiharjo, Kapolri kala itu, sosok yang begitu berperan dalam pembekalan KOKAM di awal,” jelas Dzulfikar.

Apel akbar ini turut dihadiri oleh jajaran pimpinan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, termasuk Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, serta Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Sejumlah petinggi Polri juga hadir, seperti Irwasum Polri Komjen Dedi Prasetyo dan Kapolda DIY Irjen Anggoro Sukartono.

Dzulfikar menyampaikan bahwa kader KOKAM tumbuh sebagai penjaga moralitas bangsa, yang kerap bereaksi terhadap berbagai bentuk kerusakan moral seperti perjudian dan minuman keras.

“Mereka adalah kumpulan orang-orang yang dalam istilah Prof. Haedar, laa yakunu khoo-inatan walaa syarron walaa mungkaron — orang-orang yang tidak tahu cara berkhianat, tidak tahu cara berbuat jahat dan tidak tahu berkata bohong,” tegas Dzulfikar.

Ia menambahkan, KOKAM bukan kelompok yang mencari keuntungan pribadi dari dunia industri, seperti meminta THR ke pabrik atau melakukan intimidasi atas nama massa lokal.

“Tidak ada rumus mereka datangi pabrik-pabrik untuk minta THR, tidak ada jurus gertakan AKAMSI demi mengejar setoran, hal-hal tersebut bisa menghambat jalannya investasi di negara kita,” imbuhnya.

 

Cerminkan Solidaritas Kuat

Dzulfikar juga menyinggung warisan nilai-nilai dari Pasukan Bhayangkara di masa Majapahit yang diadopsi dalam doktrin KOKAM menjadi tiga prinsip utama: Setya Ing Wacana (setia pada perkataan), Setya Ing Laku (setia pada perbuatan), dan Setya Ing Negara (setia kepada negara).

Ia menyebut bahwa filosofi tersebut sejalan dengan nilai-nilai kesetiaan dalam budaya Bugis-Makassar, seperti Siri Na Pacce dan A’bulo Sibatang, serta mencerminkan prinsip solidaritas yang kuat.

“Maka tidaklah berlebihan jika KOKAM menggunakan istilah Presiden Prabowo bahwa mereka adalah leader, bukan follower. Mereka responsif dan adaptif. Kapan pun dan di mana pun persyarikatan dan negara membutuhkan, mereka siap siaga!” ujar Dzulfikar dengan lantang.

 

Kapolri Apresiasi Militansi KOKAM

Dalam kesempatan yang sama, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bertindak sebagai inspektur apel dan menyampaikan apresiasinya terhadap semangat kader KOKAM.

Sigit mengisahkan proses diskusi dengan panitia mengenai waktu pelaksanaan apel, yang sempat mempertimbangkan tiga opsi: pagi, siang, atau sore.

“Kalau pagi sejuk ke panas, kalau siang panas ke panas, kalau sore panas ke sejuk. Namun karena saya ingin tahu militansi dari kader-kader KOKAM, saya memilih yang paling ekstrem: panas ke panas,” kata Sigit.

“Saya lihat semua militan dan penuh semangat,” pungkasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6