Gerindra Sebut Disepakatinya IEU-CEPA Cerminkan Kepemimpinan Ekonomi Prabowo

Fraksi Gerindra mengapresiasi kesepakatan IEU-CEPA yang diumumkan Presiden Prabowo, menandai babak baru hubungan dagang Indonesia dan Uni Eropa.

Diperbarui 15 Juli 2025, 08:23 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Presiden Prabowo Subianto bersyukur Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (IEU-CEPA) berhasil disepakati, usai proses negosiasi yang alot selama 10 tahun. Dia mengatakan penyelesaian IEU-CEPA merupakan terobosan besar di bidang ekonomi.

Terkait hal ini, Ketua Fraksi Partai Gerindra, Budisatrio Djiwandono, menyampaikan apresiasi atas tercapainya kesepakatan tersebut. Menurutnya, rampungnya kesepakatan IEU-CEPA, menandai babak baru dalam hubungan perdagangan dan diplomatik antara kedua pihak.

"Kesepakatan IEU-CEPA mencerminkan komitmen Indonesia untuk membangun hubungan dagang yang setara, strategis, dan saling menguntungkan. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, diplomasi ekonomi Indonesia terbukti dapat dikelola dengan prinsip kolaboratif dalam kerangka perdagangan yang bebas dan adil," kata Budisatrio dalam keterangannya, Selasa (15/7/2025).

Wakil Ketua Komisi I DPR RI menyebutkan, perjanjian IEU‑CEPA akan memperluas akses produk Indonesia ke pasar Uni Eropa, yang memiliki populasi lebih dari 450 juta jiwa.

Selain itu, nilai perdagangan Indonesia–Uni Eropa yang selama ini telah mencapai USD 30 miliar atau setara Rp480 triliun berpotensi meningkat secara signifikan.

 

Perkuat Industri di Indonesia

Melalui penerapan tarif nol persen untuk sekitar 80 persen komoditas ekspor Indonesia, perjanjian ini diproyeksikan mampu mendorong lonjakan ekspor lebih dari 50 persen dalam beberapa tahun ke depan.

"IEU-CEPA akan membuka peluang perdagangan dan investasi baru yang selama ini belum tersentuh, serta menjadi salah satu langkah untuk mendiversifikasi mitra perdagangan Indonesia. Bagi Indonesia sendiri, kesepakatan ini dapat memperkuat industri-industri bernilai tambah di dalam negeri yang berorientasi ekspor, membuka lapangan pekerjaan berkualitas, serta mendorong arus investasi di dalam negeri," ungkap Budisatrio.

Selain aspek perdagangan dan investasi, dia juga menyoroti pentingnya dimensi konektivitas antarwarga. Ia menyambut baik adanya kebijakan visa cascade dari Uni Eropa yang akan mempermudah Warga Negara Indonesia (WNI) memperoleh visa Schengen multi-entry.

"Mobilitas manusia adalah bagian tak terpisahkan dari kemitraan strategis. Kemudahan akses visa Schengen multi-entry akan meningkatkan partisipasi warga Indonesia dalam aspek pendidikan, riset, kewirausahaan, dan diplomasi budaya di Eropa," ungkap Budisatrio.

Komitmen Berkolaborasi

Dalam konteks global yang semakin tidak menentu, ditandai dengan meningkatnya tensi geopolitik, ancaman perang dagang, serta tren deglobalisasi, lanjut dia, Fraksi Gerindra menilai bahwa keberhasilan Indonesia merampungkan kesepakatan ini menjadi bukti nyata komitmen terhadap kolaborasi internasional.

"Ketika ada pihak yang memilih kebijakan konfrontatif dan proteksionis, Pemerintahan yang dipimpin oleh Presiden Prabowo justru membuktikan bahwa kerja sama yang berlandaskan prinsip saling menghormati dan saling menguntungkan merupakan jalan terbaik dalam menciptakan kemakmuran bagi semua pihak," kata dia.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto siap menyambut peningkatan partisipasi Eropa dalam perekonomian Indonesia, usai Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (IEU-CEPA) berhasil disepakati. Prabowo menyampaikan Indonesia siap memasuki pasar Uni Eropa dengan berbagai komoditas yang dimiliki.

"Kami ingin melihat meningkatnya partisipasi Eropa dalam perekonomian kami, dan kami juga siap untuk masuk ke dalam pasar ekonomi Uni Eropa," kata Prabowo saat bertemu Presiden Dewan Eropa António Costa di Gedung Europa, Brussel, Belgia, Minggu 13 Juli 2025.

Ia menekankan bahwa Indonesia dan Eropa memiliki hubungan simbiosis yang saling menguntungkan. Uni Eropa memiliki keunggulan di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, keuangan, dan pengalaman manajerial, sementara Indonesia menawarkan sumber daya alam dan komoditas pertanian yang strategis.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6