Jusuf Kalla Sebut AI Akan Bawa Dampak ke Sistem Pendidikan Indonesia, Guru Harus Bersiap

Jusuf Kalla (JK) menyatakan AI mengubah sistem pendidikan. Guru dituntut adaptif agar tetap relevan dan unggul dalam membimbing siswa di era digital.

Diterbitkan 28 Juni 2025, 09:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK), menyatakan bahwa kecanggihan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah proses dan sistem pendidikan secara menyeluruh.

Hal ini disampaikan JK saat memberikan sambutan di acara Rapimnas PGRI Tahun 2025 di Hotel Millenium Jakarta, jumat (27/06/2025).

Ia menilai, kehadiran AI menjadi tantangan besar yang harus dihadapi para guru di masa depan.

"Kecerdasan berpikir itu yang akan nanti banyak berpengaruh pada pendidikan karena akan merubah secara total sistem pendidikan, baik cara mengajar, cara menilai dan lainnya," kata JK dalam keterangannya.

Sebagai Dewan Pembina PGRI, JK menekankan bahwa kehadiran AI tidak bisa dihindari karena sudah menjadi bagian dari seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam proses belajar mengajar. Bahkan, menurutnya, AI membuat murid bisa lebih cerdas daripada gurunya.

"AI saat ini menjadi bagian dari guru, bagian dari murid. Bahkan karena AI murid menjadi lebih pintar dari guru. Itulah yang merubah dunia pendidikan ini," ungkap dia.

 

Ciptakan Suasana Baru di Pendidikan Indonesia

JK meyakini AI akan menciptakan suasana baru dalam pendidikan Indonesia, meski tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia memperkirakan perubahan besar secara revolusioner akan berlangsung dalam 5 hingga 10 tahun ke depan.

"Sedikit semi sedikit sudah terlihat saat ini. Jadi Nanti tidak akan ada lagi tulisan indah. Tapi bagaimana menulis dengan cepat. Nanti tidak akan membutuhkan kertas lagi karena sudah menyatu dalam HP dan laptop," ungkap dia.

Dengan begitu, JK mengingatkan agar guru harus bersiap melakukan perubahan dalam menghadapi kecanggihan AI. Seperti mengubah cara mengajar dan lebih terbuka. Tujuannya agar guru lebih pintar daripada murid. "Itu bisa saja terjadi saat ini dan di masa depan. Sebab para murid saat ini dlakan mengandalkan AI yang hampir bisa menjawab semua pertanyaan," kata Ketua PMI ini.

Kehadiran AI, lanjut JK, memang menjadi tantangan berat bagi guru. Apalagi jika guru tidak mau belajar dan tidak memiliki sikap terbuka. Salah satu cara yang bisa dilakukan guru di tengah kehadiran AI adalah begaimana mengajarkan common sense, atau akal sehat.

"Yang perlu diingatkan setiap guru adalah memberikan pelajaran yang penting utamanya common sence. Yakni bagaimana cara mengajar, bagaimana cara menilai dan meyakini sesuatu, bagaimana menentukan kebenaran ditengah banyaknya medsos, serta mengajarkan logika kebenaran," usul JK.

"Jadi para guru harus lebih banyak belajar tentang logika karena logikalah yang bisa mendari kebenaran," imbuhnya.

 

Tugas Utama

Selain itu, guru harus tegas dalam penggunaan telepon genggam di sekolah. Sebab jika murid bebas menggunakan telepon genggam maka tidak akan menggunakan logika. JK juga mengingatkan guru agar mengajarkan dalam menganalisa data agar bisa menghindari hoaks setiap informasi.

Lebih jauh JK kembali mengingatkan tugas utama guru di masa depan. Yakni sebisa mungkin menguasai teknologi dalam segala hal, membimbing dan menjadi motivator bagi murid-muridnya. Selanjutnya, JK juga menggarisbawahi pentingnya murid kembali belajar ke alam dan dibawa ke lapangan.

Selain itu, guru harus mendorong murid-murid untuk aktif bertanya serta menggalakkan diskusi kelompok.

"Terakhir dan yang paling penting di masa yang akan datang, guru harus lebih banyak memahami soal Wisdom dan kebijaksanaan," sebut JK.

Di sisi lain, JK menyadari kehadiran Ai hal yang tidak bisa dihindari. ia melihat, kehadiran AI memiliki hal positif dan juga hal negatif. Positifnya adalah bisa mendapatkan jawaban informasi apa saja dengan cepat, namun negatifnya adalah bisa menyebabkan murid menjadi malas dan mudah stres.

"Tapi apapun itu, persiapan itu harus dimulai dari sekarang. Karena kalau tidak kita akan ketinggalan lagi. Tentu kita setuju dengan AI, tapi tinggal yang difokuskan bagaimana mengedepankan hal positif dalam penggunanaan pembelajaran itu," pungkas JK

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6