Pentingnya Penanganan Penyakit Degeneratif dengan Pemanfataan Stem Cell di Indonesia

Tantangan besar di dunia kesehatan, khususnya penanganan penyakit degeneratif terus ada.

Diperbarui 24 Juni 2025, 02:32 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Kimia Farma pionir stem cell untuk penyakit degeneratif.
  • Stem cell perbaiki kerusakan sel dan jaringan tubuh.
  • Uji klinis stem cell tunjukkan hasil positif pasien.

Liputan6.com, Jakarta Tantangan besar di dunia kesehatan, khususnya penanganan penyakit degeneratif terus ada. Oleh karena itu, PT Kimia Farma Tbk (KAEF) terus memperkuat posisinya sebagai pionir pemanfaatan sel punca (stem cell).

"Terapi stem cell bukan sekedar menjadi alternatif pengobatan terkini, tetapi sebuah pendekatan regeneratif yang didukung oleh riset, bukti ilmiah dan pengalaman klinis," ujar Direktur Portofolio, Produk dan Layanan PT Kimia Farma Tbk Jasmine Karsono melalui keterangan tertulis, Senin (23/6/2025).

Dia mengatakan, tidak hanya meredakan gejala, stem cell bekerja dengan memperbaiki kerusakan di tingkat sel dan jaringan, sehingga memberikan potensi pemulihan jangka panjang.

"Selama ini, terapi stem cell Kimia Farma yang bekerjasama dengan peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) dan RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) telah digunakan untuk membantu pemulihan pasien dengan kondisi berat seperti pengapuran sendi, saraf kejepit (Hernia Nukleus Pulposus) dan cedera tulang belakang," ucap Jasmine.

Dalam kasus pengapuran sendi, lanjut dia, stem cell dapat merangsang pertumbuhan jaringan tulang rawan baru, sehingga membantu mengurangi nyeri akibat peradangan dan meningkatkan fungsi sendi.

"Berdasarkan Dilogo et.al. (2020). Umbilical cord-derived mesenchymal stem cells for treating osteoarthritis of the knee: A single-arm, open-label study. European Journal of Orthopaedic Surgery & Traumatology*, telah dilakukan studi secara terbuka pada 29 pasien di RSCM Jakarta," kata Jasmine.

 

Hasil Studi

Jasmine menjelaskan, hasil studi menunjukkan penggunaan injeksi stem cell berhasil memperbaiki fungsi regenerasi berupa pengurangan gejala osteoarthritis (OA) lutut dan meningkatkan kualitas hidup pasien dalam jangka 6 bulan terapi.

"Kami percaya bahwa pengobatan ke depan tidak hanya berfokus untuk mengurangi gejala, tetapi bagaimana tubuh dapat pulih dengan optimal dengan memanfaatkan stem cell. Di sinilah stem cell berperan besar dan Kimia Farma ingin menjadi bagian dari perjalanan besar ini," papar dia.

Menurut Jasmine, pengembangan stem cell Kimia Farma dengan RSCM dan FK UI dimulai sejak tahun 2011 untuk kasus tulang sendi dan pada tahun 2014 dilanjutkan uji klinis pada pasien osteoartritis lutut serta luka bakar dalam.

"Upaya pengembangan diperluas dengan memperoleh izin operasional dari Kementerian Kesehatan pada tahun 2020 dan sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari BPOM pada tahun 2024," jelas dia.

"Di masa mendatang, terapi stem cell tidak hanya menjadi alternatif, tetapi justru bagian dari pilihan utama dalam pengobatan modern di Indonesia. Melalui inovasi ini, Kimia Farma berkomitmen akan terus berperan penting dalam membentuk kemandirian kesehatan Indonesia di bidang teknologi pengobatan berbasis biologis," tandas Jasmine.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6