Liputan6.com, Jakarta - Terapi sel punca atau stem cell therapy kian dilirik sebagai terobosan medis yang menjanjikan harapan baru bagi pasien penyakit kronis hingga mematikan. Di tengah keterbatasan pengobatan konvensional, terapi ini menawarkan pendekatan regeneratif yang tidak hanya mengatasi gejala, tetapi juga berupaya memperbaiki kerusakan jaringan di tingkat sel.
Sel punca memiliki kemampuan unik untuk memperbarui diri dan berdiferensiasi menjadi berbagai jenis sel, seperti sel darah, saraf, maupun jaringan otot.
Potensi tersebut membuat terapi sel punca banyak dikembangkan untuk penanganan penyakit berat, mulai dari kanker darah, penyakit autoimun, hingga gangguan degeneratif.
Advertisement
Medical Advisor PT Cordlife Persada, dr. Meriana Virtin, menjelaskan, terapi sel punca bekerja dengan prinsip memperbaiki atau menggantikan sel yang rusak akibat penyakit.
Menurutnya, pendekatan ini membuka peluang besar bagi pasien yang sebelumnya memiliki pilihan terapi terbatas.
"Terapi sel punca memberikan harapan baru, terutama pada penyakit kronis dan kondisi yang sulit ditangani dengan pengobatan standar. Namun, penerapannya harus berbasis bukti ilmiah dan dilakukan secara bertanggung jawab," ujar Meriana.
Salah satu penerapan terapi sel punca yang telah lama digunakan adalah transplantasi sel punca hematopoietik pada pasien kanker darah seperti leukemia dan limfoma.
Prosedur ini membantu memulihkan fungsi sumsum tulang setelah pasien menjalani kemoterapi dosis tinggi, sehingga tubuh dapat kembali memproduksi sel darah yang sehat.
Selain kanker, terapi sel punca juga tengah diteliti untuk penyakit jantung, stroke, diabetes, hingga gangguan saraf seperti Parkinson.
Sejumlah hasil penelitian awal menunjukkan adanya perbaikan fungsi organ dan peningkatan kualitas hidup pasien, meski masih membutuhkan uji klinis lanjutan untuk memastikan efektivitas dan keamanannya dalam jangka panjang.
Â
Sumber Utama Sel Punca
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4717453/original/031148700_1705391334-fotor-ai-20240116142033.jpg)
Dalam praktik medis, terdapat beberapa sumber utama sel punca, di antaranya sumsum tulang, darah perifer, serta darah dan jaringan tali pusat. Masing-masing sumber memiliki kelebihan dan tantangan tersendiri, terutama terkait kecocokan donor.
Sel punca yang bersumber dari sumsum tulang mensyaratkan tingkat kecocokan donor hingga 100 persen agar proses transplantasi dapat dilakukan dengan aman.
Persyaratan ini kerap menjadi kendala serius, karena tidak semua pasien memiliki donor yang benar-benar cocok, terlebih ketika terapi harus dilakukan dalam waktu terbatas.
Sebaliknya, sel punca yang berasal dari darah tali pusat dinilai lebih toleran. Sumber ini tidak mengharuskan kecocokan sempurna antara donor dan penerima, sehingga peluang pasien untuk mendapatkan terapi menjadi lebih besar.
Meriana menekankan bahwa faktor inilah yang membuat darah tali pusat semakin dilirik sebagai alternatif sumber sel punca yang lebih fleksibel.
Â
Advertisement
Sel Punca di Indonesia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4945936/original/087656400_1726563158-fotor-ai-20240917154136.jpg)
Di Indonesia, pengembangan terapi sel punca telah memiliki payung hukum yang jelas. Undang-Undang No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan mengatur pemanfaatan teknologi kesehatan, termasuk terapi berbasis sel dan jaringan, dengan menekankan prinsip keamanan, etika, serta perlindungan pasien.
Menurut Meriana, regulasi ini menjadi landasan penting agar terapi sel punca tidak disalahgunakan dan hanya dilakukan sesuai standar medis.
Lebih lanjut dia menegaskan bahwa edukasi kepada masyarakat menjadi hal krusial di tengah meningkatnya minat terhadap terapi sel punca.
Pasien perlu memahami bahwa terapi ini bukan solusi instan atau 'obat ajaib', melainkan bagian dari pendekatan medis yang kompleks dan harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.
Dengan dukungan regulasi yang jelas dan riset yang terus berkembang, terapi sel punca diharapkan dapat menjadi bagian dari solusi jangka panjang dalam penanganan penyakit kronis dan mematikan.
Bagi banyak pasien, perkembangan ini menghadirkan harapan baru untuk hidup yang lebih berkualitas di masa depan.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8414164/original/000004000_1782298740-Cek_fakta_-_rumor_ukraina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7676875/original/060602200_1780471869-Tugas__23_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8406223/original/090481000_1782289085-cek_fakta_-_insentif_guru_asn.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256117/original/079954000_1781147945-Tugas__29_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/262/original/004103300_1521089203-WhatsApp_Image_2018-03-15_at_12.45.09.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5334428/original/084075100_1756715756-asian-researcher-in-laboratory-from-back.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263365/original/096832600_1781914237-063_2282418040.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258625/original/008972500_1781391455-000_B6Z46X3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263744/original/028849200_1781996788-AP26171656106233.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262510/original/043477700_1781827837-AP26169828495121-Kanada_Piala_Dunia_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5542959/original/069384900_1775008055-Italia_vs_Bosnia-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264262/original/083963700_1782102827-senegal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260740/original/033303400_1781654609-063_2281951293.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263474/original/094364200_1781931705-paraguay.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8415599/original/012053300_1782300444-turki.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263847/original/059626700_1782021744-000_B7RA6W8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263738/original/072928200_1781986742-Crysencio_Summerville.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259148/original/073901100_1781485988-diallo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5491064/original/034437400_1770081229-engin-akyurt-YC1BOfrhGqI-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5049315/original/029011000_1734064295-1734060395632_penyakit-vertigo-itu-apa-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5119482/original/015663600_1738578292-Jeruk_lemon_dan_nipis.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5080857/original/040659000_1736161635-1736157632143_caption-tentang-anak-kecil.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5485548/original/063674100_1769511840-closeup-shot-sleeping-bat-wrapped-its-wings.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3381648/original/079106200_1613731347-20210219-BANJIR-CIPINANG-MELAYU-HERMAN-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5488858/original/071461200_1769767201-Screenshot_2026-01-30_161429.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5405645/original/081413800_1762491987-woman-suffering-from-pain-lower-abdomen-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5488352/original/042468700_1769747721-Kelelawar_nipah.jpg)