Pria Lansia yang Teriaki Wanita Teroris di Transjakarta Minta Maaf

Pria lanjut usia (lansia) yang meneriaki seorang wanita sebagai teroris di halte Transjakarta akhirnya minta maaf. Permintaan maaf ini dilakukan JH (69) usai dirinya diamankan polisi beberapa waktu lalu.

Diperbarui 10 Juni 2025, 08:53 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pria lanjut usia (lansia) yang meneriaki seorang wanita sebagai teroris di halte Transjakarta akhirnya minta maaf. Permintaan maaf ini dilakukan JH (69) usai dirinya diamankan polisi beberapa waktu lalu.

Hal ini terlihat dalam video yang diunggah oleh akun resmi @humaspolsekgrogolpetamburan.

"Maaf atas kekhilafan saya yang saya ucapkan, sehingga mbak atau ibu yang saya kasihi saya tidak akan mengulangi lagi, sehingga mbak bisa bekerja dengan leluasa, seperti semula, seperti tidak ada tidak ada kejadian yang berikut-berikutnya," ujar JH seperti dalam video tersebut, Selasa (10/6/2025).

Dalam video itu, JH yang menggunakan batik hitam terlihat meminta maaf kepada wanita tersebut yang menggunakan pakaian dan hijab berwarna merah.

Permintaan maaf itu pun juga disaksikan oleh seorang pria dengan memakai baju batik biru yang berdiri diantara JH dan wanita tersebut.

"Dalam hal ini saya berjanji, tidak akan mengulangi dengan siapapun di dalam busway, karena transportasi saya hanya busway," ujarnya.

Kasus Berakhir Damai

Polisi berhasil mengamankan pria lanjut usia (lansia) yang sempat viral usai terekam marah-marah dan meneriaki seorang wanita sebagai teroris. Video kejadian tersebut diunggah oleh akun @warga.jakbar.

Kepala Unit Reserse Kriminal (Kanit Reskrim) Polsek Grogol Petamburan, AKP Aprino Tamara, menyampaikan bahwa lansia berusia 69 tahun itu telah dipertemukan dengan korban setelah diamankan.

 "Sudah ketangkap, kemarin pagi, pelakunya. Terus sudah kita amankan, tadi pagi korbannya datang ke sini, ketemu dengan si pelaku. Terjadilah kesepakatan damai, akhirnya korban cabut laporan," kata Aprino saat dihubungi, Senin (9/6/2025).

Terkait alasan lansia tersebut meneriaki korban, polisi menyebut ada sejumlah faktor yang memicu tindakan itu. Salah satunya adalah karena pelaku terburu-buru ingin mengambil bantuan sosial (bansos).

"Jadi pengakuan dia bahwa dia tersulut emosi, terus dia juga emosi itu karena banyak faktor, kata dia, saya lapar pak, saya belum makan dari pagi, terus kedua, saya juga kepikiran uang kost saya belum bayar," jelasnya.

"Terus yang ketiga saya lagi ngejar cepet-cepet mau ambil bansos pak, katanya gitu. Kakek-kakek ini usia 69 tahun, tinggal sebatang kara," sambungnya.

Kasus Diselesaikan Secara Kekeluargaan

Ia menegaskan, kasus tersebut sudah diselesaikan secara kekeluargaan atau damai antara korban dengan terduga pelaku.

"Sudah, sudah (secara kekeluargaan)," pungkasnya.

Sebelumnya, Sebuah video viral di media sosial yang memperlihatkan seorang pria lanjut usia marah hingga meneriaki wanita sebagai teroris. Kejadian ini diunggah akun @warga.jakbar.

“Hari ini aku dipukul dan ditendang sama bapak-bapak ini di halte depan Taman Anggrek. Karena penampilan saya kayak orang Arab," tulis akun tersebut seperti dikutip merdeka.com, Minggu 1 Juni 2025.

Terkait kejadian itu, Kepala Unit Reserse Kriminal (Kanit Reskrim) Polsek Grogol Petamburan, AKP Aprino Tamara mengatakan, kejadian itu terjadi pada Kamis (29/5) kemarin.

"Saat itu korban bersama dengan terlapor bapak-bapak itu naik satu mobil TransJakarta dari Tanah Abang menuju ke wilayah kita di Halte Taman Anggrek," kata Aprino.

"Nah pada saat di bus tersebut pengakuan dari si korban dia merasa ditendang kakinya dan tangannya dipukul sama yang bersangkutan. Untuk masalahnya apa, dia tidak paham. Karena secara tiba-tiba pada saat di mobil tersebut," sambungnya.

 

Marah dan Teriaki Teroris

Ketika sudah keluar dari halte tersebut, ternyata si bapak lanjut usia itu pun marah hingga mengeluarkan kata atau menyebut wanita tersebut sebagai teroris sesuai seperti pada video.

"Pada saat itu sama petugas TransJakarta dipisahin mereka. Akhirnya sesuai di video itu cewek ini dipisahin, di bapak itu pun terpisah, tapi posisi masih saling adu mulut," jelasnya.

"Kalau dari pengakuan korban ini bahwa dia ngomong 'apa sih lu enggak jelas' bahasanya. Cuma dari bapak-bapak tsb masih ngomong ngeracau dia tidak ingat, cuma ingat ngomong teroris," tambahnya.

Meski mendapat perlakuan tersebut, korban disebutnya tidak belum membuat laporan kepolisian kepada pihaknya.

"Awalnya dia mau minta rekaman CCTV sama petugas TransJakarta, namun tidak diberikan. Karena prosedur dari mereka harus dari pihak kepolisian," ujarnya.

Hubungi Korban

Kemudian, pada keesokan harinya atau pada Jumat (30/5) pihaknya menerima informasi terkait kejadian tersebut dari media sosial. Selanjutnya, mereka menghubungi korban untuk datang ke kantor polisi.

"Selanjutnya yang bersangkutan berkenan datang sekitar siang atau sore di Polsek. Akhirnya kita terima laporan polisinya, yaitu tentang pengaduan penganiayaan ringan dan atau penghinaan ringan Pasal 352 dan atau pasal 315," ucapnya.

Selanjutnya, terhadap korban pun dimintai keterangannya dan dilakukan visum di Rumah Sakit (RS) Sumber Waras.

Meski begitu, untuk saksi dirinya mengaku belum menemukan di Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan hanya ada petugas TransJakarta yang memisahkan mereka berdua.

 

Reporter: Nur Habibie

Sumber: Merdeka.com

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

  • liputan6
    Transjakarta adalah sistem transportasi Bus Rapid Transit (BRT) pertama di Asia Tenggara dan Selatan, yang beroperasi sejak tahun 2004 di Ja
    Transjakarta
  • Lansia