2 Masalah Penerbangan Haji 2025: Pesawat Delay 19 Jam Paling Disorot

Keterlambatan penerbangan jemaah haji kembali terjadi di 2025. Pesawat delay hingga 19 jam dan transit di India menjadi permasalahan penerbangan haji yang paling disorot. Bagaimana respons pemerintah?

Diterbitkan 21 Mei 2025, 15:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Keterlambatan penerbangan jemaah haji masih menjadi masalah klasik yang terus berulang setiap tahun. Kendati pemerintah terus berkomitmen untuk memperbaiki layanan penerbangan haji.

Pada musim haji 2025, setidaknya ada dua insiden yang kembali mencoreng kelancaran pemberangkatan jemaah ke Tanah Suci. Insiden pertama yang menjadi sorotan tajam adalah keterlambatan penerbangan haji hingga 19 jam, membuat jemaah, terutama lansia terlantar dan kelelahan.

Selain itu, insiden lain menimpa pesawat yang mengangkut jemaah haji dari Sumatera Utara. Pesawat tersebut harus kembali ke bandara asal setelah 40 menit mengudara. 

Anggota Komisi VIII DPR RI, Selly Andriany Gantina, mengkritik keras keterlambatan yang dialami jemaah haji kelompok terbang (Kloter) 23 Embarkasi Jakarta-Bekasi (JKS 23). Pesawat yang ditumpangi jemaah haji asal Jawa Barat itu tidak hanya delay hingga 19 jam, tapi juga sempat mendarat di India karena kendala teknis. 

Dia pun meminta pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) memberikan teguran keras dan sanksi terhadap maskapai yang melanggar komitmen kerja sama dalam pelayanan penerbangan haji.

 

Delay 19 Jam dan Transit di India

Anggota Komisi VIII DPR RI, Selly Andriany Gantina mengkritik keterlambatan jemaah haji sampai 19 jam. Selly meminta ada peringatan tegas dan hukuman bagi maskapai yang melanggar ketentuan.

"JKS 23 dari Jawa Barat mereka mengalami keterlambatan, terlambatnya bukan 1-2 jam, tapi mereka sudah terbang, kemudian mereka ditransitkan di India karena ada technical machine, kemudian setelah naik lagi, mereka juga transit lagi, kedua kalinya, maka ini menjadi catatan nih buat kami kepada maskapai-maskapai," kata Selly pada rapat Komisi VIII DPR, dikutip Selasa (20/5/2025).

Selly menyoroti banyaknya jamaah lansia yang pasti kesulitan karena lama menunggu. "Setiap keterlambatan di atas dua jam harus diberikan kompensasi makan, ini hampir sampai dengan 19 jam dan yang kita pikirkan adalah lansia bagaimana dengan mereka ini menjadi catatan saya," katanya.

Respons Kemenag

Menjawab hal tersebut, Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Dirjen PHU) Kemenag, Hilman Latief mengakui pihaknya sudah menegur maskapai yang melakukan transit di Banglore, India, kemudian transit lagi di Dammam.

"Kami sudah tegur, Bu, di satu maskapai katanya ada masalah. Dia sempat mendarat di India di Banglore, ya, di Bangalore naik lagi ternyata mendarat lagi di Dammam, baru kemudian ke Madinah ya. Mereka sudah mengirimkan pernyataan resmi dan tim kami nanti akan mengakumulasikan beberapa hal yang dianggap menyimpang itu," ujar Latief.

Selly meminta penjelasan apakah benar pesawat transit di Dammam lantaran pergantian kru. Jika benar demikian, dia menyebut alasan itu tidak bisa diterima, sebab mengorbankan nasib para jemaah.

"Dia transit lagi hanya gara-gara ganti kru, itu harusnya jangan mengorbankan jemaah, hanya untuk mengganti kru. Nah, ini harus ada punishment juga nih buat Saudi (Saudia Airlines)," tegas Selly.

Kembali Mendarat Setelah 40 Menit Terbang

Pesawat Garuda Indonesia yang mengangkut jemaah haji kloter KNO 14 kembali ke bandara keberangkatan di Bandara Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara, Minggu, 18 Mei 2025. Pesawat itu telah terbang sekitar 40 menit setelah lepas landas.

Kepala Bidang Angkutan Udara dan Kelayakan Udara Kantor Otoritas Bandara Wilayah II Medan, Muhammar Mukhtar, mengatakan, "Diputuskan RTB (kembali ke bandara keberangkatan) oleh pilotnya karena ada flap door untuk ruang avionics itu menyala (lampunya)," mengutip Antara, Senin (19/5/2025).

Pesawat Garuda Indonesia bernomor penerbangan GA 3114 yang membawa 358 jemaah haji itu lepas landas pertama kali di Bandara Kualanamu Deli Serdang pukul 08.15 WIB. Setelah pesawat mendarat kembali sekitar pukul 08.55 WIB, para teknisi maskapai segera mengecek kondisi pesawat.

"Setelah dicek memang agak sedikit longgar dan sudah ditutup kembali flap door-nya," kata Muhammar.

Ia menjelaskan, pintu ruang avionics terdapat di bagian bawah pesawat jenis Airbus A330. "Mungkin karena angin atau apa itu. Yang namanya pesawat itu sangat sensitif," sambung dia. 

 

Jemaah Menunggu di Dalam Pesawat

General Manager PT Garuda Indonesia Wilayah Medan I Wayan Gilang Aditya Subawa mengaku keputusan RTB diambil awak pesawat sebagai langkah preventif.  Hal ini setelah pilot in command mendapati salah satu komponen penunjang pesawat memerlukan pemeriksaan teknis lanjutan.

"Setibanya kembali di Bandara Kualanamu, pengecekan (pesawat) dilakukan oleh tim terkait, termasuk perbaikan pada komponen penunjang pesawat," kata Gilang.

Bahan bakar pesawat diisi ulang dan inspeksi kondisi pesawat dilakukan secara menyeluruh sebelum kembali diberangkatkan. Selama proses berlangsung, seluruh jemaah haji asal Sumatera Utara tetap berada di dalam kabin.

"Layanan tambahan diberikan untuk menjaga kenyamanan jemaah selama menunggu," ujarnya.

Pesawat tersebut akhirnya kembali mengudara pukul 10.46 WIB dari Bandara Kualanamu. Pesawat mendarat di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah pada Minggu, 18 Mei 2025, pukul 15.08 waktu Arab Saudi (WAS).

Rombongan yang keluar melalui Gate D segera diarahkan menuju paviliun D2 untuk menunggu diangkut bus menuju Makkah.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6