Jakarta Banjir Rob Lagi, Ini 3 Langkah yang Dilakukan Pemkot Jakut

Banjir rob kembali menerjang kawasan permukiman di Muara Angke, Jakarta Utara. Pemerintah pun berjanji segera menselesaikan proyek pembangunan tanggul laut di pesisir utara Jakarta.

Diperbarui 30 April 2025, 08:12 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Banjir rob kembali melanda kawasan permukiman di Jakarta Utara sejak Selasa 29 April 2025. Peristiwa ini mengakibatkan kerugian dan penderitaan bagi warga setempat. Penyebabnya beragam, mulai dari naiknya permukaan air laut hingga infrastruktur yang kurang memadai.

Kenaikan permukaan air laut akibat perubahan iklim dan penurunan tanah di Jakarta memperparah situasi. Tembok penahan sepanjang 15 meter dilaporkan jebol, memperburuk dampak banjir rob yang merendam pemukiman warga. Akibatnya, aktivitas warga terganggu, rumah rusak, dan muncul ancaman kesehatan.

"Air yang merendam pemukiman berasal dari limpasan air laut yang meluap ke daratan," kata Kasi Drainase Suku Dinas Sumber Daya Alam (SDA) Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Utara, Yudo Widiatmoko, seperti dikutip dari Antara, Rabu (30/4/2025).

Menurut dia, tanggul laut yang ada saat ini ketinggiannya belum sesuai standar, sehingga tidak mampu membendung air laut melimpas hingga kawasan permukiman. Karena itu, Pemkot Jakut menawarkan sejumlah solusi jangka pendek sambil menunggu proyek pembangunan National Capital Integrated Coastal Development (NCICD).

NCICD merupakan sebuah program pembangunan tanggul pantai dan pengembangan kawasan pesisir Jakarta. Proyek NICD ini merupakan solusi jangka panjang dalam mengatasi banjir rob di pesisir utara Jakarta. 

 

Meninggikan Tanggul hingga Buat Tanggul Darurat

Menurut Yudo, dalam waktu dekat, Sudin SDA Pemkot Jakut akan meninggikan tanggul yang ada sebagai solusi jangka pendek. Ia mengatakan, pemasangan tanggul ini akan dilakukan pada Agustus atau September 2025.

"Tanggul ini diharapkan dapat mencegah air laut masuk saat banjir rob," kata dia.

Sementara untuk kawasan Pluit Karang Ayu dan Pluit Muara Karang, Suku Dinas SDA sedang membangun tanggul di Docking Kapal KPKP dengan beton bertulang. Pembangunan tanggul ini dibangun sepanjang 217 meter dan dengan ketinggian mencapai tiga meter.

“Targetnya pembangunan ini rampung di Agustus atau September dan setelah adanya tanggul ini maka limpasan air laut tak akan meluap ke daratan,” kata dia.

Lebih lanjut, dia mengungkap, banjir rob pada Selasa (29/4/2025) terjadi akibat tembok pembatas roboh dan membuat air laut pasang merendam kawasan tersebut. Tembok sepanjang 15 meter yang ada ini didisain tidak untuk menahan air laut, sehingga ketika pasang datang tembok ini jebol karena kekuatan air pasang.

“Kami sudah memasang tanggul darurat dari geobag dan bronjong. Air masih melimpah tapi hanya terjadi di area docking kapal saja,” katanya.

10 RT Terenda Banji Rob, Ketinggian Capai 50 Cm

Ketua RW 22 Kelurahan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, Bani mengungkapkan, ketinggian air di lingkungan mereka akibat rob mencapai 50 centimeter pada Rabu dini hari sekitar pukul 01.06 WIB.

“Air laut ini mulai naik sejak (Selasa) pukul 20.00 WIB dan hingga saat ini ketinggian air terus meninggi,” kata Bani di Jakarta, Rabu.

Dia menyebut, ada 10 RT dari RW 22 yang terdampak banjir rob atau banjir pesisir tersebut dan ini sudah berlangsung selama dua hari.

“Kalau pagi datang ke sini seolah-olah ga terjadi apa-apa tapi kalau malam air masuk ke rumah warga,” ujarnya.

Menurut dia, kondisi ini rutin dialami warga, dan mereka sudah pasrah terhadap situasi seperti ini. “Kondisi ya seperti ini kalau banjir rob,” kata dia.

Ia mengatakan, ada 1.000 kepala keluarga (KK) yang hidup di lingkungan RW 22 Kelurahan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara ini. “Kami sudah terbiasa menghadapi banjir seperti ini, jika tidak ada bantuan ya tidak masalah,” kata dia.

 

BMKG Keluarkan Peringatan Dini Banjir Rob

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini banjir pesisir atau banjir rob pada 27 April hingga 4 Mei 2025.

Banjir rob terjadi akibat adanya fenomena Super New Moon atau fase bulan perigee dan bulan baru.

Fenomena ini berpotensi meningkatkan ketinggian air laut maksimum berupa banjir pesisir (Rob) di wilayah pesisir utara Jakarta.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6