Liputan6.com, Pontianak: Hidup bertetangga memang susah-susah gampang. Tak tahan melihat pencurian kayu, sejumlah massa merusak kantor Konsulat Malaysia di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Pontianak. Uniknya, peristiwa ini terjadi bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-43 Kemerdekaan Malaysia, Kamis (31/8).
Perusakan gedung ini terjadi sekitar pukul 11 siang. Awalnya, puluhan pengunjuk rasa, yang mengaku dari Front Mahasiswa Indonesia Kalimantan Barat dan Gerakan Aliansi Pendukung Reformasi Mahasiswa, mendatangi Gedung Konsulat Malaysia di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Pontianak.
Mereka menuntut Pemerintah Malaysia menghentikan pencurian kayu di wilayah perbatasan. Aksi ini juga mengecam warga negara tersebut yang banyak memindahkan patok tapal batas, dengan tujuan merambah hasil hutan Kalimantan Barat.
Sayangnya, aksi ini berkembang menjadi tindakan anarki. Pemicunya, pihak Konsulat Malaysia melarang para pengunjuk rasa memasuki gedung dan menemui Mohamad Nizam Ramli, Konsulat Muda Malaysia.
Massa yang marah ini kemudian melempari bendera kebangsaan Malaysia dengan telur busuk dan air comberan. Selain itu, mereka juga melempari kaca gedung konsulat dengan batu. Akibatnya, beberapa bagian kaca gedung dan kaca pos penjagaan pecah.
Untuk menghentikan aksi ini, Kepolisian Resor Kota Pontianak mengerahkan satu peleton Pengendali Masyarakat. Mereka berhasil mengamankan empat pemimpin pengunjuk rasa. Keempat orang itu, Amran, Andre, Rahmat, dan Rudi, kini menjalani pemeriksaan di Mapolresta Pontianak.
Akibat dari insiden tersebut, Wakil Perdana Menteri Malaysia, Abdulah Ahmad Badawi, sebagaimana dikutip kantor berita AFP, meminta pemerintah Indonesia meningkatkan pengamanan terhadap kantor-kantor perwakilan negaranya di Indonesia.(ULF/Amin Alkadrie dan Syarif Eddy)
Perusakan gedung ini terjadi sekitar pukul 11 siang. Awalnya, puluhan pengunjuk rasa, yang mengaku dari Front Mahasiswa Indonesia Kalimantan Barat dan Gerakan Aliansi Pendukung Reformasi Mahasiswa, mendatangi Gedung Konsulat Malaysia di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Pontianak.
Mereka menuntut Pemerintah Malaysia menghentikan pencurian kayu di wilayah perbatasan. Aksi ini juga mengecam warga negara tersebut yang banyak memindahkan patok tapal batas, dengan tujuan merambah hasil hutan Kalimantan Barat.
Sayangnya, aksi ini berkembang menjadi tindakan anarki. Pemicunya, pihak Konsulat Malaysia melarang para pengunjuk rasa memasuki gedung dan menemui Mohamad Nizam Ramli, Konsulat Muda Malaysia.
Massa yang marah ini kemudian melempari bendera kebangsaan Malaysia dengan telur busuk dan air comberan. Selain itu, mereka juga melempari kaca gedung konsulat dengan batu. Akibatnya, beberapa bagian kaca gedung dan kaca pos penjagaan pecah.
Untuk menghentikan aksi ini, Kepolisian Resor Kota Pontianak mengerahkan satu peleton Pengendali Masyarakat. Mereka berhasil mengamankan empat pemimpin pengunjuk rasa. Keempat orang itu, Amran, Andre, Rahmat, dan Rudi, kini menjalani pemeriksaan di Mapolresta Pontianak.
Akibat dari insiden tersebut, Wakil Perdana Menteri Malaysia, Abdulah Ahmad Badawi, sebagaimana dikutip kantor berita AFP, meminta pemerintah Indonesia meningkatkan pengamanan terhadap kantor-kantor perwakilan negaranya di Indonesia.(ULF/Amin Alkadrie dan Syarif Eddy)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5441352/original/085354000_1765504848-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-12-12T084357.150.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5528523/original/006924900_1773286985-cek_fakta_-_ikan_budidaya_link_pendaftaran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380756/original/071937100_1792737316-Screenshot_2026-10-23_124005.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380731/original/013852100_1792736272-cek_fakta_-_ikan_budidaya_lele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)