GAM Terancam di Pulau Nasi

Memasuki hari ketiga serbuan TNI ke Pulau Nasi, Nanggroe Aceh Darussalam, empat dari delapan pos Gerakan Aceh Merdeka sudah dikuasai.

Diterbitkan 23 Mei 2003, 23:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Pulau Nasi: Serbuan pasukan TNI Angkatan Darat dan Marinir ke Pulau Nasi, Nanggroe Aceh Darussalam, hingga Jumat (23/5), sudah menguasai empat dari delapan pos Gerakan Aceh Merdeka. Empat pos yang dikuasai masing-masing satu pos di Desa Lamting, Desa Demit serta dua pos di Desa Rabo.

Selain itu, dalam operasi yang memasuki hari ketiga di pulau seluas 42 hektare ini tentara juga menyita 22 butir amunisi, satu handy talky, bendera GAM, dan satu unit kapal boat ikan bermesin 40 PK. TNI juga sempat memeriksa sepuluh warga setempat yang diduga anggota separatis.

Kehadiran TNI di Pulau Nasi disambut baik warga setempat sebab pulau berpenghuni 446 kepala keluarga ini sebelumnya sempat diancam GAM. Warga juga dilarang kelompok separatis setempat melaut dan memasok sembako dari Aceh daratan. Lantaran itu, beberapa hari warga Pulau Nasi sempat mengalami kesulitan mendapatkan bahan pangan. Untuk menghindari kerawanan pangan yang sangat parah, TNI kemudian mengirimkan bantuan lima ton beras, mi instan, selimut, dan kain sarung.

Penyerangan dan penguasaan pos-pos GAM sepertinya belum akan berhenti menyusul penambahan kekuatan di Pulau itu. Hari ini dipastikan Batalyon 305 memperkuat Pasukan Marinir dari darat. Penguasaan atas Pulau Nasi memang cukup penting lantaran pulau ini diketahui sebagai sumber pendanaan GAM. Di pulau yang diduduki GAM sejak penandatanganan perjajian Jenewa, Swiss, 9 Desember 2002 ini, diketahui terdapat ladang ganja yang sangat luas. Ganja tersebut kemudian ditukar dengan persenjataan dan amunisi yang dipasok dari Thailand. Selain diketahui sebagai pusat pelatihan militer di pulau ini juga diidentifikasi ada sekitar 100 anggota GAM [baca: Panglima dan Kepala Polisi GAM Tewas].

Memasuki hari keempat operasi pemulihan keamanan di Aceh, harga sembako terus merangkak naik di Banda Aceh. Kenaikan diakibatkan terhambatnya jalur transportasi angkutan barang. Para sopir dan pemilik kendaraan, umumnya khawatir terjadi gangguan keamanan di jalan [baca: Sembako Semakin Langka di Aceh].

Kekhawatiran para sopir juga semakin tinggi menyusul semakin gencar kelompok GAM merazia kartu tanda penduduk dan surat tanda nomor kendaraan bermotor. Bukan hanya itu saja, di Bireun misalnya, tiga truk pengangkut tomat dan kol dibakar orang tak dikenal. Seperti biasa, warga di sekitar peristiwa tersebut lebih memilih bungkam dan enggan bersaksi. Mereka hanya asyik menonton aksi pembakaran tersebut.

Harga sembako yang melambung naik di antaranya minyak tanah dan telur. Kenaikan yang paling tinggi adalah harga tomat. Bila sebelumnya hanya Rp 4.000 kini mencapai Rp 14 ribu per kilogram. Sedangkan harga sembako yang masih stabil adalah beras dan gula. Harga sembako yang cenderung naik umumnya yang berasal dari Aceh Tengah dan Sumatra Utara.

Masih dari Bireun, tentara juga menggelar sweeping untuk mencari anggota GAM. Penyisiran dilakukan dengan mengumpulkan para laki-laki di sebuah tempat. Mereka umumnya mengakui GAM sempat berada di wilayahnya. Namun sejak pemerintah memutuskan operasi militer, anggota GAM hengkang dari wilayahnya.

Hari ini Panglima Darurat Militer Aceh yang juga Pangdam Iskandar Muda Mayor Jenderal TNI Endang Suwarya menggelar rapat komando. Rapat dihadiri pejabat setempat dan dihadiri bupati dari seluruh wilayah Aceh. Dalam pertemuan tersebut dibahas soal pengungsi, pembakaran sekolah, dan penjelasan mengenai konsep-konsep perubahan status Aceh yang menjadi darurat militer. Dalam rapat juga mencuat rencana mengganti sekitar 10-20 persen kepala desa di daerah rawan konflik. Sedangkan bagi kepala desa yang masih mampu akan didampingi personel TNI.

Siang tadi menjelang salat Jumat, di Banda Aceh terjadi insiden pelemparan granat yang dilakukan dua orang tak dikenal yang mengendarai sepeda motor. Granat yang diarahkan ke pos keamanan itu tidak meledak di dalam pos yang dijaga 15 orang. Namun seorang anggota TNI Prajurit Dua TNI Sukandar dari Yonif 312 terkena pecahan granat. Korban kemudian dilarikan ke rumah sakit milik TNI-Angkatan Darat di Banda Aceh. Kondisi terakhir Sukandar dilaporkan cukup stabil dan kini masih dirawat di rumah sakit itu.

Hingga hari kelima operasi militer di Tanah Rencong, pihak TNI mengklaim telah menewaskan 48 anggota GAM dan menangkap 21 lainnya. DI pihak TNI korban tewas mencapai dua orang dan 12 lainnya luka-luka. Sementara korban tewas dari masyarakat berjumlah empat orang dan seorang luka-luka.(YYT/Tim Liputan 6 SCTV)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6