Sukses

&quotRumah Ketujuh&quot, Komedi Romantis Mimpi dan Astrologi

Liputan6.com, Jakarta: Kisah cinta tampaknya menjadi ide tak berkesudahan buat mencipta karya, apapun medianya. Namun memang, cerita tali kasih romantis yang dirajut komedi lewat layar lebar, masih langka di negeri ini. Bisa jadi, nuansa itulah yang terbersit di benak para seniman film yang tergabung dalam Miles Production (MP), buat diwujudkan menjadi tak sekadar angan-angan. "Tapi, pada dasarnya, saya memang menyukai komedi romantis kok," ujar Mira Lesmana, sang pemilik MP, dalam dialog bersama reporter Bayu Setiyono seputar kehadiran film "Rumah Ketujuh" (RK7), Sabtu (25/1) pagi di Studio SCTV Jakarta. Istri aktor Mathias Muchus itu hadir bersama sang sutradara Rudi Soedjarwo, dan Dewi Rezer, pemeran tokoh Lintang.

Usut punya usut, ide komedi romantis dengan media awal digital--dan dengan hasil akhir pita seluloid--ini sebenarnya hadir saat acara kongkow bareng. Kala itu, muncul kasus sehari-hari seputar fenomena mimpi dan dunia astrologi. Buntutnya, Rayya Makarim didaulat membuat skenario ihwal pergumulan dua sahabat soal kebenaran di balik mimpi dan astrologi. Pembuat skenario film "Pasir Berbisik" ini pun menuntaskannya pada 1997, lewat kisah perdebatan kocak plus ngotot antara dua sahabat. Masing-masing berkeyakinan, astrologi lebih akurat ketimbang mimpi, dan begitu pula sebaliknya.

MP tak mau membuang waktu lagi. Rudi Soedjarwo digaet buat menyutradarai cerita persahabatan antara Lintang dan Cakra--yang diperankan Indra Birowo. Sementara ilustrasi musik RK7 digarap Indra Lesmana, dibantu penggebuk drum Aksan Syuman dan gitaris Oele Patisellano. "Kalau nggak cepet dibikin, bakal lama lagi," kata Mira.

Tugas berat di depan mata kini dihadapi Rudi. Padahal, sutradara muda ini masih menyelesaikan film "Ada Apa dengan Cinta" (A2dC). "Saya disodorin dua script sekaligus," ucap pendek lelaki berkacamata itu. Toh akhirnya, pekerjaan tadi ditanggapinya juga pada 2000 silam. Untung persoalan yang diangkat tak berbeda jauh, seperti ketika menuntaskan film-film lainnya bersama Mira dan Riri Reza. "Syutingnya juga hampir berbarengan," potong Mira.

Tugas memvisualkan skenario versi Rayya berjalan mulus. Apalagi, Rudi pun "sedikit" terpengaruh dengan yang namanya mimpi dan astrologi. "Ini soal kehidupan sehari-hari. Satu percaya mimpi, satu percaya astrologi," kata sutradara empat film ini. Nalurinya pun tergerak buat mencari tokoh yang dianggap paling pas. Tugas ini pun diemban Mira, yang juga mencari bibit baru berbakat sesuai kriteria MP.

Lewat seleksi, muncul nama Dewi yang dinilai cocok buat karakter Lintang. Sementara pasangannya, MP memilih Indra Birowo untuk memerankan tokoh Cakra. Rudi langsung mematok persyaratan mulai dari fisik, karakter, dialog, hingga bahasa tubuh. "Tapi, saya lebih ngikutin insting buat seleksi tokoh," ujar Rudi. Berdasarkan pengalaman, menurut Mira, MP memang mempercayai kemampuan seleksi ala sutradara ini.

Rumah ketujuh dikenal sebagai bagian ketujuh yang khusus membahas soal cinta dalam filosofi astrologi. Dalam RK7, Lintang-Cakra sudah bersahabat sejak kecil. Namun keyakinan antara mimpi dan astrologi tadi yang belakangan membuat jarak di antara mereka. Berdasarkan astrologi, Lintang was-was lantaran sebelum usia 25 tahun, dia mesti sudah punya pasangan. Sebab buat perempuan berbintang Virgo, bila sampai umur itu belum punya jodoh dari bintang Taurus, dia bakal tak kawin-kawin seumur hidup. Sementara kisah Cakra dipenuhi target mendapatkan cewek, yang sama persis sesuai mimpi. Obsesi keduanya membuat persahabatan di antara mereka mulai terkikis perlahan.

Beban Dewi yang mesti berakting kebat-kebit mencari kekasih, bukan perkara gampang. Apalagi, VJ MTV satu ini tak punya pengalaman beraksi di layar lebar. "Pertama sih deg-degan juga. Nggak yakin bisa akting," tutur perempuan yang mengaku berniat menjadi newscaster ini. Namun berkat dukungan kru yang memang sudah dikenalnya, RK7 berjalan sesuai target, dan bakal hadir pada momentum Valentine Day tahun ini, 14 Februari mendatang, serentak di enam kota besar di Indonesia. "Yang penting, banyak pengalaman menarik yang saya dapat," kata Dewi.

Soal laris manis di pasaran seperti karya yang terdahulu, Mira mengaku tak punya harapan muluk. Perempuan kelahiran 38 tahun lampau itu malah sengaja menghindar pertanyaan ini. "Laku? Susah ngejawab," kata dia. Sebab yang terpenting, menurut dia, membuat film itu bukan untuk laku semata. Tapi--tentu saja--mesti sebaik mungkin, serta bisa diapresiasi penonton. Dan, kisah komedi romantis pun mulai tak langka lagi di negeri ini.(BMI)

    Video Populer News

    Tutup Video