Sukses

5 Cerita Menarik Saat Nadiem Menginap di Rumah Seorang Guru Penggerak

Liputan6.com, Jakarta Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim saat mengunjungi Yogyakarta menginap di rumah salah satu calon guru penggerak pada, Senin, 13 September 2021.

Hal ini dibagikan secara langsung melalui Instagram pribadinya @nadiemmakarim, Selasa, 14 September.

"Pengalaman yang luar biasa bisa menginap di rumah keluarga Bu Nuri, salah satu calon Guru Penggerak di Yogyakarta. Saya bisa mendengarkan langsung bagaimana cerita Bu Nuri mendedikasikan hidupnya menjadi guru dan semangatnya untuk membuat perubahan di dunia pendidikan," kata Nadiem

Dia pun membagikan foto dirinya saat berswafoto dengan Khoiry Nuria Widyaningrum atau akrab disapa Ibu Nuri, yang diketahui merupakan seorang calon guru penggerak asal Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Dalam momen tersebut, Nadiem mendapatkan kesempatan berdialog secara langsung dan mengaku ingin merasakan secara langsung keseharian kegiatan seorang guru penggerak.

Sementara itu, ibu Nuri mengaku dirinya masih tidak mengira kalau kediamannya bakal dikunjungi Nadiem.

"Saya masih berpikir, sekelas Mas Menteri mana mungkin datang ke rumah?" ucap Ibu Nuri.

Berikut merupakan sejumlah hal menarik saat Nadiem menginap di rumah seorang guru penggerak Yogyakarta, yang telah dihimpun oleh Liputan6.com:

 

2 dari 6 halaman

1. Nadiem Bagikan Pengalamannya

Nadiem Makarim mengaku banyak mendengarkan kisah Ibu Nuri yang telah mencurahkan hidupnya untuk dunia pendidikan di Indonesia. 

Salah satu calon Guru Penggerak tersebut merupakan angkatan ketiga. Ibu Nuri mengajar di SDN Jetisharjo, Kabupaten Sleman.

"Pengalaman yang luar biasa bisa menginap di rumah keluarga Bu Nuri, salah satu calon Guru Penggerak di Yogyakarta. Saya bisa mendengarkan langsung bagaimana cerita Bu Nuri mendedikasikan hidupnya menjadi guru dan semangatnya untuk membuat perubahan di dunia pendidikan," kata Nadiem seperti dikutip.

Nadiem Makarim pun terlihat di sebuah kamar dengan latar belakang lemari kayu.

"Bu Nuri itu Guru Penggerak yang baik hati sekali yang membolehkan saya nginep satu malam di rumahnya," ungkapnya. 

 

3 dari 6 halaman

2. Menginap di Rumah Ibu Nuri

Nadiem pun menceritakan bagaimana dirinya diizinkan menginap di rumah keluarga Ibu Nuri.

“Mohon maaf mengganggu, Ibu. Saya ingin mampir. Apakah boleh?” ucap Nadiem di teras kediaman keluarga Ibu Nuri.

Maksud Nadiem menginap di kediaman Ibu Nuru adalah demi belajar dari keseharian Guru Penggerak.

“Program Guru Penggerak itu adalah salah satu program terpenting Kemendikbudristek, karena program ini adalah regenerasi pemimpin-pemimpin sekolah. Kalau saya tidak lagi menjabat sebagai Menteri, yang akan meneruskan transformasi pendidikan adalah para Guru Penggerak,” terang Nadiem Makarim.

"Saya ingin merasakan langsung keseharian sebagai calon Guru Penggerak agar saya lebih memahami. Saya ingin tahu suka dan duka Ibu Nuri sebagai guru. Boleh Ibu, saya minta izin menginap?" sambungnya.

 

4 dari 6 halaman

3. Menangkap Ada Keresahan

Duduk santai bersama Ibu Nuri dan keluarga di ruang tamu, Nadiem mengatakan bahwa dirinya menangkap ada benang merah ketika bertemu dengan para calon Guru Penggerak di berbagai daerah di Indonesia. 

"Karakter calon Guru Penggerak itu lugas dalam menyampaikan pendapat dan gagasan. Terutama, saya selalu melihat ada keresahan dalam diri guru-guru yang saya temui. Mereka semua ingin melakukan perubahan untuk meningkatkan kualitas pendidikan," kata Nadiem. 

5 dari 6 halaman

4. Ucap Terima Kasih untuk Keluarga Ibu Nuri

Tak lupa, dalam postingannya Nadiem Makarim menyampaikan terima kasih kepada keluarga Ibu Nuri yang telah mengizinkannya menginap di rumah mereka.

"Terima kasih Bu Nuri dan keluarga yang sudah menerima saya menginap di sini. Terima kasih juga untuk gudeg, krecek, dan tahu tempe bacemnya yang enak banget," kata Nadiem. 

 

 

6 dari 6 halaman

5. Nadiem Ungkap Alasan Nuri Jadi Guru Penggerak

 

Ibu Nuri menceritakan kalau dirinya pernah mengenyam delapan tahun sebagai guru dan tiga tahun sebagai kepala sekolah di sekolah Muhammadiyah. Kini ia memilih menjadi guru di sekolah negeri.

Ia mengaku,"Di sinilah saya menemukan bahwa benar pendidikan memang harus ditransformasi. Kenapa sekolah negeri pinggiran tempat saya mengajar tidak sebagus sekolah swasta? Kemudian saya merasa tergerak."

Nuri bercerita soal alasan memilih kembali menjadi guru padahal tadinya sudah menyandang status kepala sekolah. Dia menyinggung beban administrasi yang dialami sebagai kepala sekolah sehingga membuatnya tidak leluasa mengajar.

"Ibu sepertinya sepakat dengan saya, bahwa administrasi pendidikan itu tidak sama dengan pembelajaran. Administrasi tidak ada hubungan langsung dengan murid dan hanya mengikuti aturan. Sementara, tugas guru yang sebenarnya adalah untuk fokus memberikan pembelajaran yang bermakna bagi murid," tanggap Nadiem.

Ibu Nuri langsung menambahkan, bahwa dirinya menyambut positif kebijakan penghapusan Ujian Nasional atau UN.

“Saya juga suka kebijakan Mas Menteri menghapus UN. Saya senang sekali," sebutnya.

 

Deni Koesnaedi