Sukses

Angka Kasus Covid-19 Menurun, Bolehkah Sekolah Tatap Muka Dimulai?

Liputan6.com, Jakarta Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI), Masdalina Pane mengingatkan bahwa pembukaan sekolah secara serentak hanya boleh dilakukan jika terjadi penurunan kasus Covid-19 selama lima minggu berturut-turut.

Masdalina menganggap, penurunan temuan kasus positif saat ini belum bisa disebut Indonesia tengah berangsur terbebas dari Covid-19 dan membuat sekolah bisa begitu saja dibuka serentak. Pasalnya ia menilai penurunan belum sampai lima minggu.

"Masih Juli ya, Juli ya kan masih butuh waktu cukup lama. Nanti kita lihat, kalau dalam dua bulan ini ternyata turunnya (angka kasus positif) jauh sampai menjelang normal ya its oke (boleh dibuka)," ujar Masdalina kepada Liputan6.com, Rabu (3/3/2021).

Namun, angka lima tersebut menurutnya bukan menjadi jaminan. Pascapenurunan lima minggu, angka kasus positif Covid-19 harus terus melandai dan tidak terjadi peningkatan di tengah jalan. 

Sekolah pascapandemi, ujar Masdalina harus berbeda dari sebelum pandemi. Kendati kasus positif menurun, tapi penerapan protokol kesehatan di lingkungan sekolah harus tetap dilakukan. Hal ini guna menghindari potensi munculnya gelombang kedua pandemi Covid-19.

"Ya harus ikuti sistematika pengendalian, tetap lakukan 3 M, 3 T. Terutama 3 T-nya ya tracing dan tracking-nya, isolasi, karantinanya yang harus dikuatkan," katanya.

Masdalina juga menegaskan bahwa penurunan angka kasus saat ini bukan lantaran program vaksinasi dari pemerintah. Apalagi proses vaksinasi Covid-19 sendiri masih berada di persentase 1,5 persen.

"Kita itu terlalu euforia dan terlalu glorifikasi dengan vaksin. Yang divaksin itu baru 2 juta orang, dari target 181 juta penduduk Indonesia. Itu masih belum ada apa-apanya. Jadi penurunan bukan karena vaksin," ucap dia.

  

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

  

**Ibadah Ramadan makin khusyuk dengan ayat-ayat ini.

2 dari 3 halaman

Vaksinasi Tak Konsisten

Masdalina juga menyoal ihwal ketidakkonsistenan pemerintah dalam program vaksinasi. Ia melihat pemerintah seakan menggunakan vaksinasi demi kepentingan politik. Hal itu tampak dari melencengnya sasaran prioritas vaksinasi dari semula yang ditentukan.

"Terus target, target tidak sesuai. Contohnya kemarinkan katanya tenaga kesehatan di awal, kemudian guru, sekarang tiba-tiba lansia, tiba-tiba pedagang pasar, DPR ini apa sih sebenarnya? Kita kalau mau sesuatu bukannya sesuka-sukanya kaya gitu," ujar dia.

Menurutnya dalam dunia kesehatan sesuatu keputusan tak bisa diambil dengan sesuka hati. Jika awalnya memutuskan satu target, maka mestinya pemerintah komitmen terhadap keputusan itu.

"Jangan kemudian dipakai politik gitu, itukan politisasi, wartawan, pedagang pasar. Pertanyaannya (vaksinasi terhadap) tenaga kesehatan udah beres belum. Belum masih banyak nakes kita yang belum dapat vaksin," tegasnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: