Sukses

Soal Edhy Prabowo, Hashim: Prabowo Sangat Kecewa dengan Anak yang Dia Angkat dari Selokan

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sangat marah terhadap Edhy Prabowo yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena terkait kasus korupsi benih lobster atau benur. Dia merasa dikhianati oleh mantan Menteri Kelautan dan Perikanan itu.

Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo yang juga adik Prabowo Subianto.

"Prabowo sangat marah, sangat kecewa. Merasa dikhianati," kata Hashim saat konferensi pers di kawasan Jakarta Utara, Jumat (4/12/2020).

Hashim lalu mengungkapkan kemarahan Prabowo dengan menggunakan bahasa Inggris. "Terus terang saja dia bilang ke saya secara bahasa Inggris, saya kan dengan kakak saya sudah 66 tahun pakai Bahasa Inggris," ucap dia.

"Dia (Prabowo) sangat kecewa dengan anak yang dia angkat dari selokan 25 tahun lalu," kata Hasyim.

"I pick him up from the gutter. And this what he does to me. (Saya ambil dia dari selokan dan ini lah yang dia lakukan pada saya)," kata Hashim menirukan Prabowo.

Di kesempatan sama, Pengacara keluarga Hashim, Hotman Paris Hutapea membantah keterlibatan kliennya terkait kasus Edhy Prabowo. Menurutnya, tidak ada kaitannya keluarga Prabowo pada kasus ini.

"Mentang-mentang Edhy ini adalah mantan anak buah Prabowo Subianto seolah-olah semua yang dilakukan dalam bidang ekspor ini motornya di belakang adalah Prabowo atau keluarganya dapat manfaat. Itu image," tandasnya.

 

2 dari 4 halaman

Hashim Djojohadikusumo Buka-Bukaan soal Namanya Dikaitkan Kasus Izin Ekspor Benur

Pengusaha sekaligus adik Menhan Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo bersama anaknya yang kini menjadi Calon Wakil Wali Kota Tangerang Selatan Rahayu Saraswati mengklarifikasi keterkaitan PT Bima Sakti Mutiara (BSM) dalam ekspor benur atau benih lobster.

Klarifikasi tersebut dilakukan Hashim dan Rahayu didampingi oleh Kuasa hukumnya Hotman Paris Hutapea di salah satu kafe di Jakarta, Jumat (4/12/2020).

Dalam kesempatan tersebut, Kuasa hukum Hashim Djojohadikusumo, Hotman Paris mengatakan tulisan di salah satu media cetak nasional tentang PT BSM sudah memiliki izin ekspor benih lobster adalah informasi yang tidak benar.

"Di dalam majalah ini (tidak disebut namanya), disebutkan (PT BSM) sudah punya izin ekspor. Padahal izin ekspornya saja belum ada," ujar Hotman.

Hotman mengatakan kliennya memiliki sejumlah surat yang menjadi bukti bahwa izin ekspor tersebut belum pernah didapatkan PT BSM dari pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Atas dasar bukti-bukti tersebut, Hotman mengatakan bahwa kliennya, Keluarga Djojohadikusumo, telah menjadi korban pencemaran nama baik oleh informasi yang tidak benar tersebut.

Kedua, Hotman juga menyampaikan bahwa kliennya merasa keberatan dengan tulisan 'Para Perompak Benur' yang menyertai karikatur mirip kliennya pada cover salah satu media cetak nasional tersebut.

Hotman mengatakan bukti karikatur tersebut menggambarkan kliennya, Hashim Djojohadikusumo bersama Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto, yaitu berdasarkan ciri-ciri fisik yang menyertai penggambarannya.

"Perompak, anda tahu enggak artinya? Artinya ya bajak laut. Memang tidak disebutkan secara langsung Hashim dan Prabowo, tapi anda lihat ini siapa lagi kalau bukan gambarnya? Kan Pak Hashim ini, yang (gambar Prabowo) lebih mirip lagi," kata Hotman.

Pernyataan Hotman itu dibenarkan oleh Hashim Djojohadikusumo yang juga hadir di lokasi bersama anaknya, Rahayu Saraswati, dan juga presenter Deddy Corbuzier.

"Karena seperti Pak Hotman bilang, itu gambar itu ada yang pesek, mata sipit, ganteng, itu saya. Ada yang matanya sipit, gendut, itu Prabowo," kata Hashim.

 

3 dari 4 halaman

Belum Dikeluarkan Pemerintah

Sara menambahkan keterangan Hotman tersebut bahwa informasi yang benar adalah permohonan izin ekspor benih lobster itu sudah diajukan atas inisiatif sendiri oleh PT Bima Sakti Mutiara tetapi izinnya belum dikeluarkan oleh pemerintah.

Ia mengatakan untuk kejelasan masalah eskpor tersebut juga dapat menonton tayangan di kanal Youtube Let's Talk With Sara episode bersama Ketua Komisi Pemangku Kepentingan dan Konsultasi Publik Kelautan dan Perikanan​​​​​​​ Effendy Ghazali dan Wakil Ketua Komisi Bayu Priyambodo.

"Mereka juga menjelaskan betapa beratnya secara finansial untuk melakukan pembudidayaan lobster, dan itu waktu yang sangat banyak. Untuk ekspornya ini kami (PT BSM) menyetujui untuk masuk, sudah dijelaskan menggunakan data dari KKP itu sendiri sejak tahun 2019, sebelum Pak Edhy (Menteri KP Edhy Prabowo) menjabat Menteri, data menunjukkan jumlah stok benih lobster yang ada di Indonesia itu bermiliaran," kata Sara.

Sara mengatakan Indonesia mau menjadi super power di bidang kemaritiman, maka budidaya miliaran benih lobster itu di dalam negeri perlu mendapat pendanaan dari pendapatan negara.

Untuk itulah, menurut Sara, KKP membuka kran ekspor benih lobster. Sehingga miliaran benih lobster di dalam negeri tersebut bisa dibudidayakan dari pendapatan yang diperoleh negara.

​"Kebutuhan benur dari Vietnam itu hanya beberapa ratus juta. Sedangkan stok kita miliaran. Jadi kita masih bisa (ekspor). Nah, itu kami (PT BSM) atas inisiatif sendiri (mengajukan izin ekspor) karena mendapat masukan dari para pakar dan berdasarkan data dari KKP sendiri," kata Sara.

 

 

Reporter: Muhammad Genantan Saputra

Sumber: Merdeka

4 dari 4 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: