Sukses

9 November 2005: Akhir Pelarian Gembong Teroris Dr Azhari di Tangan Tim Walet Hitam

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah rumah di Jalan Flamboyan A1 Nomor 7, Kelurahan Songgokerto, Batu, Malang, Jawa Timur menjadi target pengamatan tim Densus 88 Antiteror Polri. Lokasi ini diyakini sebagai tempat persembunyian gembong teroris nomor wahid, Dr Azhari, yang diburu kepolisian Indonesia lantaran diduga kuat menjadi otak di belakang Bom Bali 2002 dan Bom Bali 2005 lalu.

Semua gerak-gerik penghuni rumah kontrakan itu diamati seksama. Petugas menyewa tiga vila di dekat lokasi sasaran sedangkan satu lainnya di Vila Mawar yang menjadi tempat berkumpulnya para petinggi densus 88 antiteror dan Bareskrim Mabes Polri. Untuk keperluan transportasi, petugas menyewa empat mobil dan 15 motor.

Penyamaran dilakukan petugas dari tim surveillance. Mereka ada yang menyaru sebagai gelandangan dan ada juga yang menyamar pedagang keliling. Mereka berseliweran di depan rumah target untuk mendapatkan informasi berharga.

Selain gerak-gerik di luar rumah, petugas juga melakukan berbagai analisis untuk mengetahui jumlah penghuni dan aktivitas dalam rumah kontrakan. Mereka mengamati jumlah dan jenis pakaian yang dijemur, surat kabar yang dibeli, dan kuantitas belanjaan di pasar. Tak hanya itu, situasi dalam rumah juga tak luput dari target pengamatan. Petugas meminta warga sekitar untuk mengirim makanan dan minuman sambil mengamati isi rumah.

Yakin target utama ada di depan mata, Kepala Densus 88 yang kala itu dijabat Irjen Pol Bekto Suprapto memanggil Crisis Response Team (CRT) Walet Hitam dari Mako Teratai sebagai pasukan striking force atau pasukan pemukul yang akan menyelesaikan misi rahasia ini. Ia pun mengontak Komandan Satuan Pasukan Terlatih Polri Kombes Arif Sulistyo untuk meminta izin menggeser pasukan CRT ke Batu, Malang.

Dengan menggunakan pesawat VVIP Polri, pasukan CRT terbang dari Lapangan Udara Pondok Cabe, Jakarta Selatan menuju Bandara Abdurrahman Saleh Malang, Sabtu 6 November 2005. Selama sekitar satu jam mengudara, pesawat yang mengangkut 12 personel CRT itu mendarat di Skadron Teknik 022, Malang.

Begitu mendarat, pesawat Polri itu langsung ditarik ke dalam hanggar. Pintu hanggar pun segera ditutup rapat-rapat agar pesawat Polri itu tidak terlihat dari luar.

"Karena ini misi rahasia. Saya khawatir ada pihak pihak lain yang melihat kedatangan mereka," ujar Bekto saat menghubungi Komandan Lapangan Udara (Danlanud) Abdul Rachman Saleh, Marsma Yushan Sayuti, seperti ditulis Arif Wachjunadi dalam bukunya, Misi walet hitam 09.11.05-15.45 Menguak Misteri Teroris DR Azhari.

Satu per satu prajurit CRT Walet Hitam turun dan pesawat. Mereka lalu berbaris rapi dan memberi hormat kepada Kadensus Bekto yang sejak tadi menunggu di dalam hanggar. Di sini, Bekto memberi arahan dengan sangat hati-hati dan tidak memberitahukan secara garmblang misi rahasia ini.

"Selama ini, kalian hanya betlatih, berlatih, dan berlatih. Saatnya kalian membuktikan ilmu yang kalian miliki itu untuk bangsa dan negara," kata Bekto singkat.

Usai mendapat briefing singkat, pasukan CRT Walet Hitam yang terdiri dari Briptu Yudi, Iptu Bram, Brigadir Diaz, Brigadir Dedi, Brigadir Andi, Brigadir Fran, Brigadir Seto, Brigadir Feri, Brigadir Heru, Brigadir Heri, Brigadir Doni, dan Brigadir Jaka itu meluncur meninggalkan hanggar. Selama sejam perjalanan, mereka tiba di Hotel Kusuma Agro, yang menjadi area posko taktis prajurit CRT.

"Kalian istirahat dulu, minum jus apel. ini minuman asli Malang, segar rasanya," kata Petinggi Densus Komjen Gories Mere yang ikut menyambut mereka di hotel tersebut.

Setengah jam kemudian, Gories memberi pengarahan dan meminta semua anggota CRT mengumpulkan ponsel. Ia menegaskan misi di Batu Malang sangat rahasia tidak boleh ada komunikasi dengan pihak luar termasuk keluarga. Semua aktivitas dilakukan secara senyap tanpa diketahui siapapun. "Tak boleh ada pihak lain yang mengetahui kehadiran kalian di sini, bahkan petugas kepolisian setempat sekali pun," tegas Gories.

Ringkus Murid Azhari

Suasana sedikit gaduh pada Rabu 9 November 2005 pukul 04.00 WIB. Diketahui salah seorang penghuni rumah target, yakni Cholily --murid Dr Azhari-- terdeteksi meninggalkan tempat target. Dia pergi membawa tiga tas ransel ukuran jumbo yang diduga berisi bahan peledak dan senjata api.

Anggota berpakaian preman pun langsung sigap bergegas membuntutinya. Namun sial, dia mendadak tidak terlihat. Menghilang menyelinap di balik kerumuhan orang. Tim pun berkoordinasi untuk memantau pergerakan sasaran melalui sinyal telepon genggam. Dari hasil penelusuran petugas, Cholily diketahui naik kendaraan menuju Semarang, Jawa Tengah.

Alhasil polisi membekuknya di daerah Demak. Dari sini, kabar meyakinkan didapat bahwa Dr Azhari tengah berada bersama muridnya, Arman, di Malang. Keduanya tengah menyiapkan bom dalam jumlah banyak.

Tak ingin kecolongan, kabar mengerikan ini langsung disundul kepada Pos Komando di Batu Malang. Tiga orang yang memimpin di lapangan, Gories Mere, Bekto Suprapto, dan Surya Dharma Salim memutuskan melakukan penyergapan sasaran target saat itu juga.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 3 halaman

Perburuan Gembong Teroris Dimulai

Sebelum operasi berlangsung, satu per satu warga di sekitar rumah kontrakan Dr Azhari dievakusi. Sejumlah tokoh masyarakat ikut membantu proses ini. Kepanikan sempat ketika Kevin Ernando, bocah 7 tahun itu berada di rumah sasaran. Saat itu, ia bermain di ruang tamu bersama Arman. Petugas kemudian meminta bantuan Kepala Keamanan Perumahan Flamboyan, Sutoyo, untuk menjemput Kevin.

"Kevin ayo pulang, dicari ibu nak," kata Sutoyo di depan pintu pagar rumah target.

Bocah SD itu sempat enggan memenuhi panggilan Sutoyo, namun setelah dirayu akhirnya dia bergegas keluar dan langsung digandeng menuju sebuah rumah sejauh 200 meter dari target.

Operasi pun berlanjut. Beberapa petugas berpakaian preman bersiaga membentuk barikade. Namun saat proses evakuasi masih berlangsung, insiden berdarah terjadi. Brigadir Yamin, personel dari tim intelijen, kakinya terluka setelah diterjang timah panas dari arah rumah kontrakan target.

Rentetan suara tembakan pun terdengar setelah anggota polisi itu cedera parah. Situasi kian menegangkan. Sejumlah anggota tim surveillance langsung membentuk tameng hidup untuk mengevakuasi Brigadi Yamin yang terjebak dalam serangan. Dalam hitungan menit, sang brigadir selamat dan dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Kadensus Bekto langsung mengontak Posko Taktis, tempat prajurit CRT berkumpul. Dia meminta prajurit khusus itu segera digeser di perumahan Flamboyan lantaran situasi sangat kritis. "Segera lakukan penyergapan," perintah Bekto kepada CRT.

Personel CRT menyebar ke sejumlah titik yang telah disepakati. Mereka mengepung kontrakan Dr Azhari. Dua sniper melompat ke atap rumah warga tepat di belakang kontrakan target.

Pada saat bersamaan, personel yang dipimpin Iptu Bram bertugas mendekati rumah target dari arah kiri. Sedangkan prajurit yang dipimpin wakil kepala tim Bbrigadir Dedi menyergap rumah target persis dari arah depan. Tentu saja, mereka tidak tak terlalu dekat dengan rumah target karena adanya potensi ledakan bom dari dalam rumah.

Di tengah persiapan penyerbuan, suara tembakan terdengar dari arah rumah kontrakan Dr Azhari. Penghuni rumah itu menyerang petugas dengan melempar sejumlah bom rakitan. Bunyi ledakan pun terdengar nyaring, beruntung tak ada yang mengenai sasaran.

Sementara itu, proses penyergapan terus berlangsung. Dua seniper Brigadir Diaz dan Bripda Heri tetap fokus mengintai dari atap. Mata mereka tajam mengamati setiap jengkal halaman belakang rumah target yang tak terlihat tanda-tanda pergerakan dari dalam rumah.

Saat serius memantau target, mendadak terdengar suara cukup keras dari tim surveilans yang kakinya terperosok di atap rumah warga. Dia tak sengaja menginjak genteng yang rapuh. Melihat rekan kerjanya terluka, Brigadir Diaz berusaha menolong namun pada saat bersamaan Arman mendadak muncul dari pintu belakang yang dari tadi tertutup rapat. Dia membawa tiga bom sekaligus dan melemparkannya kepada petugas. Beruntung snaiper dapat menembaknya hingga bom itu meledak di udara.

Arman yang panik lantas melempar bom ke arah petugas. Lagi-lagi bom berhasil ditembak sniper. Peristiwa menegangkan itu terus terjadi. Perlawanan dokter Azhari dan Arman dari rumah semakin sengit sehingga petugas harus bertindak sangat hati-hati.

Brigadir Dedi dan kawan-kawannya masih siaga 50 meter di depan rumah target. Sebagian dari mereka tetap terus mengarahkan laras senjata tepat ke arah pintu dan jendela rumah target. Brigadir Dedi dan kawan-kawan mengintai gerak teroris yang sesekali masih melepaskan tembakan. "Situasi cukup terkendali rekan-rekan di sana, mungkin bisa mulai mendekati sasaran," lapor Brigadir Dedi kepada Iptu Bram melalui HT.

"Oke kami segera maju, kami dari depan," jawab Iptu Bram yang berada tepat di tembok sebelah kiri rumah target.

Beberapa saat kemudian, Brigadir Dedi dan kawan-kawannya menembakkan sejumlah peluru untuk memberi kesempatan pasukan pimpinan Iptu Bram lebih bisa merapat ke sasaran. Iptu Bram lalu memberi instruksi agar anggotanya merangsek ke depan pagar rumah target. Brigadir Seto, Brigadir Fran, Brigadir Feri, serta Brigadir Andi bergerak mendekati sasaran. Sesaat kemudian, Bram memberi isyarat agar salah satu anggota melambung ke sebelah kanan. Prajurit kelahiran Magelang 24 Juli 1978 itu mengibaskan tangan kanannya pertanda situasi sudah cukup aman.

"Maju ke sisi kanan," perintah Iptu Bram.

Brigadir Fran melambaung ke kanan. Dia melompati pagar rumah warga yang berada tepat di muka kontrakan Dr Azhari. Sejurus kemudian, dia berlindung di balik teralis pagar.

Langkah itu diikuti Brigadir Feri. Dia mengambil posisi dua meter di samping Brigadir Fran. Keduanya mengarahkan senapannya ke pintu rumah target.

Pintu rumah kontrakan Dr Azhari sudah terkunci oleh sasaran senapan Brigadir Fran. Iptu Bram yang berada sekitar lima meter di dekatnya, melakukan negosiasi agar sang buronan menyerah. "Azhari keluar, menyerahlah. kamu sudah terkepung," teriak Iptu Bram.

Imbauan itu dibalas oleh Azhari dan Arman dengan memuntahkan peluru dan melemparkan bom ke arah petugas. Bahkan suara tembakan kembali terdengar dari arah dalam rumah target. Beruntung, tak ada satu pun timah panas yang mengenai ke petugas.

"Saya mau keluar, jangan tembak," pinta Azhari. "Baik, kamu keluar, kami tidak akan lakukan penembakan," jawan Iptu Bram.

Tak berapa lama, tubuh Dr Azhari mulai terlihat perlahan. Dalam hitungan detik, pria asal Malaysia itu sudah terlihat di dekat pintu.

Suasana makin menegangkan. Kejanggalan terlihat pada bentuk dada Dr Azhari yang mengenakan rompi terlihat menggelembung. Diyakini ada bom di balik rompi itu. "Kamu berhenti di situ, lepaskan baju kamu dan lekas angkat tangan," teriak Iptu Bram.

Sang ahli bom tak merespons. Mantan dosen itu justru melotot ke arah Iptu Bram. "Cepat buka baju dan angkat tangan," pinta Iptu Bram sekali lagi.

Bukan menyerah, Dr Azhari malah mengacungkan senjata ke arah Brigadir Fran. Dia pun mengancam. "Hai Polis, kalau berani, masuk sini," kata Dr Azhari.

Usai itu, dia mundur dan kembali masuk ke dalam rumah menutup pintu sambil mengarahkan senjata dari tangan kanannya ke arah petugas. Momen ini pun tidak disia-siakan oleh Iptu Bram. Dia memerintahkan Brigadir Fran yang berada tepat lurus di pintu rumah kontrakan, untuk menembak Dr Azhari.

Dor..!!! Tembakan Brigadir Fran tepat sasaran. Terdengar suara tubuh manusia terjerembab ke lantai. Dr Azhari roboh bersimbah darah. Pria bernama lengkap Azahari bin Husin itu tewas tepat pukul 15.45 WIB. Di hari Rabu sore, 9 November 2005 menjadi hari terakhir bagi sang doktor bom.

Arman yang kalut melihat gurunya tewas, langsung meledakkan bom rompi yang dikenakannya. Ia pun tewas. Kedua mayat itu terkapar di ruangan tengah bersimbah darah dengan tubuh berselimut debu.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: