Sukses

Anies Sebut Pembatasan Transportasi di Jakarta untuk Efek Kejut ke Masyarakat

Liputan6.com, Jakarta - Potongan video rapat yang diselenggarakan Pemprov DKI Jakarta tersebar di media sosial, baik Facebook ataupun Twitter. Dalam rekaman sepanjang 0.44 detik, yang salah satunya yang diunggah akun Facebook Hukum Politik, tampak Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan bersama satuan kerja perangkat daerah (SKPD) lainnya tengah mengadakan rapat bersama untuk membahas pencegahan virus corona atau Covid-19.

Anies di dalam rapat tersebut sempat menyinggung mengenai adanya antrean panjang masyarakat di sejumlah titik transportasi publik di Jakarta pada Senin (16/3/2020).

"Tadi pagi kendaraan umum dibatasi secara esktrem, apa sih tujuannya? Tujuannya, mengirimkan pesan kejut kepada seluruh penduduk Jakarta bahwa kita berhadapan dengan kondisi ekstrem. Jadi, ketika orang antre panjang, 'oh iya Covid-19 itu bukan fenomena di WA (Whatsapp) yang jauh di sana. Ini ada di depan mata kita'. Kalau kita tidak kirim pesan efek kejut ini penduduk di kota ini masih tenang-tenang saja, yang tidak tenang ini siapa yang menyadari ini," ucap Anies dalam video yang beredar.

Berdasarkan penelusuran, rekaman tersebut adalah bagian dari video yang diunggah akun Youtube Pemprov DKI Jakarta. Judulnya, 'Gub Anies Baswedan Memimpin Rapat Teknis terkait Percepatan Penanganan COVID-19'.

Video tersebut dipublikasikan pada 17 Maret 2020. Sementara, rapat teknis itu digelar pada 16 Maret 2020 di Ruang Pola, Bapedda DKI Jakarta. 

Dalam video yang berdurasi 13 menit 14 detik itu, Anies memaparkan mengenai kondisi sebaran virus yang harus diwaspadai Pemprov DKI Jakarta dan jajarannya. Sementara, infomasi terkait jumlah orang yang positif terjangkit Covid-19 dan jumlah orang yang meninggal diduga disensor.

 

2 dari 4 halaman

Antrean Penumpang

Sebelumnya, imbas dari pengurangan armada membuat antrean panjang penumpang terjadi di sejumlah titik transportasi umum. Seperti yang terjadi di Stasiun MRT Dukuh Atas, Lebak Bulus, serta Fatmawati.

Seorang penumpang, Adelina Ghassani, mengaku lama untuk dapat menaiki MRT. Karena ia harus menunggu hingga hampir 40 menit agar dapat menaiki atau masuk ke dalam transportasi umum tersebut.

"Ngantre dari jam 07.00 WIB dong. Jam 07.43 WIB, baru naik MRT," ujar Adel kepada Liputan6.com, Senin (16/3/2020).

Adel menjelaskan, antrean cukup panjang tersebut hingga sampai keluar stasiun. Karena, penumpang diminta untuk mengantre tidak boleh masuk stasiun seperti biasanya.

Menurut dia, antrean yang cukup panjang tersebut terjadi lantaran adanya pembatasan penumpang untuk dapat menaiki kendaraan atau transportasi umum tersebut.

3 dari 4 halaman

Isi Rapat Lengkap

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ini pertemuan pertama Gugus Tugas. Ini kebetulan pertemuan pertama. Saya ingin sampaikan saja arah besar kita dulu. Apa yang akan dikerjakan oleh Jakarta menghadapi potensi penyebaran Covid-19

Faktanya. Dua minggu lalu hari Senin, dua pekan lalu, bapak Presiden mengumumkan ada dua kasus confirm Covid-19. Hari ini jumlahnya (sensor) dalam waktu 14 hari.

Itu Jakarta. Artinya kita ketemu dengan kondisi ekstrem yang mengharuskan langkah-langkah berani dan langkah-langkah yang drastis. Kalau ini dibiarkan, maka potensinya akan terus meningkat. Jumlah yang meninggal ada (sensor). Kalau jumlah yang meninggal ada (sensor), tingkat kematian 3% artinya di luar sana ada (sensor) kira-kira. Jadi yang sekarang tercatat (sensor) itu karena kita belum mengetes semuanya

Ini adalah yang dialami oleh beberapa negara. Jadi melihat itu, maka langkah kita harus berani, langkah kita harus tegas, dan harus menyiapkan masyarakat untuk siap menghadapi situasi sulit. Bahwa yang akan kita hadapi situasi sulit.

Seperti kalau kita mendadak ada serangan armada dari luar, tahu-tahu ada perang, tahu-tahu diserang. Kita ketemu dengan situasi listrik mati, air mati, saluran mati, seperti begitu. Cuman bedanya ini sekarang armadanya itu tidak terlihat, karena bentuknya virus. Nah kalau kita tidak melakukan langkah-langkah drastis, maka korban bisa lebih banyak.

Jadi mindset di Gugus Tugas ini jangan kerja tanggung. Jangan kerja normal. Ini situasi tidak normal, ini serangan tidak normal, harus bekerja dengan cara yang tidak normal juga. Tapi tidak normalnya terukur, tidak normalnya usaha untuk melindungi.

Jadi, di dalam merencanakan tindakan nanti, saya ingatkan sekali lagi, jangan tanggung! Jangan tanggung!

Saya beri contoh. Tadi kita akan menghentikan pelayanan. Kita akan menghentikan pelayanan. Menghentikan pelayanan itu sudah, menghentikan pelayanan. Tidak ada pelayanan kepada masyarakat terkait administrasi kependudukan, terkait pengurusan izin. Supaya apa? Tidak ada warga yang datang.

Lalu umumkan, semua perizinan yang habis terhitung tanggal sekarang sampai tanggal 31 Maret maka tidak akan denda yang diberikan. Sudah, jadi Anda yang rileks saja. Jadi nanti diurusnya setelah kondisi ini normal. Warganya tenang, kitanya juga tidak harus menyiapkan petugas.

Tadi pagi kendaraan umum dibatasi secara ekstrem. Apa sih tujuannya? Tujuannya mengirimkan pesan kejut kepada seluruh penduduk Jakarta bahwa kita berhadapan dengan kondisi ekstrem. Jadi ketika orang antre panjang, baru sadar, oh iya Covid-19 itu bukan fenomena di WA yang jauh sana. Ini ada di depan mata.

Kalau kita tidak memberikan pesan efek kejut, ini penduduk di kota ini masih tenang-tenang saja. Yang tidak tenang itu siapa yang menyadari ini? Petugas medis. Petugas medis itu yang di depan sana, yang melihat satu per satu jatuh. Tapi kalau secara umum, kita tidak merasakan itu

Nah, bapak ibu sekalian yang berada di Gugus Tugas ini. Bapak ibu sekalian harus punya sense of crisis. Harus ada sense of crisis itu. Tidak boleh bapak ibu ini merasa thinks normal (berpikir biasanya). Ini seperti Gugus Tugas penanggulangan banjir, gugus tugas penanggulangan kebakaran. Tidak! Ini kita ketemu situasi yang ekstrem, bapak ibu

Jadi betul-betul tindakannya cepat, berani. Harus berani! Tidak populer, tidak apa-apa. Karena yang nomor satu adalah soal keselamatan. Saya kalau ditanya apa tiga prioritas utama. Saya katakan nomor satu keselamatan, nomor dua keselamatan, nomor tiga keselamatan. Itu tiga prioritas utama kita, tidak ada yang lain.

Dan saya minta kepada semua untuk merujuk kepada pengalaman kota-kota lain yang pernah mengalami, sehingga tidak perlu kita melakukan reinventing the will. Jakarta bukan kota pertama yang menghadapi. Tetangga kita Singapura merasakan. Di utaranya, Jepang ada merasakan. Tiongkok merasakan. Korea merasakan. Ambil cara-cara mereka, belajar dari cara-cara mereka

Ini ironis bagi kita, bapak ibu. Bagaimana dalam dua minggu (censored). Singapura dalam dua bulan jumlah meninggalnya nol. Ini karena kita tidak bertindak cepat dari kemarin-kemarin. Ya sudah, Sekarang yang sudah lewat, sudah lewat. Kita tidak boleh menyalahkan satu sama lain. Tapi kita dalam posisi tidak bisa lambat di sini

Jadi saya minta dalam semua rencana, dengarkan pendapat teman-teman yang expert di bidang medis. Mereka yang tahu persis nih seperti ini. Jangan tanya yang bidang lain. Karena ini, kalau pertempuran, tanyanya kepada infantrinya nih, yang perangnya nih. Yang perang paling depan siapa? Tenaga medis. Mereka ceritakan, langkahnya apa, tindakan baiknya apa, kita lakukan

Jadi untuk populasi secara umum, saya selalu sampaikan social distancing. Menjaga jarak. Ruang rapat ini saja sudah dibuat berjarak

Yang kedua, yang sangat mendasar sekali adalah menyadarkan tokoh-tokoh masyarakat bahwa semua kegiatan yang sifatnya mengumpulkan orang dihentikan, meskipun kegiatannya mulia. Pengajian itu kurang mulia apa coba? Peribadatan kurang mulia apa? Tapi pada saat ini, itu cut-off, potong

Nah, Bapak ibu sekalian, perlu ada kampanye massif. Tadi malam saya juga sampaikan ke Karo Tapem, keliling semuanya. Dan yang terpenting kemarin disampaikan bahwa ada yang mengusulkan bagus. Bukan penyelenggaranya saja yang meniadakan, tapi tokoh-tokoh masyarakatnya bilang: saya tidak mau diundang. Titik! Penceramahnya bilang, saya tidak mau. Kenapa? Ya, saya tidak setuju ada pengumpulan massal, sehingga penyelenggara pun tidak merasa membatalkan yang diundang. Karena yang diundangnya bilang tidak mau

Banyak langkah-langkah lain yang perlu bapak ibu kerjakan. Tapi intinya adalah responnya dengan perasaan kita berhadapan dengan situasi krisis.

Saya akan nanti menyampaikan kepada publik Jakarta, bersiap-siap! Repotnya kendaraan tadi pagi itu bukan apa-apa dibanding potensi kerepotan kita hari-hari ke depan. Ancang-ancang sekarang!

Ketika kita mendengar instruksi dari bapak Presiden. Bekerja di rumah! Itu harus kita bayangkan penyiapan di lapangannya. Karena bekerja di rumah itu gampang kalau rumahnya ada lima kamar, ada tiga kamar. Kalau rumahnya satu kamar tapi bersepuluh, bekerja di rumah itu rumit. Kita akan merasakan itu nanti

Pangan! Kebutuhan pangan harus kita siapkan. Jadi ini contoh, bapak ibu terjemahkan

Ada empat urusan yang menurut saya penting untuk ditangani oleh Gugus Tugas. Satu, kesehatan. Siapkan betul bagaimana kita bisa mendukung seluruh aparatur medis kita.

Yang kedua adalah pasokan pangan. Bagaimana pasokan pangan itu bisa menjangkau rumah tangga, bukan pasokan pangan sampai ke pasar. Kalau kondisi normal, kondisi pangan sampai ke pasar induk. Kalau sekarang, sampai ke rumah tangga. Saat isolasi, bagaimana pangan bisa sampai ke setiap rumah yang diisolasi

Yang ketiga, pergerakan penduduk, mobilitas penduduk. Bagaimana mobilitas penduduk diatur di kita. Siapa boleh bergerak ke mana, siapa tidak boleh bergerak. Siapa tinggal (di rumah), siapa tidak.

Yang keempat adalah pola komunikasi. Interaksi antar aparatur negara, baik Pemprov dengan jajaran TNI, Polisi. Lalu Pemprov dengan masyarakat. Dan antara masyarakat dengan masyarakat yang lain

Jadi empat hal itu perlu jadi fokus perhatian. Itu saja dari saya. Mudah-mudahan pesan ini kita pahami bersama dengan jelas. Dalam situasi begini, kita tidak boleh membayangkan normal. Tidak boleh!

Tapi saya yakin insyaAllah, insyaAllah daya tahan kita kuat. Ini bukan problem pertama yang dihadapi Republik ini. Kita sudah menghadapi tantangan banyak sekali. Di masa lalu kita hadapi dan kita berhasil. Sekarang insyaAllah kita akan berhasil melewati ini dengan baik. Ini yang dititipkan kepada bapak ibu (adalah) tugas penting. Jalankan dengan sebaik-baiknya.

Pesan saya terakhir untuk semuanya di sini. Ingat kalau di pesawat itu ada tulisan bila kondisi pesawat dalam status emergency dan masker udara itu jatuh, maka pasang dulu masker itu untuk anda, baru membantu yang lain. Bapak ibu harus sehat, supaya bisa membantu yang lain. Kalau bapak ibunya sakit, ya... tidak bisa membantu yang lain. InsyaAllah kalau vitamin ada, makan cukup, olah raga. Yang agak kurang itu istirahat. Istirahat kurang, tapi lainnya insyaAllah siap

Selamat bertugas

Terima kasih

Wassalamu alaikum

4 dari 4 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: