Sukses

Pemprov DKI Sebut 142 RW Masih Banjir hingga Rabu Pagi

Liputan6.com, Jakarta - Masih ada 142 rukun warga (RW) yang tergenang banjir di Jakarta hingga Rabu (26/2/2020) pagi. Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) BPBD DKI Jakarta, Muhammad Insyaf, mengatakan wilayah ini terendam banjir sejak Selasa, 25 Februari 2020 setelah Ibu Kota diguyur hujan.

"Terdapat 142 RW (5,2 persen RW di DKI Jakarta) dengan ketinggian banjir maksimal 180 cm yang terjadi di Kelurahan Cawang," kata Insyaf dalam keterangan tertulis, Jakarta, Rabu (26/2/2020).

Dia mengatakan, dari wilayah terdampak itu, ada 2.788 kepala keluarga atau 9.890 orang yang mengungsi. Ribuan pengungsi ini tersebar di 82 lokasi.

"Curah hujan sangat lebat hingga ekstrem yang terjadi di wilayah DKI Jakarta dengan curah hujan tertinggi yang terukur oleh stasiun BMKG sebesar 278 mm/hari," kata Insyaf soal banjir Jakarta.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan masyarakat terdampak banjir dapat menerima pengobatan secara gratis. Pos-pos kesehatan telah diadakan di setiap pengungsian.

"Yang saya sebut tadi ada 74, 49 dikelola Pemprov, kemudian ada 25 yang dikelola masyarakat. Semua pelayanan layanan kesehatan, gratis," kata Anies di pintu air Manggarai, Jakarta, Selasa.

Dia menuturkan, jumlah wilayah yang terkena banjir Jakarta menurun pada Selasa sore. Dia menyebut, pada paginya, ada 294 RW yang terendam.

"Jumlah RW yang tergenang ada 294, sore ini masih ada 236 yang tergenang," ujar Anies.

 

2 dari 3 halaman

Harus Diatasi

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan, banjir Jakarta harus segera diatasi. Sebab, cuaca ekstrem masih akan terus terjadi hingga 2040 mendatang.

"Diproyeksikan (iklim ekstrem) akan terus terjadi di masa yang akan datang, yaitu periode tahun 2020 hingga 2040 apabila hal ini tidak kita mitigasi," ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers, Selasa (25/2/2020).

Pihaknya juga menyimpulkan, cuaca ekstrem di Jabodetabek mulai terjadi selama 30 tahun terakhir dengan intensitas yang semakin tinggi.

"Khusus di daerah Jabodetabek, berdasarkan data historis dan analisis klimatologis oleh BMKG, data dari tahun 1866 hingga tahun 2019, maka dapat disimpulkan, pertama, kondisi iklim ekstrem ini sering terjadi selama 30 tahun terakhir dengan intensitas yang semakin tinggi," papar Dwikorita.

BMKG pun menyarankan agar pihak terkait dapat mengelola sistem dan tata air, sehingga saluran dari hilir dapat terintegrasi dengan lancar ke hulu.

"Pengelolan lingkungan dan tata air hal memitigasi banjir. Tata air harus terintegrasi dari hilir ke hulu," kata dia.

Mengingat, lanjut Dwikorita, berdasarkan data BMKG, akumulasi curah hujan di wilayah hulu lebih tinggi 1,4 kali daripada wilayah hilir.

"Maka, direkomendasikan di wilayah hulu, air harus mampu menahan air lebih lama. Oleh karena itu, disarankan sistem hidrolik atau infrastruktur bangunan air perlu lebih diperkuat di wilayah hilir," ucap Dwikorita.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: