Sukses

Tsunami 36 Meter Terjang Flores Tewaskan 2.300 Jiwa 27 Tahun Lalu

Liputan6.com, Jakarta - Hendrikus Belang Koten tengah asyik menanam jambu mente di sekitar Pantai Kaliwu, pukul 13.29 Wita, 12 Desember 1992 lalu. Tiba-tiba dia merasakan gempa bermagnitudo 7,8. Bumi yang dipijaknya bergoyang hingga tanah di sekitarnya terbelah.

kekagetan kian bertambah setelah melihat dari dalam tanah tersembur air. Tak banyak pikir, dia pun langsung bergegas pergi menyelamatkan diri agar tidak dilumat oleh tanah bercampur air itu.

Dia berlari sekencang-kencangnya ke arah laut untuk mengambil sampan. Namun baru saja perahu itu disorongkan ke laut, ia tiba-tiba melihat air kering. Ada jurang di dalam laut.

Tak lama berselang, tiba-tiba ia melihat ombak setinggi 36 meter, bak dinding laut yang begitu tinggi dan menghitam menghampiri dirinya.

Menyaksikan itu, ia hanya terpaku. Tak bisa berbuat apa-apa. Kakinya sudah tidak bisa bergerak lagi untuk berlari kencang ke arah daratan.

Ia pasrah. Badannya pun dihempas gelombang besar yang penuh lumpur. Hendrikus terombang-ambing oleh tsunami. Namun begitu, Ia mengaku bersyukur masih diberi keselamatan dari bencana dahsyat itu.

Sementara 16 angota keluarganya di Turubean Kecamatan Tanjung Bunga Flores Timur, meninggal dunia tersapu gelombang dahsyat.

Peristiwa yang terjadi pada 12 Desember 1992 tercatat banyak memakan korban jiwa. Setidaknya sekitar 2.300 orang tewas, dan lebih dari 500 orang hilang terbawa gelombang serta tertimpa reruntuhan bangunan yang roboh.

Selain itu, sekitar 447 orang mengalami luka berat, dan lebih dari 5.000 orang harus mengungsi ke tempat penampungan. Bencana gempa itu menghancurkan sedikitnya 18.000 rumah, 113 sekolah, 90 tempat ibadah, dan ratusan gedung perkantoran.

Sejumlah wilayah yang terkena dampak gempa berada di Kabupaten Sikka, Ngada, Ende, dan Flores Timur. Wilayah terparah terkena gempa adalah kota Maumere. Diperkirakan lebih dari 1.000 bangunan hancur dan rusak parah.

 

2 dari 3 halaman

Bencana Dahsyat Usai Aceh

Peristiwa mematikan ini merupakan kejadian terdahsyat selain tsunami Aceh 2004. Gempa yang berpusat di kedalaman laut, 35 kilometer (km) arah barat laut Kota Maumere menimbulkan longsor bawah laut, yang memicu tsunami Flores mematikan terjadi.

Potensi longsor bawah laut itu sebelumnya dipetakan para peneliti Jepang yang berkunjung ke pantai utara Flores dan Pulau Babi, dua pekan setelah petaka itu.

Kala itu, mereka ke pantai utara Flores mengunjungi 40 desa di sana untuk mengukur ketinggian tsunami.

Sementara itu, menanggapi kejadian ini, pemerintah pusat di Jakarta langsung meresponnya dengan cepat. Lokasi kejadian dinyatakan sebagai bencana nasional.

Bantuan dari berbagai daerah di Indonesia, juga luar negeri mengalir ke lokasi bencana. Selama beberapa waktu, bantuan untuk memulihkan wilayah Flores terus dilakukan.

Bupati Flores yang kala itu dijabat Alexander Idong terus bekerja memperbaiki keadaan di wilayah Flores yang terkena dampak paling parah, seperti Ende, Flores Timur, Sikka, dan Ngada.

Perbaikan infrastruktur terus digenjot oleh pemerintah Pusat dan daerah. Pembenahan dilakukan terutama terkait tempat tinggal warga yang rumahnya sudah tidak dapat dihuni.

Pelan tapi pasti, Flores kembali bangkit. Wilayah itu akhirnya kembali pulih dari gempa bumi yang menimbulkan trauma warganya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
BNPB: Gempa Magnitudo 6.6 di Sulut Tidak Berpotensi Tsunami
Artikel Selanjutnya
Gempa Berkekuatan Magnitudo 6,6 Goyang Bolsel Sulawesi Utara