Sukses

6 Kesaksian hingga Cerita Haru Korban Gempa dan Tsunami Palu

Liputan6.com, Jakarta - Belum reda duka akibat gempa bumi yang mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat(NTB) beberapa waktu lalu, Indonesia kembali mengalami bencana serupa. Jumat sore, 28 September 2018, gempa disertai tsunami terjadi di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah dengan magnitudo 7,4.

Tidak hanya korban berjatuhan, dua kota ini luluh lantak dan nyaris rata dengan tanah. Pascagempa, aliran bantuan dari berbagai pihak kini berdatangan untuk mengurangi penderitaan warga Palu dan sekitarnya.

Tak sedikit warga menjadi saksi dan menceritakan momen mengerikan hingga mengharukan saat detik-detik gempa dan tsunami menyapu daratan. Apa saja kisah-kisah mereka?

Berikut enam kisah mengharukan dari para keluarga korban gempa dan tsunami Palu dan Donggala:

2 dari 7 halaman

1. Nenek Petugas ATC Bandara Palu

Anthonius Gunawan Agung adalah salah satu korban terdampak gempa Palu. Saat lindu magnitudo 7,4 mengguncang, dia tengah bertugas memandu Pesawat Batik Air yang siap landas menuju Makassar.

Setelah memastikan pesawat lepas landas, Agung baru menyelamatkan diri. Posisinya kala itu ada di lantai 4 tower pengawas Bandara Mutiara Sis Al Jufri Palu.

Saat menara roboh, dia nekat melompat dari atas hingga mengalami patah tulang. Namun, akhirnya Agung mengembuuskan napas terakhirnya.

Kedatangan jenazahnya di kota kelahirannya Makassar diiringi tangis histeris keluarga. Oma Tola, sang nenek yang paling merasa kehilangan. Sementara kedua orangtuanya bekerja, Oma Tola-lah yang merawat Agung.

"Kenapa kau duluan Agung, kenapa bukan nenekmu saja," teriak nenek Agung, Oma Tola, saat jenazah Agung diturunkan dari mobil ambulans.

3 dari 7 halaman

2. Balita Ditemukan dalam Parit

Cerita pilu lainnya datang dari seorang balita yang selamat dari terjangan tsunami Palu. Balita laki-laki tersebut terpisah dari orangtuanya yang menjadi korban gempa.

"Kedua orangtuanya belum ditemukan," ucap Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita sambil memeluk erat tubuh mungil yang bersandar di pundaknya.

Menurut Agus, anak-anak adalah satu dari empat kelompok rentan yang harus mendapatkan perlindungan sesaat setelah terjadinya bencana. Tiga kelompok lainnya adalah ibu hamil, lansia serta penyandang disabilitas.

4 dari 7 halaman

3. Kesaksikan Jurnalis

Frans Padak Demon merupakan jurnalis senior yang selamat dari gempa dan tsunami di Donggala dan Palu. Secara lengkap dia membagi kisahnya kepada Liputan6.com, usai selamat dari maut. 

Mercure Hotel di mana tempat dia menginap ambruk saat gempa magnitudo 7,4 datang.

Usai melakukan kunjungan ke beberapa radio di Palu, Frans pamit kembali ke hotel. Saat sedang menunggu Grab, gempa yang sangat keras mengguncang. Setelah berhasil keluar studio, rumah warga di sekitarnya satu-persatu runtuh akibat guncangan gempa.

Bersama staf radio lainnya, jurnalis senior ini naik ke bukit di timur Kota Palu di Laswani. Begitu mencoba kembali ke Hotel Mercure, bangunan itu telah porak-poranda.

"Eh ternyata Mercure sudah hancur diterpa gempa dan tsunami. Yang saya temukan hanya beberapa mayat yang bergelimpangan. Saya putuskan ke Bandara dan tidur di bawah pohon parkiran Bandara sambil menunggu pesawat pertama ke luar Palu." 

5 dari 7 halaman

4. Cerita Paskibraka Nasional 2018

Salah satu anggota Paskibraka Nasional 2018 yang mewakili Sulawesi Tengah juga punya kisah pilu. Rezkiana Zapana, 16 tahun adalah Siswi SMA Negeri Model Terpadu Madani, Palu.

Sesaat gempa datang, dia tengah bersama ibunya di rumah. Sementara, sang ayah dan kakaknya sedang tak ada di tempat.

Begitu tiba di pengungsian, Kiki begitu dia sapa mencoba menghubungi keduanya. Namun, tak berhasil.

"Gempa-nya keras banget. Rumah depan rumahnya Kiki roboh. Kompleks perumahan kiki alhamdulillah tidak kenapa-kenapa," kata Kiki kepada Health Liputan6.com lewat aplikasi pesan singkat.

 

6 dari 7 halaman

5. Bocah Tersangkut di Atas Rumah

Seorang bocah berusia 8 tahun berhasil selamat saat gempa dahsyat 7,4 disusul gelombang tsunami setinggi 3 meter menyapu daratan Palu.

Kepada Wakil Komandan Zeni Bangunan, Mayor Edy Harahap yang menemukannya, sang bocah menceritakan hal mengejutkan. Katanya, tinggi gelombang mencapai 6 meter. 

Edy memaparkan bahwa ombak pertama yang masuk ke tepi pantai telah menyeret sejumlah pedagang di pesisir pantai di Palu. Kemudian, ombak kedua menyusul dengan ketinggian sekitar 5-6 meter.

"Saya sampai tersangkut di atas rumah," ujar bocah tersebut. 

7 dari 7 halaman

6. Politikus PKB Abdul Kadir Karding

Kisah gempa Palu dan Donggla juga datang dari politikus PKB Abdul Kadir Karding. Karding bercerita, dirinya merupakan warga asli Donggala, Sulawesi Tengah. Rumahnya kurang dari 50 meter dari bibir pantai. 

Saat mencoba menghubungi kedua orangtuanya usai gempa magnitudo 7,4 mengguncang, Karding mengaku kesulitan. Hingga saat ini, orangtuanya belum bisa dihubungi. Jaringan komunikasi di sana diketahui belum pulih sepenuhnya.

"Saya lahir di Donggala, pusat di Palu. Jadi saya orang asli sana. Bapak-Ibu saya enggak bisa dihubungi, di Donggala sana. Semua keluarga besar saya sebagian besar di Donggala dan Palu," kata mantan Sekjen PKB itu di sela acara Solidaritas Masyarakat Sulteng di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu, 29 September 2018.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini: 

Loading
Artikel Selanjutnya
Gempa Magnitudo 3,4 Guncang Palu
Artikel Selanjutnya
Galang Donasi, Menhub Bangun Masjid dan Sekolah di Sulteng