Sukses

Pertambangan Batu Bara di Sawahlunto Terancam Bangkrut

Liputan6.com, Sawahlunto: Kota Sawahlunto, Sumatra Barat, kerap diidentikan dengan kota tambang batu bara. Namun, julukan tersebut nampaknya bakal menjadi kenangan belaka. Sebab, belakangan ini, cadangan batu bara di tambang terbuka Sawahlunto mulai menipis. Akibatnya, Unit Pertambangan Ombilin (UPO) PT Tambang Batu Bara Bukit Asam mengurangi karyawan hingga 600 orang. Hal ini dikhawatirkan akan menyebabkan bangkrutnya Kota Sawahlunto yang memang bergantung dari usaha pertambangan batu bara.

Saat masa kejayaannya, kota yang berpenduduk sekitar 17 ribu jiwa ini memang menggantungkan hidup pada tambang batu bara yang mulai berproduksi tahun 1892. Seiring perkembangannya, sebagian infrastruktur kota dibangun oleh perusahaan tambang yang pada 1990 menjadi UPO PT Bukit Asam. Para karyawan perusahaan pun mendominasi aktivitas perekonomian di kota itu.

Bagi Pemerintah Kota Sawahlunto, PT Bukit Asam adalah penyumbang terbesar anggaran pendapatan dan belanja daerah. Menurut Wali Kota Sawahlunto Subari Sukardi, setiap tahun, perusahaan ini menyumbang sekitar Rp 2,2 miliar untuk APBD yang berjumlah Rp 3,5 miliar. Pemkot Sawahlunto juga menerima bagi hasil produksi sekitar Rp 3-4 miliar setiap tahunnya.

Namun, maraknya penambangan tanpa izin di areal kuasa pertambangan milik PT Bukit Asam membuat produksi mereka menurun. Akibatnya, perusahaan ini sejak 2000 selalu merugi. Menurut Direktur Operasi dan Produksi PT BA Sukrisno, sepanjang tahun 2000 dan 2001, kerugian perusahaan mencapai Rp 105 miliar. Sementara tahun ini kerugian diperkirakan mencapai Rp 45 miliar. Sebab, produksi menurun dari satu juta ton menjadi 100.000 ton per tahun, sedangkan biaya operasional semakin meningkat [baca: Penambang Liar Masih Beroperasi di Sawahlunto].

Untuk menekan angka kerugian tersebut, maka pihak PT Bukit Asam melakukan efisiensi dengan mengurangi jumlah karyawan. Dari 1.300 orang menjadi 700 karyawan. Jumlah pengurangan karyawan juga akan semakin besar bila rencana kerja sama menggarap tambang dalam dengan sebuah perusahaan milik Cina batal terlaksana. Saat ini, satu-satunya produksi yang bisa dihasilkan hanya dari tambang dalam yang mempunyai deposit 104 juta ton.

Sukrisno menambahkan, pembatalan kontrak tersebut dapat mengancam keberadaan PT Bukit Asam. Buntutnya, Kota Sawahlunto dapat bangkrut karena tak ada lagi perputaran uang di pasar dan sumbangan pembangunan untuk pemerintah setempat.(ANS/Denni Risman dan Aldian)