Sukses

Kirab Pengantin Keraton Yogyakarta Disambut Meriah

Liputan6.com, Jakarta: Ratusan ribu warga Yogyakarta dan sekitarnya, Selasa (28/5) siang, tumpah ruah di jalur seputaran Beteng Keraton setempat. Mereka berdesak-desakan untuk menonton kirab pernikahan agung putri sulung Sultan Hamengku Buwono X, Gusti Kanjeng Ratu Pembayun dengan Kanjeng Panembahan Wironegoro. Kirab menjadi menarik karena sudah tak pernah lagi diselenggarakan sejak pemerintahan Sultan HB VIII.

Ratusan ribu warga Yogyakarta sudah memadati jalur yang hendak dilalui kirab sejak pukul 13.30 WIB, meski acara baru dimulai jam 16.00 WIB. Bahkan, tak sedikit di antara mereka yang terpaksa memanjat pohon, baliho, genteng bangunan, dan tembok benteng agar bisa menyaksikan kirab.

Dalam kirab, pengantin diarak dengan menggunakan kereta pusaka "Kyai Jong Wiyat&uqot yang diikuti empat kereta pusaka lainnya: Kyai Notopuro, Kyai Kus Gading, Kyai Kus Puspoko Manik, dan Kyai Kuthoko Harjo. Kirab yang menempuh jarak sekitar 10 kilometer itu mendapat pengawalan ketat puluhan prajurit keraton dan kepolisian setempat.

Prosesi pernikahan GKR Pembayun dan Kanjeng Panembahan Wironegoro terbilang singkat. Sehari sebelumnya, rangkaian acara perhelatan diawali dengan siraman dari tujuh sumber mata air. Upacara siraman yang bermakna membersihkan diri lahir dan batin itu dilaksanakan di dua tempat. GKR Pembayun "dimandikan" oleh Kanjeng Ratu Hemas serta sesepuh lain di Kagungan Dalem Sekar Kedhatonan.

Sementara mempelai pria Kanjeng Panembahan Wironegoro di Kagungan Dalem Ksatrian. Selepas Isya upacara dilanjutkan dengan upacara tantingan. Dalam acara itu, Sri Sultan Hamengkubuwono X menanyakan kesanggupan putri sulungnya untuk menikah. Rangkaian prosesi hari itu diakhiri dengan membereskan kelengkapan administrasi oleh petugas kantor urusan agama (KUA) dan malam midodareni.

Akad nikah juga digelar singkat dan padat, tapi tak meninggalkan kesan sakral. Sri Sultan HB X tiba di Kagungan Dalem Masjid Panepen diiringi sejumlah kerabat dekat. Tak lama kemudian menyusul rombongan mempelai pria yang didampingi kedua orang tua. Imam Masjid Panepen Ngabdul Ahmad Yusuf mengawali acara dengan khotbah nikah dalam bahasa Arab. Selanjutnya, penghulu mulai memimpin ijab kabul dan serah terima mas kawin berupa seperangkat alat salat, Al Quran, dan sebentuk cincin berlian.

Setelah ijab, pengantin baru mengikuti upacara panggih di Kagungan Dalem Bangsal Kencana. GKR Pembayun dan Kanjeng Panembahan Wironegoro berhadapan saling melempar gantal yang dibawa iring-iringan edan-edanan atau para kerabat. Gusti Pembayun yang mengenakan busana paes ageng kemudian mencuci kaki suaminya setelah upacara injak telor. Acara ditutup dengan pondongan yaitu membopong mempelai wanita ke pelaminan. Malam harinya, resepsi pernikahan dilangsungkan di Bangsal Kencono. Para tamu, termasuk Presiden Megawati Sukarnoputri disuguhi makanan khas Yogyakarta dan tarian Bedhoyo Manten.

Penjagaan ketat juga terlihat di beberapa titik, seperti di sekitar Gedung Agung, perempatan Kantor Pos, dan Universitas Gadjah Mada. Tersiar kabar akan berlangsung unjuk rasa besar-besaran menolak kehadiran Presiden Megawati Sukarnoputri yang memang diundang pada acara ini. Selain Megawati, sohibul hajat juga mengundang Ketua MPR Amien Rais, Ketua DPR Akbar Tandjung, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, dan sejumlah pejabat tinggi negara.(ICH/Wiwik Susilo)