Sukses

Berkunjung ke Bangil Kota Santri

Liputan6.com, Pasuruan: Selain dikenal dengan usaha bordirnya, Kecamatan Bangil juga dikenal sebagai kota santri. Para santri di sini telah membekali anak didiknya agar siap terjun ke masyarakat. Di Pesantren Putri KHA. Wahid Hasyim Bangil di Jalan Tongkol No.32 B Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, misalnya.

Sejak berdiri 1955 silam, pesantren selalu berusaha menyiapkan anak didiknya untuk siap terjun di berbagai bidang di masyarakat. Program pendidikan Islam di sini pun dilengkapi dengan berbagai pengetahuan modern, baik pendidikan formal maupun nonformal.

Untuk pendidikan formal yakni pendidikan Islam seperti play group (TK), Madrasah Ibditaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA). Sementara untuk pendidikan umum disediakan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan dua jurusan yakni Multimedia dan Teknik Jaringan Komputer.

Sedangkan untuk pendidikan ektrakurikuler, pesantren ini menawarkan kegiatan cukup menarik dengan program pelatihan sebagai muhdin (pemandi jenazah) perempuan, khitobah (pidato) berbahasa Inggris dan Arab, serta Kaligrafi.

"Tujuan pesantren ini adalah selain membekali ilmu agama, juga kita ingin mengisi anak santri life skill. Karena sebagian anak-anak santri dengan ilmu yang tinggi di masyarakat tapi sulit landing (terjun) di masyarakat," ungkap pimpinan Ponpes Putri KHA. Wahid Hasyim Bangil, KH. Choiron Sjakur, saat ditemui Liputan6.com, Kamis (4/8).

Selain itu, yang membedakan pesantren ini dengan pesantren pada umumnya yaitu dengan memberikan pembekalan keberanian untuk tampil di masyarakat umum. Choiron berharap anak-anak didiknya mampu mengatasi berbagai rintangan di masyarakat nantinya.

"Jadi anak-anak dilatih mulai gibahan, manakiban, tahlilan. Mereka dilombakan dari kamar ke kamar, nanti baru dilombakan ke panggung sebulan dua kali," jelas Choiron.

Santri di sini juga dibekali keahlian khusus mulai dari belajar nge-MC, dekorasi, membuat kerajinan tangan, seni tari (tari Saman), shalawat, tilawah, keahlian kuliner, bahkan membuat film.

"Dulu pesantren ini pernah mendapat pelatihan pembuatan film sebulan dari lembaga pelatihan dari Inggris pada tahun 2003. Dari mulai film soft sampai pembuatan film," ujarnya.

Bagi para santri SMK, pihak pesantren juga telah bekerja sama dengan beberapa perusahaan dan lembaga pemerintah untuk mengadakan pelatihan praktek langsung di lapangan.

"Kami rencananya tahun depan akan menambah jurusan bahasa mandarin dan manajemen. Untuk pengajar, kami telah siapkan beberapa tenaga pengajar yang sudah cukup berkualitas," tandas pria pengagum KH. Wahid Hasyim itu. (APY/Vin)

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS