Sukses

Panglima TNI Pilih Langkah Persuasif Bebaskan Sandera di Papua

Liputan6.com, Jakarta Panglima TNI Gatot Nurmantyo memastikan pihaknya bersama Polri akan menindaklanjuti peristiwa penyanderaan masyarakat sipil di Desa Kimbely dan Desa Banti, Kecamatan Tembagapura, Kabupaten Mimika, oleh kelompok bersenjata.

Menurut Gatot, jajarannya dan Polri akan melakukan langkah persuasif terlebih dahulu sebagai upaya membebaskan para sandera.

"Ya kita bernegosiasi bersama kepolisian ya. Ya persuasif ya," singkat Gatot usai Upacara Peringatan Hari Pahlawan di Taman Makam Pahlawan (TMP), Kalibata, Jakarta, Jumat (10/11/2017).

Sebelumnya, sekitar 500 personel Polri dan TNI disebar untuk menumpas gerakan kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang diduga melancarkan aksi teror dan penembakan di Papua, tepatnya di Tembagapura, Kabupaten Mimika, sejak 21 Oktober 2017 hingga sekarang.

Pasukan gabungan tersebut tergabung dalam Satgas Terpadu Penanggulangan KKB. Apel pelepasan Satgas Terpadu dipimpin langsung Kapolda Papua, Irjen Pol Boy Rafli Amar yang didampingi Panglima XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Geogre E. Supit, di Lapangan apel Polres Mimika.

Ratusan personel Brimob Polda Papua sebelumnya telah digeser ke Tembagapura. Bahkan, sekitar 100 aparat Brimob Palangkaraya dikirim untuk mengatasi aksi KKB.

"Ancaman yang dilakukan KKB, tidak bisa kita biarkan berlarut. Kelompok ini telah menganggu kamtibmas, serta melakukan penyerangan kepada warga dan petugas TNI/Polri serta pegawai Freeport," ucap Boy, Senin 6 November 2017.

Ia berharap dengan kehadiran TNI/Polri di Tembagapura, untuk tidak ragu memberikan perlindungan kepada masyarakat, khususnya di Kampung Banti dan Utikini yang selama ini mengalami gangguan.

"Tetap semangat dan jaga kesehatan serta jalin komunikasi yang baik, sehingga tugas kita menjadi lebih efektif," ujarnya.

Dalam kesempatan ini, Mayjen TNI George Elnadus Supit mengakui sejumlah kampung di areal PT Freeport Indonesia, tepatnya di Tembagapura, seperti di Kampung Utikini Lama, Kimbeli, Waa-Banti, Opitawak hingga Aroanop di bawah kendali KKB.

Kodam Cenderawasih menyiapkan sekitar 200 personel untuk membantu polisi dalam pengejaran terhadap KKB yang diduga melancarkan aksi teror dan penembakan di Papua. "Berapa pun personel yang dibutuhkan kami siap. Siang tadi, pasukan yang disiagakan sudah bergerak ke sejumlah titik yang telah ditentukan," jelasnya.

Menko Polhukam Wiranto memerintahkan untuk penyelesaian konflik di papua secara persuasif. "Semua masalah diselesaikam musyawarah mufakat, tidak ada serang meyerang, tuduh menuduh," kata Wiranto kemarin di Istana Bogor.

 

2 dari 2 halaman

2 Kelompok yang Ganggu Keamanan Papua

Sebelumnya, Kapolda Papua Irjen Boy Rafli Amar mengungkap dalang di balik gangguan keamanan di wilayah hukumnya. Ia mengatakan, saat ini ada dua kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua.

Kelompok pertama dipimpin Sabinus Waker, kedua dikomandoi Teni Kwalik. Masing-masing punya motif berbeda. "Ada yang minta hak, dan ada yang menyuarakan isu-isu memerdekakan (diri)," kata Boy usai rapat kordinasi di Kantor Kementerian Politik Hukum Kemanan, Jakarta, Kamis, 2 November 2017.

Boy menjelaskan, KKB di Papua diperkirakan berkekuatan 15-20 orang. Kelompok-kelompok tersebut bercokol di Pegunungan Tengah, seperti wilayah Lanny Jaya, Puncak Jaya, dan Kabupaten Puncak.

Keberadaan mereka berbahaya, karena memiliki belasan pucuk senjata beragam jenis. "Estimasi kami ada 8-15 pucuk senjata bervariasi, dari hasil rampas petugas, hasil mencuri," Boy memaparkan.

Loading