Sukses

Praktik Sogok Menyogok di Penjara

Liputan6.com, Jakarta: Penjara atau rumah tahanan tak selamanya bisa membuat para penjahat jera, apalagi koruptor. Uang membuat mereka bisa membeli kebebasan yang diperjualbelikan para oknum. Sogok menyogok juga menjadi hal jamak di penjara Indonesia.

Apa yang tak bisa dibeli dengan uang? Ehm..sepertinya semua bisa. Seperti yang dilakukan terdakwa kasus mafia pajak, Gayus Tambunan, yang sukses membuktikan 'kekuatan' uang.

Sekalipun berstatus tahanan, toh dengan uang Gayus bisa pulang ke rumah mewahnya di Kelapa Gading. Bahkan Gayus diduga kuat melancong dan menginap di hotel mewah di Bali pada awal November ini.

Berkat suapnya kepada Kepala Rutan Mako Brimob Kompol Iwan Siswanto dan delapan petugas lainnya, sejak Juli 2010 hingga Oktober 2010 Gayus setidaknya telah menyuap Rp 368 juta, demi bisa pelesiran ke luar tahanan.

Selain Gayus, mantan Kabareskrim Komjen Susno Duadji dan Kombes Williardi Wizard dikabarkan juga kerap keluar rutan untuk pulang ke rumah.

Praktik suap menyuap atau main uang di balik jeruji penjara atau rumah tahanan di negeri ini sebenarnya bukan baru dilakukan Gayus. Investigasi yang terungkap tim SIGI Liputan 6 SCTV beberapa waktu lalu bahkan membuktikan adanya praktik prostitusi di balik jeruji penjara. Dengan menyogok petugas, para napi bisa mendatangkan pekerja seks ke bilik penjara.

Kasus memalukan lainnya dipertontonkan pula di Rutan Pondok Bambu. Artalyta Suryani alias Ayin, yang dengan pundi-pundi uangnya sukses menyulap kamarnya bak hotel mewah, lengkap dengan pendingin ruangan. Di kamar ini pula Ayin tetap bisa menjalankan usahanya yang memiliki 70 ribu karyawan. Ayin juga diketahui beberapa kali keluar dari rutan.

Apakah ini diperoleh dengan gratis? Sangat tak masuk akal.

Kembali ke skandal tamasya ala Gayus, sejumlah pihak mendesak agar kasus ini diungkap hingga tuntas. Kasus permainan pajak Gayus Tambunan telah menyeret banyak pihak, mulai dari polisi, jaksa, hakim, dan bahkan politisi dan pengusaha besar. (MEL)