Sukses

Polisi Mutilasi Anak, Ini Kata Kapolri

Liputan6.com, Jakarta - Dua anak berusia 3 dan 5 tahun tewas di tangan ayah kandungnya, seorang polisi berpangkat brigadir. Sang polisi mengaku mendapat bisikan di benaknya untuk membunuh dan memutilasi anak-anaknya.

Istri Brigadir Petrus Bakus mengungkapkan anggota Intelijen dan Keamanan Polres Melawi, Kalimantan Barat itu memang sering mendapat bisikan sejak usia 4 tahun.

Lalu, bagaimana bisa Petrus lolos menjadi anggota kepolisian?

Kapolri Jenderal Polisi Badrodin Haiti mengatakan skizofrenia seperti yang dialami Petrus sulit dideteksi. "Lolos dari deteksi polisi ketika masuk," ujar Badrodin di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (26/2/2016).

Namun, dia enggan disebut kebobolan. Sebab, Polri telah menyeleksi calon anggotanya dengan ketat, baik itu tes kesehatan jasmani maupun kejiwaan.

"Selama ini tes kejiwaan sudah dilakukan. Dalam rekrutmen sudah ada upaya tes itu," kata Badrodin.

Meski telah lolos tes kejiwaan, kata dia, sulit mendeteksi satu per satu perilaku setiap anggota Polri. Apalagi, bila dalam perjalanannya anggota tersebut ternyata malah memiliki perilaku menyimpang.

"Kalau tidak ada tanda-tandanya, bagaimana bisa mengetahui, itu tertentu saja. Bisa jadi hanya saat ada masalah, tidak bisa dideteksi dilihat perilaku," ucap Badrodin.

Pembunuhan tersebut terjadi pada Jumat, 26 Februari 2016 dinihari, di Asrama Polres Melawi, Kalimantan Barat. Petrus memutilasi kedua anaknya yang tengah tertidur, Febian (5) dan Amora (3).

Kapolda Kalbar Brigadir Jenderal Polisi Arief Sulistyanto mengatakan berdasarkan keterangan istri, pelaku dalam seminggu terakhir kerap marah-marah sendiri di rumah.

"Di rumah seperti ada makhluk halus yang mendatangi dan bercerita sering mendapat bisikan," kata Arif saat dikonfirmasi Liputan6.com, Jumat.

Gejala skizofrenia tersebut rupanya sudah diidap Petrus sejak berusia 4 tahun. "Pada saat kecil umur 4 tahun, sering mengalami kejadian serupa dan badan terasa kedinginan," ujar Arif.

Loading