Sukses

Binturung, Hewan Langka Nyaris Punah di Kalimantan

Liputan6.com, Pontianak - Matanya menatap tajam pada setiap orang yang menghampiri. Bulunya terlihat tebal. Binturung. Demikian nama hewan yang terancam punah ini. Binturung (arctictis binturong) adalah sejenis musang bertubuh besar, anggota suku Viverridae.

Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, menyelamatkan seekor Binturung. Berawal dari sebuah informasinya masyarakat terkait keberadaan hewan yang dilindungi ini dipelihara warga setempat.

“Hewan langka ini yang sudah dipelihara oleh warga asal Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, selama 6 bulan, “ kata Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA ) Singkawang, Pasaoran Samosir, Rabu 11 Juni 2014,.

“Dipelihara selama 6 bulan sama warga asal Kecamatan Sungai Raya. Masih liar. Ini Binturung jenis betina. Besar sekali. 13 kilogram beratnya,” lanjut Samosir.

Untuk selanjutnya, kata Samosir hewan ini akan dibawa ke tempat aman. “Kita akan evakuasi ke Lembaga Konservasi Taman Satwa Sinka Island Kota Singkawang,” katanya.

Samosir menjelaskan, Binturung masuk Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) atau konvensi perdagangan internasional tumbuhan dan satwa liar spesies terancam  adalah perjanjian internasional antarnegara yang disusun berdasarkan resolusi sidang anggota World Conservation Union (IUCN) tahun 1963.

Lebih lanjut Samosir menambahkan, hingga saat ini populasi hewan tersebut mengalami penurunan. "Populasinya berkurang karena pembukaan lahan untuk perkebunan," kata dia.

Ancaman lain datang dari kerusakan lingkungan di hutan-hutan sebagai akibat pembalakan liar. Hancurnya hutan mengakibatkan rusaknya habitat Binturung, sehingga populasinya di alam terus menurun. Kini Binturung termasuk hewan yang dikhawatirkan kelestariannya dan termasuk hewan dilindungi di Indonesia.

Binturung menyukai hutan-hutan primer dan sekunder, kadang-kadang juga ditemukan di kebun di tepi hutan. Hewan ini menyebar mulai dari dataran tinggi Sikkim hingga ke Tiongkok selatan, Birma, Indochina, Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Palawan.

Hewan ini mengeluarkan semacam bau, seperti umumnya musang, dari kelenjar di bawah pangkal ekornya. Bau ini digunakan untuk menandai wilayah kekuasaannya. Hewan betina melahirkan 2-6 anak, setelah mengandung selama kurang lebih 91 hari.

Loading