Sukses

Kecam Pelaku Asusila JIS, Ibu Korban: Binatang Saja Tidak Begitu

Liputan6.com, Jakarta - Ibu dari bocah yang menjadi korban kejahatan asusila di Jakarta International School, T, mendatangi Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polda Metro Jaya. T yang ditemani pengacaranya, Andi Asrun menanyakan kelanjutan dan perkembangan penyidikan kasus pelecehan seksual tersebut.

Dia pun mengaku bahwa sejak awal sudah tahu bahwa tersangkanya bakal lebih dari 2 orang, berdasarkan cerita dari anaknya. Selain itu, T mengaku juga tak mau mengganggu jalannya proses penyidikan.

"Saya tak mau penyidikan terganggu, takutnya pelakunya lari. Dia selalu bilang too many mami, too many, how?" kata T di Polda Metro, Senin (28/4/2014).

Dia juga berharap pelaku dapat dituntut semaksimal mungkin. Apalagi anaknya sempat mendapatkan pukulan hingga berdarah dari satu tersangka.

Ia menegaskan perbuatan pelaku terhadap anaknya itu jauh dari rasa kemanusiaan. Sebab, korban mengalami kejahatan asusila secara bergantian oleh para pelaku. "Binatang saja tidak begitu," ketus T.

Kelima tersangka telah ditahan di Polda Metro. Adalah Agun Iskandar, Virgiawan alias Awan, Syahrial, Zainal alias ZA, Afriska atau AF. Sedangkan pelaku Azwar mati bunuh diri dengan menenggak cairan pembersih toilet di Polda Metro.

Korban Stres

Saat ini T fokus kepada pemulihan kondisi anaknya. Bahkan menurut T, anaknya harus lebih banyak lagi mendapat pendampingan psikolog. Selain untuk membangkitkan percaya diri, T melihat pendampingan psikolog yang sering akan membuat A cepat pulih.

"Dia suka nanya 'mami jijik enggak sama aku, mami masih cinta aku? Do you love me? Saya jawab cinta, tidak ada yang merasa jijik," cerita T.

T juga mengatakan, sejak kejadian keji, anaknya sering mengalami stres. Dan saat stres, putra sulungnya itu sering menggambar, menulis coretan-coretan di selembar kertas. "Dia bilang kalau lagi stres dia gambar, dia tulis 'security tell the boss, the boss do the bad things. Kalau sudah kumat suka pukul-pukul burungnya," terang T.

Dan yang membuat T merasa sedih dan kesal bukan kepalang, hingga kini tak ada permohonan maaf dari pihak guru JIS. Padahal peristiwa yang menimpa anaknya terjadi saat jam pelajaran sekolah itu. Bahkan menurutnya, ketika anaknya keluar begitu lama pergi ke toilet, tidak ada upaya guru mencari anaknya saat itu.

"Anak saya diperkosa 4-5 orang, mana gurunya? Anak ke toilet lama, bagaimana gurunya tidur? Jengkel saya, tidak ada permintaan maaf sekolah. Bahkan Bu Lusi (asisten guru) bilang anak kalau keluar 5 menit tidak masuk lagi (ke kelas), dicari. Ini mana? Buktinya 5 orang mengerjai 1 anak itu butuh waktu yang lama," cetus T.

Bunda korban juga menuding peristiwa yang menimpa putranya itu merupakan kesalahan pihak JIS, bukan ISS selaku outsourcing yang mempekerjakan para tersangka sebagai cleaning service di sekolah.