Liputan6.com, Banda Aceh: Ribuan orang mengikuti prosesi pemakaman jenazah Rektor Universitas Syiah Kuala Prof. Dr. Dayan Dawood di pemakaman keluarga di Lhoknga, Aceh Besar, DI Aceh, Jumat (7/9) siang tadi. Sebelum dikebumikan, jenazah disemayamkan di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Di tempat yang sama, juga dilakukan sembahyang jenazah yang dipimpin Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman KH Sofyan Hamzah.
Tampak mengiringi almarhum, Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam Abdulah Puteh. Beliau bergabung dengan iring-iringan rombongan pelayat yang mencapai panjang sekitar satu kilometer. Lokasi pemakaman berjarak 12 kilometer dari Banda Aceh.
Selain masyarakat setempat, ada juga ribuan mahasiswa Unsyiah yang ikut mengantar kepergian rektor mereka. Bagi masyarakat Aceh, kepergian Dayan Dawood adalah kehilangan yang cukup berarti di dunia pendidikan. Sebab, semasa hidup, almarhum dikenal sebagai sosok yang mengecam keras setiap aksi pembakaran gedung sekolah di tanah Serambi Mekah.
Almarhum menilai, pembakaran gedung tersebut hanya membuat Aceh kehilangan sumber daya manusia. Untuk itu, Profesor Ekonomi lulusan Universitas of Hawaii, Honolulu, Amerika Serikat ini, mendesak pemerintah Indonesia maupun separatis Gerakan Aceh Merdeka untuk berdialog agar konflik berdarah di Tanah Rencong segera berakhir.
Dayan Dawood yang mati ditembak orang tak dikenal, seakan mengingatkan masyarakat Aceh akan pesannya, yaitu Aceh di masa mendatang akan mengalami apa yang disebut almarhum, kehilangan sumber daya manusia [baca:Rektor Unsyiah Banda Aceh Tewas Ditembak].
Sementara itu, di Medan, Sumatra Utara, para Rektor Perguruan Tinggi se-Indonesia Bagian Barat, mengecam dan mengutuk pelaku pembunuhan terhadap Rektor Unsyiah. Mereka juga berharap, Presiden Megawati Sukarnoputri dapat menghentikan berbagai konflik di Aceh.
Kehadiran mereka di sana adalah untuk melakukan rapat tahunan Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Indonesia Barat yang meliputi kampus-kampus di Sumatra, Jawa, dan Kalimantan. Sedianya, dalam pertemuan itu, almarhum akan memberikan sumbangan pemikiran. Sayang, belum acara itu dimulai, ia telah dibunuh.
Untuk menghormati almarhum, sebelum rapat, para rektor sempat mengheningkan cipta dan berdoa agar konflik di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam segera berakhir. Mereka juga meminta polisi bertindak tegas dan mengamankan jajaran pengelola pendidikan.
Menurut Rektor Universitas Negeri Medan Prof. Djanius Djamin, SH. MS., terbunuhnya almarhum Dayan Dawood adalah pukulan berat bagi dunia pendidikan, khususnya perguruan tinggi. Kasus ini mendapat perhatian serius para rektor karena masalah pendidikan di Aceh masuk ke dalam agenda rapat.
Kematian Dayan Dawood menambah daftar catatan hitam kasus pembunuhan terhadap tokoh masyarakat Aceh. Dalam setahun terakhir, sudah enam orang tokoh Aceh yang tewas dibunuh oleh kelompok tak dikenal.
Pada mulanya adalah Februari 2000. Anggota DPR RI Tengku Nashirudin Daud dari Partai Persatuan Pembangunan itu ditemukan tewas sebagai mayat tak dikenal di kawasan Pemandian Sembahe Bandar Baru, Sibolangit, Sumatra Utara. Sebelumnya, Nashirudin sempat hilang di Medan usai bertugas ke Aceh pada 23 Januari 2000.
Kemudian, pada 7 September 2000, pendiri International Forum on Aceh (IFA) M. Dja`far Sidik, hilang diculik selama sebulan. Mantan wartawan ini, kemudian diketahui termasuk seorang dari lima jenazah yang ditemukan tewas di Medan.
Masih di bulan yang sama, Rektor IAIN Ar Raniry Banda Aceh Prof. Dr. H. Safwan Idris MA., tewas akibat tembakan dua pemuda tak dikenal. Ketua Majelis Ulama Indonesia daerah Aceh ini adalah seorang di antara kandidat gubernur Aceh periode 2000-2005.
Sementara itu, pada Mei 2001, Mayor Jenderal Purnawirawan Teuku Djohan --lagi-lagi-- tewas ditembak dua orang tak dikenal. Mantan wakil gubernur Aceh yang menjadi anggota MPR ini ditembak seusai melakukan salat Maghrib di Mesjid Baiturrahman Banda Aceh, DI Aceh.(SID/Tim Liputan 6 SCTV)
Tampak mengiringi almarhum, Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam Abdulah Puteh. Beliau bergabung dengan iring-iringan rombongan pelayat yang mencapai panjang sekitar satu kilometer. Lokasi pemakaman berjarak 12 kilometer dari Banda Aceh.
Selain masyarakat setempat, ada juga ribuan mahasiswa Unsyiah yang ikut mengantar kepergian rektor mereka. Bagi masyarakat Aceh, kepergian Dayan Dawood adalah kehilangan yang cukup berarti di dunia pendidikan. Sebab, semasa hidup, almarhum dikenal sebagai sosok yang mengecam keras setiap aksi pembakaran gedung sekolah di tanah Serambi Mekah.
Almarhum menilai, pembakaran gedung tersebut hanya membuat Aceh kehilangan sumber daya manusia. Untuk itu, Profesor Ekonomi lulusan Universitas of Hawaii, Honolulu, Amerika Serikat ini, mendesak pemerintah Indonesia maupun separatis Gerakan Aceh Merdeka untuk berdialog agar konflik berdarah di Tanah Rencong segera berakhir.
Dayan Dawood yang mati ditembak orang tak dikenal, seakan mengingatkan masyarakat Aceh akan pesannya, yaitu Aceh di masa mendatang akan mengalami apa yang disebut almarhum, kehilangan sumber daya manusia [baca:Rektor Unsyiah Banda Aceh Tewas Ditembak].
Sementara itu, di Medan, Sumatra Utara, para Rektor Perguruan Tinggi se-Indonesia Bagian Barat, mengecam dan mengutuk pelaku pembunuhan terhadap Rektor Unsyiah. Mereka juga berharap, Presiden Megawati Sukarnoputri dapat menghentikan berbagai konflik di Aceh.
Kehadiran mereka di sana adalah untuk melakukan rapat tahunan Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Indonesia Barat yang meliputi kampus-kampus di Sumatra, Jawa, dan Kalimantan. Sedianya, dalam pertemuan itu, almarhum akan memberikan sumbangan pemikiran. Sayang, belum acara itu dimulai, ia telah dibunuh.
Untuk menghormati almarhum, sebelum rapat, para rektor sempat mengheningkan cipta dan berdoa agar konflik di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam segera berakhir. Mereka juga meminta polisi bertindak tegas dan mengamankan jajaran pengelola pendidikan.
Menurut Rektor Universitas Negeri Medan Prof. Djanius Djamin, SH. MS., terbunuhnya almarhum Dayan Dawood adalah pukulan berat bagi dunia pendidikan, khususnya perguruan tinggi. Kasus ini mendapat perhatian serius para rektor karena masalah pendidikan di Aceh masuk ke dalam agenda rapat.
Kematian Dayan Dawood menambah daftar catatan hitam kasus pembunuhan terhadap tokoh masyarakat Aceh. Dalam setahun terakhir, sudah enam orang tokoh Aceh yang tewas dibunuh oleh kelompok tak dikenal.
Pada mulanya adalah Februari 2000. Anggota DPR RI Tengku Nashirudin Daud dari Partai Persatuan Pembangunan itu ditemukan tewas sebagai mayat tak dikenal di kawasan Pemandian Sembahe Bandar Baru, Sibolangit, Sumatra Utara. Sebelumnya, Nashirudin sempat hilang di Medan usai bertugas ke Aceh pada 23 Januari 2000.
Kemudian, pada 7 September 2000, pendiri International Forum on Aceh (IFA) M. Dja`far Sidik, hilang diculik selama sebulan. Mantan wartawan ini, kemudian diketahui termasuk seorang dari lima jenazah yang ditemukan tewas di Medan.
Masih di bulan yang sama, Rektor IAIN Ar Raniry Banda Aceh Prof. Dr. H. Safwan Idris MA., tewas akibat tembakan dua pemuda tak dikenal. Ketua Majelis Ulama Indonesia daerah Aceh ini adalah seorang di antara kandidat gubernur Aceh periode 2000-2005.
Sementara itu, pada Mei 2001, Mayor Jenderal Purnawirawan Teuku Djohan --lagi-lagi-- tewas ditembak dua orang tak dikenal. Mantan wakil gubernur Aceh yang menjadi anggota MPR ini ditembak seusai melakukan salat Maghrib di Mesjid Baiturrahman Banda Aceh, DI Aceh.(SID/Tim Liputan 6 SCTV)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3372858/original/061241900_1612917784-Vaksin-Nakes-Lansia1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317472/original/091873000_1786014229-IMG_3312.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320374/original/084584100_1786347702-Screenshot_2026-08-10_130418.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9307902/original/001690200_1785120590-Pjs_Gubernur_BI_Destry_Destry_Damayanti-27_Juli_2026d.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/358752/original/070901cDaud.jpg)