Hujan Menghambat Aktivitas Timnas Lumpur Lapindo

Lagi-lagi Tim Nasional Penanggulangan Lumpur Lapindo tak bisa memasukkan bola-bola beton ke pusat semburan. Hujan deras membuat jalan menuju pusat semburan PT Lapindo Brantas labil dan sulit dilewati.

Diterbitkan 09 Maret 2007, 14:36 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Sidoarjo: Hujan deras yang menyiram Sidoarjo dan Porong, Jawa Timur, Jumat (9/3) pagi, membuat Tim Nasional Penanggulangan Lumpur Lapindo belum bisa memasukkan rangkaian bola-bola beton ke pusat semburan. Hujan membuat jalan-jalan masuk ke pusat semburan PT Lapindo Brantas labil dan cukup sulit dilewati.

Hari ini, Timnas Lumpur praktis tidak bisa bekerja banyak. Hanya beberapa alat berat yang terus mengaduk lumpur di pusat semburan serta alat berat yang digunakan untuk mengambil lumpur untuk dibuang.

Hingga kemarin, sudah 146 bola beton yang dimasukkan ke pusat lubang semburan [baca: Penyumbatan Pusat Semburan Lumpur Gagal Lagi]. Meski begitu belum ada tanda-tanda semburan akan berkurang apalagi berhenti total. Setiap hari lumpur yang keluar masih sekitar 160 ribu meter kubik. Di saat hujan begini, kondisi ini sangat memprihatinkan. Karena bisa mengakibatkan lumpur meluber dan sejumlah tanggul penahan lumpur jebol.

Masalah semburan lumpur panas Lapindo tidak cuma memuyengkan Tim Penanggulangan Lumpur. Warga yang menjadi korban juga menderita. Sudah tiga bulan ribuan warga mengungsi di Pasar Baru Porong. Mereka kehilangan mata pencaharian dan sejumlah pengungsi mulai menjual sisa nasi bantuan.

Para pengungsi yang bertahan di Rumah Toko Pasar Baru mendapat jatah makanan tiga kali sehari. Makanan yang tidak variatif membuat warga bosan dan mulai memutar otak untuk mendapat uang demi mendapatkan makanan yang lebih bergizi. "Setiap hari makan-makanan yang kering, tidak ada kuah, tidak ada sayur," kata seorang pengungsi.

Sejumlah warga berinisiatif mengumpulkan sisa-sisa nasi bungkus. Mereka mengeringkan sisa nasi bungkus dan menjual ke pasar. Satu kilogram nasi kering dijual dengan harga Rp 1.500. Bukan cuma itu. Gelas-gelas plastik dari Lapindo juga dijual seharga Rp 3.000 per kilogram. Warga bertahan untuk mendapatkan uang ganti rugi.

Saat ini, tercatat ada 2.146 kepala keluarga atau 7.977 jiwa yang mendiami tempat pengungsian Pasar Baru Porong. Rencananya ganti rugi akan diberikan kepada sejumlah warga yang telah memenuhi verifikasi.

Musibah lumpur PT Lapindo Brantas telah menenggelamkan empat kelurahan dari 19 kelurahan yang ada di Kecamatan Porong. Saat ini, warga di Kelurahan Glagah pun mulai waswas desanya bakal tergenang lumpur. Sebab, penurunan tanah di wilayah Porong sudah kritis.(TNA/Tim Liputan 6 SCTV)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6