Liputan6.com, Yogyakarta: Komite Nasional Keselamatan Transportasi masih memeriksa penyebab kecelakaan pesawat Garuda GA 200 di Bandar Udara Adi Sucipto, Yogyakarta, Kamis (8/3). Tim juga memotong ekor pesawat Garuda yang terbakar karena dikhawatirkan mengganggu sinyal di Bandara Adi Sucipto. Sejauh ini KNKT telah meminta keterangan petugas pengendali lalu lintas udara Bandara Adi Sucipto, pemadam kebakaran, dan sejumlah saksi.
KNKT memeriksa lokasi kejadian bersama petugas dari Pusat Laboratorium Mabes Polri dan pihak Boeing. Pemeriksaan yang dilakukan sejak pagi ini difokuskan pada detail pesawat dan komponen-komponen yang masih tersisa.
Penyelidikan sempat terhenti pukul 11.00 WIB untuk mengadakan rapat koordinasi. Ini dilakukan untuk mengevaluasi data dan temuan yang diperoleh di lapangan. Penyelidikan dilanjutkan pada pukul 16.00 WIB oleh petugas Puslabfor Mabes Polri. Hingga saat ini pihak Puslabfor Mabes Polri enggan memberikan keterangan. Mereka berjanji memberikan keterangan setelah penyelidikan berakhir untuk menghindari kesimpangsiuran.
Hingga berita ini disusun memang masih menyisakan data yang simpang siur. Terutama masalah korban tewas dalam kebakaran yang terjadi kemarin pagi itu. Menurut data dari pihak Garuda, korban meninggal mencapai 22 orang sedangkan tim Forensik Polri menyatakan 21 penumpang meninggal [baca: Garuda-Pihak Bandara Bersitegang Menerima Kedatangan Jenazah].
Sejauh ini hampir semua pihak sepakat terbakarnya pesawat Garuda Boeing 737 400 kecil kemungkinannya akibat masalah teknis. Sebab selama ini pesawat yang nahas tersebut telah lolos pengecekan rutin sesuai standar Boeing. Jika demikian, artinya kebarakaran kemungkinan besar karena kesalahan manusia. Pernyataan ini antara lain diungkapkan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Ichsan Tatang yang mengungkapkan pemeriksaan dilakuka berkala.
Seakan dikomando, hal yang sama juga diungkapkan Direktur Utama Garuda Emirsyah Satar. Dia yakin selama ini semua pesawat Garuda selalu dalam perawatan rutin. Tapi Satar tak mau berspekulasi dengan menyerahkan semuanya ke KNKT.
Pernyataan yang sama juga keluar dari Garuda Maintenance Facility yang selama ini langsung merawat Garuda GA 200. Kepala Bagian Perawatan Marnala Ayuan mengungkapkan, pesawat itu belum lama ini telah dicek sesuai standar seperti A cek, C cek, dan D cek yang dilakukan berdasarkan jam terbang. Marnala mengungkapkan, kebakaran bisa diakibatkan percikan api dari gesekan pesawat dan landasan pacu.
Selain karena faktor kesalahan manusia, muncul spekulasi adanya sabotase sebagai penyebab terbakarnya pesawat tersebut. Indikasinya adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Widodo A.S untuk turun tangan [baca: Widodo A.S. Ditugaskan Menyelidiki Kecelakaan Garuda].
Hingga petang ini tim forensik dari Indonesia dan Australia telah mengidentifikasi 20 jenazah. Empat di antaranya adalah warga Australia yang sebelumnya dikabarkan hilang. Mereka adalah Briece Steele, Henry Morgan, Saxon Mellish, dan Allison Sudrajat. Dengan dikenalinya 20 jenazah itu tinggal satu jasad perempuan yang belum dapat diidentifikasi [baca: Warga Australia Melacak Keluarga].
Di sisi lain keluarga penumpang lain masih mencari anggota keluarga mereka. Keluarga Lukman Hakim, misalnya. Kerabat Pembantu Dekan I Fakultas Ekonomi UGM Maskur Wiratno itu terus mendatangi berbagai rumah sakit di Yogyakarta. Lukman mengatakan, jika sampai batas waktu berakhirnya pencarian kakak iparnya tersebut tak ditemukan pihak keluarga memutuskan akan mencari sendiri.
Kondisi pilot Marwoto sudah membaik. Menurut tim dokter Rumah Sakit TNI Angkatan Udara Harjo Lukito, dalam waktu dekat Marwoto sudah boleh pulang. Menurut dokter Agung Maryanto, Marwoto tak mengalami luka serius. Hanya terkena sengatan hawa panas hingga menimbulkan bekas merah di pipi.
Selain tim dokter dari RS TNI AU, Marwoto juga dirawat oleh tim dokter dari Garuda. Sehari sebelumnya, pilot yang sudah mengabdi lebih dari 21 tahun itu kerap mengucapkan rasa bersalahnya atas terbakar pesawat yang dikemudikannya.(YAN/Tim Liputan 6 SCTV)
KNKT memeriksa lokasi kejadian bersama petugas dari Pusat Laboratorium Mabes Polri dan pihak Boeing. Pemeriksaan yang dilakukan sejak pagi ini difokuskan pada detail pesawat dan komponen-komponen yang masih tersisa.
Penyelidikan sempat terhenti pukul 11.00 WIB untuk mengadakan rapat koordinasi. Ini dilakukan untuk mengevaluasi data dan temuan yang diperoleh di lapangan. Penyelidikan dilanjutkan pada pukul 16.00 WIB oleh petugas Puslabfor Mabes Polri. Hingga saat ini pihak Puslabfor Mabes Polri enggan memberikan keterangan. Mereka berjanji memberikan keterangan setelah penyelidikan berakhir untuk menghindari kesimpangsiuran.
Hingga berita ini disusun memang masih menyisakan data yang simpang siur. Terutama masalah korban tewas dalam kebakaran yang terjadi kemarin pagi itu. Menurut data dari pihak Garuda, korban meninggal mencapai 22 orang sedangkan tim Forensik Polri menyatakan 21 penumpang meninggal [baca: Garuda-Pihak Bandara Bersitegang Menerima Kedatangan Jenazah].
Sejauh ini hampir semua pihak sepakat terbakarnya pesawat Garuda Boeing 737 400 kecil kemungkinannya akibat masalah teknis. Sebab selama ini pesawat yang nahas tersebut telah lolos pengecekan rutin sesuai standar Boeing. Jika demikian, artinya kebarakaran kemungkinan besar karena kesalahan manusia. Pernyataan ini antara lain diungkapkan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Ichsan Tatang yang mengungkapkan pemeriksaan dilakuka berkala.
Seakan dikomando, hal yang sama juga diungkapkan Direktur Utama Garuda Emirsyah Satar. Dia yakin selama ini semua pesawat Garuda selalu dalam perawatan rutin. Tapi Satar tak mau berspekulasi dengan menyerahkan semuanya ke KNKT.
Pernyataan yang sama juga keluar dari Garuda Maintenance Facility yang selama ini langsung merawat Garuda GA 200. Kepala Bagian Perawatan Marnala Ayuan mengungkapkan, pesawat itu belum lama ini telah dicek sesuai standar seperti A cek, C cek, dan D cek yang dilakukan berdasarkan jam terbang. Marnala mengungkapkan, kebakaran bisa diakibatkan percikan api dari gesekan pesawat dan landasan pacu.
Selain karena faktor kesalahan manusia, muncul spekulasi adanya sabotase sebagai penyebab terbakarnya pesawat tersebut. Indikasinya adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Widodo A.S untuk turun tangan [baca: Widodo A.S. Ditugaskan Menyelidiki Kecelakaan Garuda].
Hingga petang ini tim forensik dari Indonesia dan Australia telah mengidentifikasi 20 jenazah. Empat di antaranya adalah warga Australia yang sebelumnya dikabarkan hilang. Mereka adalah Briece Steele, Henry Morgan, Saxon Mellish, dan Allison Sudrajat. Dengan dikenalinya 20 jenazah itu tinggal satu jasad perempuan yang belum dapat diidentifikasi [baca: Warga Australia Melacak Keluarga].
Di sisi lain keluarga penumpang lain masih mencari anggota keluarga mereka. Keluarga Lukman Hakim, misalnya. Kerabat Pembantu Dekan I Fakultas Ekonomi UGM Maskur Wiratno itu terus mendatangi berbagai rumah sakit di Yogyakarta. Lukman mengatakan, jika sampai batas waktu berakhirnya pencarian kakak iparnya tersebut tak ditemukan pihak keluarga memutuskan akan mencari sendiri.
Kondisi pilot Marwoto sudah membaik. Menurut tim dokter Rumah Sakit TNI Angkatan Udara Harjo Lukito, dalam waktu dekat Marwoto sudah boleh pulang. Menurut dokter Agung Maryanto, Marwoto tak mengalami luka serius. Hanya terkena sengatan hawa panas hingga menimbulkan bekas merah di pipi.
Selain tim dokter dari RS TNI AU, Marwoto juga dirawat oleh tim dokter dari Garuda. Sehari sebelumnya, pilot yang sudah mengabdi lebih dari 21 tahun itu kerap mengucapkan rasa bersalahnya atas terbakar pesawat yang dikemudikannya.(YAN/Tim Liputan 6 SCTV)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264115/original/018567300_1782092996-Tugas__39_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8414164/original/000004000_1782298740-Cek_fakta_-_rumor_ukraina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7676875/original/060602200_1780471869-Tugas__23_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8406223/original/090481000_1782289085-cek_fakta_-_insentif_guru_asn.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/474611/original/080307bknkt.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8442423/original/051297200_1782335693-063_2283164257.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8458114/original/001317800_1782356893-000_B88W362.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259075/original/006227600_1781447167-Turki_vs_Australia-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8459088/original/096988900_1782358208-000_B88W3AA.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8458112/original/030524500_1782356891-000_B88U3NH.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259033/original/064642600_1781436681-000_B6Z637Y.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8450278/original/065503300_1782346556-vini.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5539854/original/082732300_1774647037-granit-xhaka-serge-gnabry-swiss-jerman-duel-persahabatan-internasional.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258705/original/024939600_1781404490-qatar_vs_swiss-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7814803/original/065180300_1780632434-raul-jimenez-meksiko-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263966/original/082388400_1782038241-000_B7RC3ZV.jpg)