Warga Kaliputih Berhasil Dievakuasi

Tim SAR gabungan berhasil menyelamatkan 20 warga di Desa Kaliputih, daerah yang paling parah terkena banjir bandang. Meski selamat, kondisi mereka sangat memprihatinkan karena hanya makan pisang dan minum air hujan.

Diterbitkan 04 Januari 2006, 19:51 WIB
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Jember: Tim le="font-style: italic;">search and rescue (SAR) masih berusaha mengevakuasi korban banjir bandang di Jember, Jawa Timur, Rabu (3/1). Upaya pencarian kali ini diarahkan untuk mencari korban selamat di daerah terisolasi. Karena sulit dijangkau melalui jalur darat, tim penolong menggunakan helikopter milik TNI Angkatan Laut [baca: Jenazah Korban Banjir Mulai Membusuk].

Salah satu daerah yang dicari tim penolong adalah Desa Kaliputih. Menurut informasi, sebagian besar wilayah ini telah rata dengan tanah setelah disapu banjir bandang. Di desa yang dihuni 30 kepala keluarga ini, tim SAR gabungan akhirnya menemukan sekitar 20 warga dalam kondisi lemah karena sudah tidak lagi memiliki persediaan bahan makanan. Menurut Rima, salah satu korban, agar bisa bertahan hidup mereka hanya makan pisang dan minum air hujan.

Selain korban selamat, tim penolong juga menemukan sembilan korban meninggal. Sebagian di antaranya masih terbenam di lumpur. Para korban yang selamat segera dievakuasi dengan helikopter. Sedangkan, korban tewas diangkut melalui jalan darat.

Tim SAR kemudian meneruskan upaya penyelamatan korban di lokasi lain. Mereka menyisir di antara puing-puing bekas rumah warga. Di Desa Glengseran dan sekitarnya, tim penolong menemukan tiga mayat. Menurut data Satuan Koordinasi Pelaksana (Satkorlak) penanggulangan bencana, korban tewas  kini telah mencapai 71 orang. Sebelumnya korban meninggal dilaporkan 57 orang [baca: Sepuluh Mayat di RSUD Soebandi Teridentifikasi].

Peristiwa banjir dan tanah longsor yang terjadi di Jember, Jatim dan di Banjarnegara, Jawa Tengah, diduga disebabkan kondisi hutan yang sudah gundul. Ironisnya, hutan yang berfungsi sebagai daerah resapan air justru rusak akibat pembalakan.

Sekitar pukul 05.00 WIB pagi tadi tanah longsor mengubur Dusun Gunung Raja, Desa Sijeruk, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara, Jateng. Satkorlak melaporkan sedikitnya 10 orang  tewas dan belasan lainnya luka-luka hingga siang tadi. Peristiwa ini diduga diakibatkan karena tanah tidak mampu menahan air hujan yang beberapa hari ini turun dengan deras [baca: Korban Tewas Mencapai Sepuluh Orang].

Banjir bandang yang terjadi di Jember, Jatim, diduga akibat gundulnya lahan di Bukit Argopuro. Bukit yang tadinya bagai hamparan permadani hijau sekarang sudah berubah. Menurut masyarakat sekitar, ini terjadi akibat penebangan kayu liar di bukit seluas empat ribu hektare ini [baca: Banjir Bandang Melanda Tiga Kecamatan di Jember].

Menteri Kehutanan  M.S. Kaban, dalam keterangannya di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat, mengatakan banjir bandang di Jember salah satu faktor penyebabnya dikarenakan adanya lahan kritis serta adanya kawah yang tak mampu menahan genangan air. Akibatnya, fungsi bukit sebagai daerah resapan tidak maksimal. Ketika curah hujan turun dengan tinggi maka banjir pun terjadi dan menyapu tiga kecamatan di bawahnya.

Meski begitu, Perhutani Jember yang selama ini bertanggungjawab terhadap pengelolaan hutan di sekitar Bukit Argopuro menolak anggapan tersebut. Menurut mereka, banjir bandang disebabkan semata mata karena tingginya curah hujan.

Hampir dalam waktu bersamaan, banjir dan tanah longsor juga melanda empat desa di Kecamatan Salem, Brebes, Jateng. Masyarakat menduga kejadian ini disebabkan maraknya penebangan kayu di hutan pinus di Salem. Selain kerugian materi, musibah ini juga menyebabkan dua warga hanyut terbawa derasnya arus sungai [baca: Empat Desa di Brebes Diterjang Longsor].

Banjir bandang juga terjadi di dua desa di Kecamatan Simpang Semadam, Kutacane, Aceh Tenggara, Nanggroe Aceh Darussalam, tahun silam. Selain menyebabkan korban jiwa, banjir juga membuat ratusan warga harus kehilangan tempat tinggal. Diduga, peristiwa ini disebabkan adanya pembalakan liar. Namun, Menteri Kehutanan yang datang langsung ke lokasi banjir menyangkal adanya aktifitas ilegal tersebut [baca:  Kaban: Banjir Kutacane Akibat Penebangan Kayu Liar].

Setiap cerita pasti selalu memiliki dua versi yang berbeda. Bukan masalah penting siapa yang benar atau siapa yang bohong. Yang jelas, bencana itu telah merengut puluhan nyawa. Apakah kita hanya bisa menyalahkan alam. Atau memang ada yang harus bertanggung jawab karena keteledorannya meski hingga kini masih melenggang bebas setelah prahara terjadi.(IAN/Tim Liputan 6 SCTV)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6