Sukses

Besok, Kebun Binatang Ragunan Ditutup

Liputan6.com, Jakarta: Pemerintah DKI Jakarta memutuskan untuk menutup Kebun Binatang Ragunan selama 21 hari mulai besok. Keputusan ini diambil setelah diketahui sejumlah unggas di Ragunan terserang flu burung. "Masyarakat tidak perlu panik menyikapi kasus ini," kata Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, Ahad (18/9).

Keputusan menutup Kebun Binatang Ragunan diambil setelah tim dari Departemen Pertanian dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) menemukan bahwa 30 persen unggas di tujuh kandang terinfeksi flu burung. Menanggapi laporan ini Sutiyoso mengadakan rapat di kediamannya yang dihadiri Menteri Pertanian Anton Apriantono serta Kepala Instansi Kantor Taman Margasatwa Ragunan Sri Mulyono.

Sementara kebun binatang ditutup, Pemprov DKI akan memeriksa kesehatan seluruh pengelola kebun binatang. Namun Sutiyoso tak menyinggung bagaimana memeriksa warga yang pernah mengunjungi Ragunan yang jumlahnya ribuan dan tersebar di sejumlah daerah. Dia hanya mengimbau warga yang mengeluh sakit panas segera memeriksakan diri ke rumah sakit. "Biayanya dari Pemerintah Daerah [DKI Jakarta]," kata Bang Yos.

Sutiyoso menambahkan, seluruh unggas yang tak dilindungi tapi positif mengidap flu burung akan langsung dimusnahkan. Sementara unggas yang dilindungi akan coba diobati dan dikarantina jika terbukti menderita flu burung. Jika perlu, melibatkan dunia internasional.

Pengumuman menutup Kebun Binatang Ragunan hari ini yang juga hari terakhir liburan akhir pekan dinilai terlambat. Apalagi Deptan sejak dua hari silam telah mengetahui unggas di Ragunan mengidap flu burung. Menanggapi kekhawatiran ini, Anton Apriantono mengaku tak bisa langsung menutup kebun binatang karena tak mempunyai wewenang. "Harus meyakinkan dulu pengurus kebun binatang," kata Anton dalam telewicara dengan repoter Bayu Sutiyono di Liputan 6 Petang SCTV.

Departemen Pertanian sebenarnya telah menurunkan tim ke Ragunan sejak 5 September silam. Mereka kemudian menganalisa dan mengonfirmasi sejumlah unggas di kebun binatang. Anton menerima laporan lisan mengenai kasus flu burung di Ragunan pada Jumat silam. "Kemarin, kita bahas dengan para ahli dan hari ini kita bahas dengan jajaran kami dan juga dengan pemerintah daerah khususnya Dinas Peternakan dan kepala Kebun Binatang Ragunan," kata Mentan.

Menanggapi pernyataan itu, Bayu sempat bertanya dengan nada meninggi, "Tutup dulu kenapa? Sehingga masyarakat tidak dirugikan. Kenapa harus menunggu rapat dan hari ini tidak ditutup kebun binatang."

Menjawab berondongan pertanyaan ini, Anton mengaku tidak bisa serta merta mengambil keputusan karena harus berkoordinasi dengan para ahli dan meyakinkan pihak pengelola kebun binatang. "Ini era otonomi," kata Anton di ujung telepon.

"Pak, kita harus menunggu berapa orang lagi untuk tewas gara-gara flu burung sehingga kemudian kita harus menungu orang sakit, baru mengambil tindakan yang tepat?" kata Bayu.

Anton kembali menegaskan, tidak bisa sembarangan sehingga harus berkoordinasi dengan para ahli. Selain itu, penutupan kebun binatang akan mengundang kepanikan. "Tidak bisa serta merta menutup kebun binatang," kata Anton.

Departemen Pertanian memang terkesan lamban. Padahal sebagai tempat publik, Ragunan bisa dikunjungi ribuan orang setiap akhir pekan dan berasal dari beragam daerah. Sehingga sangat sulit bagi pemerintah untuk memeriksa sampel darah maupun lendir di hidung dan mulut pengunjung yang diduga terjangkit flu burung. Selain itu, kasus flu burung saat ini sedang menjadi sorotan internasional.

Kehati-hatian pihak Deptan tampak pula dalam rapat yang digelar di kediaman Anton tadi siang, sebelum berangkat ke rumah Sutiyoso. Rapat ini antara lain dihadiri Direktur Jenderal Peternakan Masturiadi, Kepala Dinas Peternakan DKI Kusuma Dwiyanto dan Direktur Kesehatan Hewan Tri Satya Putri Naipospos. Berikut adalah sebagian percakapan antara Tri Satya Putri Naipospos dengan Anton Apriantono.

Anton: "Kalau penanganan kita tidak tepat, menimbulkan kesan tidak baik. Kok Indonesia tidak tepat penanganannya? Terlalu mengambil risiko...wah itu bahaya. Jadi lebih baik kita istilahnya rugi tidak terlalu banyak, tapi dinilai tepat penanganannya sehingga kerugian-kerugian tertangani dengan baik."

Tri Satya: "Saya sependapat dengan Pak Menteri. Harus ada pengertian terutama [kepada] yang memegang wilayah karena ini yang lebih penting supaya kita juga nanti jangan berakibat pada hal yang buruk. Saya pikir kita sama-sama sampaikan itu dengan baik Pak. Nanti kan ada pimpinan kebun binatang yang akan mungkin menentang begitu Pak Menteri, kalau kita tidak berikan pengertian dengan baik apa sebetulnya implikasinya. Tapi implikasinya juga bisa positif Pak. Karena terlihat bahwa ada peran kita dalam melakukan tindakan pencegahan."

"Dan [penutupan] ini juga tidak selamanya Pak. Kita akan memberikan batasan. Mungkin ada kerugian tentunya, tapi kita tidak boleh tinggal diam. Kita harus menggunakan langkah itu pasti, disamping kita mengambil sampel kembali. Saya pikir cukup bagus Pak..."(YAN/Tim Liputan 6 SCTV)