Bukan Cuma Skincare, Kesehatan Pencernaan Bisa Memengaruhi Kondisi Kulit

Kecantikan tidak hanya berasal dari perawatan luar, tapi juga berkaitan dengan kesehatan pencernaan yang disebut gut-skin axis.

Diterbitkan 30 September 2026, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kecantikan tidak hanya berkaitan dengan apa yang terlihat dari luar. Kondisi kulit dapat dipengaruhi oleh berbagai proses di dalam tubuh, termasuk kesehatan pencernaan dan mikroorganisme yang hidup di dalamnya.

Hubungan antara usus dan kulit dikenal sebagai gut-skin axis, yaitu jalur komunikasi dua arah yang melibatkan mikrobioma, sistem kekebalan tubuh, dan sinyal peradangan.

Mikrobioma usus terdiri dari triliunan mikroorganisme, termasuk bakteri, jamur, dan berbagai jenis mikroba lainnya. Komunitas mikroorganisme ini berperan dalam mencerna makanan, menghasilkan nutrisi tertentu, mendukung sistem kekebalan tubuh, serta menjaga lapisan pelindung usus.

Keseimbangan mikrobioma menjadi salah satu faktor yang mendukung fungsi tubuh secara keseluruhan. Kondisi tersebut juga berkaitan dengan berbagai proses biologis yang dapat memengaruhi kesehatan dan kondisi kulit.

Ketidakseimbangan bakteri atau gut dysbiosis dapat berkaitan dengan peradangan sistemik yang berpotensi memperburuk sejumlah kondisi kulit.

Sinyal peradangan dari dalam tubuh dapat memengaruhi kulit melalui sistem imun, sehingga hubungan keduanya tidak berhenti pada proses pencernaan, melansir Times of India, Rabu (30/9/2026).

Kondisi tersebut membantu menjelaskan mengapa penelitian mengenai mikrobioma semakin sering dikaitkan dengan masalah seperti jerawat, rosacea, eksim, dan psoriasis.

Hubungan tersebut bukan berarti seluruh masalah kulit disebabkan oleh usus. Faktor genetik, hormon, lingkungan, kebiasaan skincare, pola makan, stres, dan kualitas tidur tetap dapat berperan dalam menentukan kondisi kulit seseorang.

Kesehatan usus menjadi salah satu bagian dari rangkaian faktor yang dapat memengaruhi bagaimana kulit merespons berbagai perubahan di dalam tubuh.

Ketika Perubahan di Usus Berkaitan dengan Peradangan Kulit

Hubungan gut-skin axis paling terlihat ketika membahas kondisi kulit yang melibatkan proses peradangan. Perubahan pada mikrobioma usus dapat memengaruhi respons imun dan sinyal inflamasi yang kemudian berkaitan dengan kondisi kulit tertentu.

Penelitian telah mengeksplorasi hubungan tersebut pada jerawat, rosacea, eksim, dan psoriasis, meski mekanismenya masih terus dipelajari. Perubahan mikrobioma serta peningkatan permeabilitas usus atau leaky gut telah dikaitkan dengan proses peradangan yang dapat berpengaruh pada kulit.

Hubungan tersebut tidak berarti gangguan pencernaan tertentu secara otomatis menyebabkan jerawat. Hal serupa berlaku pada sembelit.

Sembelit tidak secara langsung menyebabkan jerawat, meski keduanya dapat muncul bersamaan karena memiliki pemicu yang serupa. Dehidrasi, kurang serat, stres, kurang tidur, serta pola makan tinggi makanan olahan dapat memengaruhi kesehatan pencernaan sekaligus berkaitan dengan kondisi kulit.

Terpengaruh Pola Makan

Kesehatan mikrobioma dapat didukung melalui pola makan yang menyediakan beragam sumber serat. Buah, sayuran, kacang-kacangan, serta biji-bijian utuh mengandung serat yang dapat menjadi sumber makanan bagi bakteri baik di dalam usus.

Serat tertentu berfungsi sebagai prebiotik yang membantu mendukung pertumbuhan mikroorganisme yang bermanfaat. Makanan fermentasi seperti yoghurt, kefir, kimchi, dan sauerkraut menjadi sumber mikroorganisme hidup yang dapat mendukung keragaman mikrobioma.

Probiotik pun telah diteliti dalam kaitannya dengan kesehatan pencernaan dan kondisi kulit inflamasi, termasuk jerawat dan eksim. Pola makan bukan satu-satunya faktor yang perlu diperhatikan.

Kurang tidur, stres berkepanjangan, kurang bergerak, serta penggunaan antibiotik yang tidak diperlukan dapat memengaruhi lingkungan mikrobioma. Makanan tinggi gula rafinasi dan makanan olahan dapat mendorong perubahan bakteri usus, sementara stres dapat memengaruhi pergerakan saluran pencernaan dan mikrobioma.

Bukan Berarti Meninggalkan Skincare

Skincare yang sesuai tetap diperlukan untuk menangani masalah kulit, terutama ketika seseorang mengalami jerawat atau kondisi lain yang membutuhkan penanganan khusus. Perawatan jerawat yang telah terbukti efektif sebaiknya tetap dilanjutkan sembari memperbaiki kebiasaan yang mendukung kesehatan tubuh.

Probiotik tidak dapat diposisikan sebagai solusi tunggal untuk mendapatkan kulit cerah. Tidak ada waktu pasti mengenai kapan perubahan pada mikrobioma akan menghasilkan perubahan pada kulit karena respons setiap orang berbeda.

Kondisi kulit yang menetap, semakin parah, atau tidak membaik dengan perawatan sebaiknya diperiksakan kepada dokter kulit. Perubahan pola makan dapat menjadi bagian dari pendekatan kesehatan secara menyeluruh, tetapi tidak menggantikan diagnosis maupun pengobatan ketika kondisi kulit membutuhkan penanganan medis.