Mendaki Gunung Jadi Tren Gen Z, Kasus Pendaki Pemula Tersesat Makin Disorot

Sejumlah kasus Gen Z tersesat menyoroti pentingnya persiapan sebelum mendaki gunung.

Diterbitkan 28 September 2026, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Mendaki gunung kini semakin populer di kalangan Gen Z. Aktivitas ini tidak hanya dilakukan komunitas pencinta alam, tapi juga menjadi pilihan untuk mencari udara segar, melepas penat, sekaligus menikmati pengalaman di alam terbuka yang menarik untuk dibagikan di media sosial.

Melansir CNN, Senin, 21 September 2026, tren tersebut terlihat dari popularitas konten pendakian yang banyak menyasar pengguna muda. Pepper Steps, kreator konten alam berusia 27 tahun asal California, rutin membagikan pengalaman menjelajah alam, termasuk cara menyiapkan ransel dan menghadapi kondisi tak terduga.

Aktivitas yang awalnya menjadi hobi itu kini berkembang menjadi pekerjaan penuh waktu. Popularitas aktivitas luar ruang ini juga menghadirkan tantangan bagi tim penyelamat. Sejumlah pendaki muda membutuhkan bantuan karena tersesat, kehabisan tenaga, atau kesulitan menghadapi kondisi medan yang tidak sesuai perkiraan.

Data Mountain Rescue England and Wales mencatat pendaki berusia 18–24 tahun menyumbang 18 persen insiden penyelamatan pada 2025. Proporsi tersebut menjadi yang tertinggi sekaligus lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2019.

Fenomena serupa turut terlihat di Amerika Utara. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meningkatnya minat terhadap hiking perlu diikuti pemahaman mengenai karakter jalur, perubahan cuaca, perlengkapan, dan kemampuan fisik.

Persiapan juga menjadi semakin penting ketika pendaki memilih rute yang lebih panjang atau memiliki tingkat kesulitan tinggi. Bagi pendaki pemula, pengalaman menjajal alam terbuka memang menawarkan petualangan baru. Namun, mengenali batas kemampuan dan memahami risiko perjalanan menjadi bekal penting sebelum berangkat.

Anak Muda Mendominasi Kasus Penyelamatan

Di balik tren mendaki gunung yang semakin ramai, sejumlah kejadian menunjukkan risiko yang dapat dihadapi pendaki muda ketika persiapan belum memadai. Dalam kurun dua pekan pada Juli, beberapa pendaki di Inggris, Kanada, dan Amerika Serikat harus mendapat pertolongan setelah mengalami situasi berbahaya.

Di Lake District, Inggris, seorang remaja 16 tahun ditemukan dalam kondisi basah dan berlumpur setelah terjatuh di kawasan rawa. Dengan baterai ponsel yang hampir habis, ia memanfaatkan sisa daya untuk meminta bantuan.

Sementara itu, tiga remaja di British Columbia, Kanada, tersesat di hutan hingga mengalami dehidrasi dan salah satunya terluka. Mereka hanya mengandalkan beberapa lembar petunjuk Google Maps untuk melewati rute hampir 18 kilometer.

Kasus serupa terjadi di Colorado. Seorang remaja 15 tahun yang mendaki sendirian tergelincir sekitar 60 meter di atas salju saat berusaha mengambil ranselnya yang terjatuh.

Kurangnya Pengalaman

Ketertarikan anak muda terhadap alam tidak selalu diikuti pengalaman yang cukup untuk menghadapi kondisi di lapangan. Kesenjangan tersebut dapat membuat pendaki pemula lebih rentan ketika menghadapi medan dan situasi yang sulit diperkirakan.

Pemandu gunung Mike Trehearne mengatakan aplikasi navigasi tetap berguna selama tidak dijadikan satu-satunya acuan. Peta digital belum tentu dapat menggambarkan perubahan cuaca, kondisi jalur, karakter medan, atau membantu mengambil keputusan ketika keadaan berubah.

Media sosial turut memengaruhi cara pendakian dipersepsikan. Jalur yang menantang dapat terlihat lebih mudah melalui foto dan video singkat yang hanya menampilkan bagian tertentu dari perjalanan. Paparan konten berulang juga membuat aktivitas ekstrem terasa semakin biasa.

Menurut Trehearne, sebagian pendaki datang dengan tujuan mengabadikan perjalanan untuk media sosial. Perhatian terhadap konten berpotensi mengalihkan fokus dari kondisi sekitar, padahal situasi di gunung dapat berubah dengan cepat.

Bekal Penting untuk Pendaki Pemula

Minat mendaki gunung tidak perlu menjadi sesuatu yang dihindari. Ketertarikan terhadap alam justru dapat membuka kesempatan untuk mengenal lingkungan sekaligus menambah pengalaman. Hal terpenting adalah memastikan antusiasme tersebut diikuti persiapan yang memadai.

Sebelum mendaki, calon pendaki perlu mempelajari karakter jalur, mengecek prakiraan cuaca, membawa perlengkapan sesuai kebutuhan, dan menguasai navigasi dasar. Aplikasi digital dapat digunakan sebagai pendukung, tetapi tetap perlu disertai kemampuan membaca arah secara mandiri.

Pendaki pemula juga tidak harus langsung memilih jalur ekstrem. Rute dengan tingkat kesulitan yang sesuai kemampuan dapat menjadi langkah awal untuk membangun pengalaman. Seiring bertambahnya jam terbang, pendaki dapat belajar mengenali batas fisik dan menentukan kapan harus melanjutkan perjalanan atau kembali.

Mendaki gunung pada akhirnya bukan sekadar mencapai puncak atau menghasilkan foto untuk media sosial. Keselamatan perlu menjadi pertimbangan sejak tahap perencanaan hingga perjalanan berakhir.