Liputan6.com, Jakarta - Di tengah tantangan ekonomi global dan kenaikan biaya hidup, sebuah fenomena baru dalam pengelolaan keuangan pribadi muncul dan menarik perhatian, terutama di kalangan generasi muda. Dikenal sebagai "loud budgeting", tren ini menawarkan pendekatan yang kontras dengan konsep "quiet luxury" yang mengedepankan kemewahan tersembunyi. Loud budgeting justru mendorong individu untuk bersikap transparan dan vokal mengenai kondisi serta tujuan keuangan mereka.
Tren ini bukan sekadar gaya hidup, melainkan sebuah strategi yang diyakini dapat membawa dampak positif bagi kesehatan finansial dan mental. Intinya, "loud budgeting" adalah tren yang mendorong orang untuk terbuka dan vokal tentang tujuan keuangan mereka, menumbuhkan kenyamanan dalam mengatakan 'tidak' terhadap pengeluaran yang tidak perlu.
Dengan menganut prinsip keterbukaan ini, para penganutnya berharap dapat menormalisasi percakapan seputar uang dan menghilangkan stigma yang sering menyertainya. Melalui dialog yang jujur, individu dapat memperoleh kejelasan tentang kebiasaan pengeluaran mereka, sekaligus merasa lebih berdaya dalam setiap keputusan finansial yang diambil.
Advertisement
Mengenal Lebih Dekat 'Loud Budgeting' dan Asal Mulanya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3352863/original/093101500_1611030657-woman-making-wish-list-cyber-monday_23-2148675026.jpg)
Istilah "loud budgeting" pertama kali diperkenalkan oleh TikToker sekaligus komedian Lukas Battle pada akhir tahun 2023 atau awal 2024. Battle mendefinisikan tren ini sebagai kebalikan dari "quiet luxury", yakni sebuah pendekatan terhadap pengeluaran dan kehidupan sehari-hari yang melibatkan pengungkapan tujuan keuangan serta batasan pengeluaran kepada orang-orang di sekitar.
Pada dasarnya, "loud budgeting" adalah tren baru yang mendorong orang untuk secara terang-terangan dan transparan mendiskusikan keuangan pribadi. Pendekatan ini lebih menekankan pada pernyataan "saya tidak ingin mengeluarkan uang" dibandingkan "saya tidak punya cukup uang", sehingga menyoroti pilihan sadar dalam mengelola dana.
Advertisement
Manfaat Finansial dan Mental dari Keterbukaan Anggaran
Para ahli keuangan dan psikologi menyoroti beragam manfaat yang dapat diperoleh dari praktik "loud budgeting". Salah satunya adalah kemampuannya untuk mengurangi stres dan kecemasan finansial, sekaligus meningkatkan kesehatan mental. Praktik ini membantu memisahkan nilai diri seseorang dari kemampuan untuk membeli barang material atau pengalaman mahal, serta memungkinkan individu untuk berhenti memenuhi ekspektasi orang lain dengan mengorbankan kesejahteraan mereka sendiri.
Keterbukaan dalam menyatakan tujuan keuangan, seperti menabung untuk pembelian besar atau melunasi utang, juga dapat meningkatkan akuntabilitas. Julie O'Brien, SVP dan kepala ilmu perilaku di U.S. Bank, menyatakan bahwa "loud budgeting dapat membuat orang merasa tidak terlalu sendirian dan lebih berdaya," terutama di tengah tekanan media sosial yang kerap memicu keinginan untuk mengikuti gaya hidup orang lain. Senada dengan itu, Brian Ford, seorang penasihat manajemen kekayaan dari Northwestern Mutual, menambahkan bahwa "secara terbuka menyatakan upaya penganggaran Anda dan bersikap terbuka tentang berusaha untuk tidak menghabiskan terlalu banyak uang" adalah kunci.
Manfaat signifikan lainnya adalah memberdayakan individu untuk menolak undangan mahal tanpa rasa bersalah, sehingga mengatasi tekanan sosial dan Fear of Missing Out (FOMO). Dr. Patrali Chatterjee, Ketua dan Profesor di departemen Pemasaran di Montclair State University, menjelaskan bahwa tren ini "mendorong transparansi finansial dan membantu individu menghindari tekanan teman sebaya untuk berbelanja berlebihan." Zainab Williams, perencana keuangan bersertifikat dengan Elleverity Wealth Management, juga menyebutkan bahwa "loud budgeting adalah tentang berbicara tentang keuangan pribadi Anda dan memastikan bahwa Anda membela diri sendiri."
Praktik ini turut membangun dukungan komunitas di antara mereka yang memiliki tujuan keuangan serupa. Manajemen keuangan terasa lebih mudah didekati dan tidak mengisolasi ketika orang bertukar tips, berbagi tantangan, dan merayakan keberhasilan bersama. Brian Ford menekankan bahwa "memiliki dialog yang terbuka dan jujur dengan teman dan keluarga mungkin terdengar sulit, tetapi Anda tidak boleh merasa malu karena tetap berpegang pada tujuan keuangan Anda." Selain itu, "loud budgeting" membantu menghilangkan stigma seputar pembicaraan uang, mendorong dialog, dan dukungan timbal balik, sehingga meningkatkan literasi dan transparansi finansial.
Tren ini juga mendorong pengeluaran yang lebih disengaja, di mana individu menyelaraskan setiap pembelian dengan apa yang benar-benar penting, baik itu perjalanan, pelunasan utang, atau kepemilikan rumah. Adam Davis, VP Kesehatan dan Likuiditas Finansial di Capital One, menyatakan bahwa "hanya memiliki seperangkat nilai memungkinkan Anda kerangka kerja untuk mengevaluasi pengeluaran Anda dengan niat yang lebih baik."
Popularitas "loud budgeting" sangat tinggi di kalangan Generasi Z, yang menghadapi tekanan ekonomi seperti kenaikan biaya hidup dan inflasi. Sebuah studi dari Clarify Capital menemukan bahwa Gen Z yang menerapkan "loud budgeting" dapat menghemat sekitar $629 per bulan. Mereka mencapai ini dengan menetapkan tujuan yang jelas, melacak pengeluaran, dan membuat keputusan pengeluaran yang disengaja.
Â
Menavigasi Tantangan di Balik Tren 'Loud Budgeting'
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3244350/original/007667900_1600679511-pexels-karolina-grabowska-4475523.jpg)
Meskipun menawarkan banyak keuntungan, "loud budgeting" juga memiliki potensi tantangan yang perlu dipertimbangkan. Salah satunya adalah kerentanan sosial, di mana berbagi terlalu banyak informasi pribadi dapat menyebabkan ketidaknyamanan, saran yang tidak diminta, atau bahkan eksploitasi.
Selain itu, menolak undangan secara konsisten dapat menimbulkan hubungan yang tegang, karena bisa dianggap tidak fleksibel atau mengabaikan, yang berpotensi menyebabkan isolasi sosial. Ben Markley, seorang pendidik keuangan pribadi, memperingatkan bahwa "Anda mungkin menghemat beberapa dolar, tetapi Anda berisiko mengasingkan teman Anda dan menolak diri Anda sendiri koneksi pribadi yang sangat dibutuhkan."
Ada pula risiko performatif, di mana "loud budgeting" bisa lebih berfokus pada "menandakan" penghematan di media sosial daripada mencapai kemajuan finansial yang berarti. Studi Clarify Capital juga menyoroti bahwa 56% "loud budgeter" Gen Z melaporkan merasakan FOMO. Praktik ini tidak cocok untuk semua orang, karena membutuhkan tingkat kenyamanan tertentu dalam berbagi informasi keuangan dan kemampuan untuk menangani potensi penilaian atau tekanan sosial.
Advertisement
Strategi Efektif Menerapkan 'Loud Budgeting'
Untuk menerapkan "loud budgeting" secara efektif dalam kehidupan sehari-hari, para ahli menyarankan beberapa langkah praktis. Pertama, definisikan tujuan keuangan yang jelas, baik itu skala besar seperti pensiun atau tujuan kecil seperti menghadiri festival internasional. Kedua, buatlah anggaran dasar yang akan memandu setiap keputusan pengeluaran Anda.
Selanjutnya, bersikaplah jujur dan terbuka dalam mengomunikasikan batasan serta tujuan keuangan Anda kepada teman dan keluarga. Penting juga untuk membingkai pilihan Anda secara positif; alih-alih mengatakan "saya tidak mampu," katakanlah "saya menabung untuk tujuan besar" atau "saya memilih untuk mengalokasikan uang saya ke tempat lain."
Rencanakan aktivitas berbiaya rendah dan ambil inisiatif untuk mengusulkan kegiatan yang sesuai dengan anggaran Anda, seperti piknik atau makan malam di rumah. Manfaatkan alat penganggaran, baik aplikasi maupun spreadsheet, untuk melacak pengeluaran dan tujuan Anda. Terakhir, temukan mitra akuntabilitas; berbagi tujuan dengan seseorang dapat membantu Anda tetap termotivasi dan berkomitmen pada rencana keuangan.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331500/original/076683900_1787547059-cek_fakta_-_petugas_haji.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329037/original/095568800_1787217508-Screenshot_2026-08-20_160444.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316905/original/064384100_1785995980-cek_fakta_luhut.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309638/original/028473800_1785232963-cek_fakta_-_bansos_balita.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5255628/original/049369500_1750191119-two-women-out-city-going-shopping-spree.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5255623/original/083387500_1750189376-expressive-pretty-woman-posing.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4728632/original/071373600_1706465868-aleksandrs-karevs-9PZePvYSM4U-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3546287/original/014896100_1629449459-Warren.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9321853/original/084310500_1786506849-pexels-tima-miroshnichenko-6694866.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4088388/original/082748200_1657767457-pexels-ahsanjaya-8719573.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4281778/original/026398200_1672848072-closeup-shot-entrepreneur-working-from-home-his-personal-finances-savings.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3546286/original/004546200_1629449459-Warren_Buffet.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5111546/original/094274700_1738052316-1738044387934_apa-itu-impulsif.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9311076/original/067563800_1785387094-8NYGfOwvKlxUTjDY52ro5FS6yPZbZGJkJkeL4uWi.jpg)